Manunggal BBGRM di Kotopulai, Pengerasan Badan Jalan Prioritas

5
BERSEMANGAT: Warga Kelurahan Kotopulai bergotong royong mengerjakan program manunggal BBGRM 2021.(IST)

Program Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) 2021 di Kelurahan Kotopulai dilakukan dalam bentuk pengerasan badan jalan, yang bisa memperlancar mobilitas warga. Seperti apa?

PADA tahun 2021 ini masyarakat sangat antusias dan merespons baik pelaksanaan manunggal BBGRM yang dilaksanakan di Kelurahan Kotopulai. Program ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat guna meningkatkan akselerasi pembangunan dan menunjang hasil panen warga menuju sentra pemasaran.

Lurah Kotopulai, Nasrul mengatakan, dalam program manunggal BBGRM tahun ini difokuskan pekerjaannya dalam bentuk pengerasan badan jalan, sesuai dari rapat koordinasi pembangunan (rakorbang).

“Pengerasan badan jalan memang permintaan dari warga, karena jalan itu belum bisa dilalui oleh kendaraan roda 2 maupun kendaraan roda 4,” kata Nasrul kepada Padang Ekspres, Rabu (7/7).

Ia menjelaskan, pengerasan badan jalan berlokasi di Jalan Usaha Tani RT 03/RW 03, yang mana jalan tersebut juga sebagai akses penghubung antara Kelurahan Kotopulai dan Kelurahan Batipuhpanjang.

“Jadi warga meminta jalan itu untuk bisa dilakukan perkerasan. Maka pembuatannya dilakukan dengan panjang 315 meter dan lebar mencapai 3,5 meter,” sebutnya.

Nasrul menyebutkan, proses pengerasan dilakukan dengan cara penimbunan dengan pasir batu (sirtu). Karena bahan ini menjadi komponen utama dari lapisan perkerasan badan jalan.

“Dengan akses jalan yang ada saat ini yang sebelumnya belum bisa dilewati oleh kendaraan. Alhamdulillah saat ini sudah bisa kendaraan roda 2 dan roda 4 untuk lewat,” ungkapnya.

Jika dilihat potensinya, kata Nasrul, jalan yang sudah dilakukan perkerasan akan bisa memperlancar mobilitas warga, karena jalan ini juga membelah lahan sawah warga yang sangat luas.“Jadi dengan pengerasan badan jalan ini sangat membantu warga, terutama petani kita membawa hasil panennya untuk dibawa ke huller dan ketempat penampungan,” ujarnya.

Nasrul menyampaikan dalam kegiatan program manunggal BBGRM tersebut, Pemko Padang hanya menggelontorkan dana pancingan sebesar Rp 35 juta kepada Kelurahan Kotopulai. “Swadaya masyarakat yang dilakukan dalam pengerasan bada jalan sangat cukup tinggi, seperti sumbangsih uang, tenaga, konsumsi, sarana dan prasarana serta bantuan lainnya,” tandas Nasrul.

Di samping itu, kata Nasrul, selain dari program BBGRM 2021 di Kelurahan Kotopulai juga ada melakukan kegiatan program fasilitas lingkungan (fasling). “Program fasling ini dilakukan dalam bentuk pembuatan betonisasi jalan lingkungan di RT 03/RW 02 dengan panjang 75 meter, lebar 3 meter dan tebal 12 centimeter. Serta di RT 02/RW 04 dengan panjang 70 meter, lebar 3 meter dan tebal 12 cm,” jelasnya.

Baca Juga:  Bangun Workshop Alat Berat, BPVP Padang Gelar FGD Pertambangan

Untuk program fasling, sistemnya juga sama seperti program manunggal BBGRM. Stimulus yang diberikan Pemko Padang sebesar Rp 50 juta kepada Kelurahan Kotopulai.
“Sehingga masing-masing pengerjaan fasling itu Rp 25 juta. Jadi sistemnya sama dengan manunggal. Kita akan pancing Rp 25 juta lalu ditambah dengan swadaya masyarakat,” tuturnya.

Selanjutnya pembuatan infrastruktur dalam bentuk betonisasi jalan juga dilakukan di Kelurahan Kotopulai yang berlokasi di jalan Masjid Al-Hijriah RT 02/RW 01.
“Pembuatan infrastruktur itu dengan panjang mencapai 100 meter, lebar 3 meter dan tebal mencapai 12 cm yang bersumber dari dana kecamatan,” kata Nasrul.

Sementara itu, pembinaan kepada UMKM juga akan dilakukan di Kelurahan Kotopulai, dari berbagai macam jenis yang tersebar seperti bergerak di bidang pembuatan rakik maco (peyek ikan asin), kue mangkuk dan usaha jamur tiram.

“Kami akan terus meningkatkan ekonomi bagi UMKM yang ada di Kelurahan Kotopulai. Dalam hal ini telah dilakukannya pendampingan oleh Dinas Koperasi dan UMKM Kota Padang,” tuturnya.

Tak hanya itu, lanjut Nasrul, di bidang pariwisata untuk Kelurahan Kotopulai juga mempunyai potensi untuk dilakukan program prioritas. Karena terdapat hamparan sawah yang sangat luas. “Rencana kita juga ke depannya ingin mengembangkan pariwisata, dalam bentuk membuat pengembangan agrowisata hamparan sawah,” sebutnya.

Nasrul menyampaikan, di Kelurahan Kotopulai luas daerahnya mencapai 553 hektare dengan luas lahan sawah mencapai 193 hektare. “Sepertiga dari Kelurahan Kotopulai itu semuanya sawah, maka dari itu kita tetap berupaya mengembangkan pariwisata. Jika semua akses jalan sudah bagus maka akan kita bentuk kelompok sadar wisata (pokdarwis), kita kelola dan akan dilakukan studi banding dan studi tiru,” tandasnya.

Nasrul melanjutkan di Kelurahan Kotopulai melihat geografis wilayahnya ada dataran rendah, juga akan bisa dikembangkan potensi sungai dengan adanya Bendungan Niagara Kotopulai. “Bendungan Niagara Kotopulai ini sering disebut oleh warga ‘Niagara mini’ semacam bendungan ada pancuran air, sebanyak 11 buah pancuran,” jelasnya.

Ia berharap dengan berbagai aspek program yang telah dilakukan oleh Kelurahan Kotopulai saat ini untuk kedepannya akan ditingkatkan lagi agar mencapai hasil yang maksimal.
“Semoga apa yang telah dikerjakan ini akan bermanfaat bagi warga kami serta juga untuk sarana dan prasarana yang telah dibangun oleh pemerintah tersebut semestinya warga juga bisa menjaga dan merawat,” pungkasnya. (***)