Kualitas Udara di Padang makin Membaik

Sejak merebaknya virus korona (Covid-19) di Indonesia, khususnya Kota Padang dan diterapkan physical distancing oleh Pemko berdampak pada membaiknya kualitas udara di Kota Padang.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Padang, Mairizon kepada Padang Ekspres, Rabu (8/4) mengatakan, kualitas udara di Kota Padang sejak beberapa hari terakhir memang mengalami peningkatan kualitas jadi lebih baik.

Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti berkurangnya aktivitas masyarakat di luar dan mobilitas kendaraan bermotor sejak merebaknya Covid-19 di Kota Padang.

Jika dibandingkan dengan kualitas udara di Kota Padang sejak bulan Januari sampai April 2020, peningkatan kualitas udara sangat bisa dirasakan.

“Dari 1 Januari hingga 6 April 2020 terjadi tren penurunan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) PM10 yang artinya kualitas udara di Kota Padang untuk parameter PM10 semakin membaik,” ungkapnya.

Pantauan kualitas udara Kota Padang dilihat dari analisa DLH Kota Padang melalui data Air Quality Monitoring System (AQMS) 2020.

Berdasarkan dari data AQMS, tercatat rata-rata ISPU di Kota Padang berkisar antara 25 sampai 15 yang mana kategori tersebut berarti tingkat kualitas udara tidak memberikan efek bagi kesehatan manusia dan hewan atau bisa dikatakan baik.

Namun jika dibandingkan pada bulan Maret sampai minggu awal April tercatat tingkat ISPU di Kota Padang menurun pada angka rata-rata 3 sampai 10 yang artinya kualitas udara di Kota Padang sangat baik,” ungkapnya.

Lebih lanjut Mairizon menyampaikan, kategori kualitas udara pada suatu daerah dibagi 5 kategori yaitu baik, sedang, tidak sehat, sangat tidak sehat, dan berbahaya. Masing-masing kategori memiliki rentang angka yang akan menunjukkan kualitas udara pada suatu daerah.

Rentang baik berkisar dari 0 sampai 50 yang mana artinya tingkat kualitas udara tidak memberikan efek bagi kesehatan manusia atau hewan serta tidak berpengaruh pada tumbuhan, bangunan, ataupun nilai estetika.

Kemudian kategori sedang berkisar pada angka 51 sampai 100 yang artinya tingkat kualitas udara yang tidak berpengaruh pada kesehatan manusia dan hewan tetapi berpengaruh terhadap tumbuhan yang sensitif dan nilai estetika.

Kemudian kategori tidak sehat berkisar di angka 101 sampai 199 artinya tingkat kualitas udara bersifat merugikan manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif atau bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan atau nilai estetika.

“Kategori sangat tidak sehat berkisar pada angka 200 sampai 299 yang berarti tingkat kualitas udara dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar,” jelasnya.

Untuk kategori berbahaya berkisar antara 300 ke atas, artinya tingkat kualitas udara berbahaya yang secara umum dapat merugikan kesehatan yang serius pada populasi,” ungkapnya. (*)