Sisi Positif Covid-19 bagi Dunia Pendidikan

Kecemasan, Ketakutan, dan Kekhawatiran! Itulah yang menghantui pikiran manusia hampir di seluruh dunia saat ini. Bukan hanya kita yang tinggal di Kota Padang, Sumatera Barat dan Indonesia saja, namun hampir sebagian besar umat manusia takut cemas khawatir dengan kehadiran virus korona yang mematikan secara sadis dan dahsyat itu.

Kita takut tertular. Orang orang takut mati mendadak. Oleh karena itu, berbagai upaya dilakukan baik oleh orang per orang, lembaga, kelompok, daerah, kota, distrik, negara maupun lembaga lembaga dunia internasional. Wabah virus korona ini menimbulkan banyak masalah, baik dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi, maupun keamanan. Banyak sekali sisi negatif, kerugian, dan tekanan mental dari peristiwa yang menurut para ahli terjadi sekali seratus tahun ini. Namun, di balik wabah yang menakutkan itu, ternyata juga terdapat sisi baiknya.

Nah, tulisan ini khusus membahas sisi positif dari wabah virus korona ini, dan lebih spesifik lagi dalam dunia pendidikan. Ini dimaksudkan agar kita tidak hanyut dengan kecemasan, kesedihan dan penderitaan. Biar kita memandang sesuatu dari segi positif dan penyemangat kita hidup lebih bermakna. Banyak sisi positif yang dapat kita ambil hikmahnya di dunia pendidikan, antara lain; mendidik kita hidup sehat, menyadari kesalahan, berhemat, peduli sosial, menambah ilmu tentang ilmu teknologi dunia digital dan aplikasi, mempererat kekeluargaan, orangtua sadar betapa pentingnya fungsi guru di sekolah, menyadarkan kita bahwa pendidikan itu tanggung jawab bersama, belajar menghadapi kesulitan-kesulitan, dan banyak lagi sisi positif lainnya.

Mendidik Hidup Bersih

Rumah yang biasanya ditinggal dan tidak terawat membuat kita membersihkan dan merawatnya secara telaten. Pakaian kita yang biasa abai membuat kita rajin mencuci setiap hari. Badan dan tubuh kita yang biasa belepotan dengan kotoran membuat kita rajin membersihkannya setiap waktu. Pekarangan dan lingkungan tempat kita tinggal yang biasa sembraut jadi kita dan nemelilirik untuk merawat dan memeliharanya. Jadi ancaman virus korona ini memaksa kesadaran kita untuk hidup bersih dan sehat.

Evaluasi Diri

Dengan ancaman kematian oleh virus membuat kita sadar akan kesalahan yang pernah kita perbuat baik kita sebagai guru, sebagai pengelola pendidikan, maupun sebagai siswa. Sebagai guru bisa jadi selama ini kita banyak mengabaikan tugas. Bisa jadi kurang perhatian terhadap siswa, tidak menjalankan kewajiban sesuai aturan, menganggap kita paling hebat mengelola kelas, jadi guru hebat dan lain sebagainya. Nah, dengan musibah ini guru sadar punya keterbatasan dan bisa menyiapkan diri ke depan lebih profesional bekerja dan bertanggung jawab terhadap tugas.

Sebagai pengelola pendidikan, apakah pegawai fungsional, pejabat struktural, dan berbagai tugas pendidikan lainnya bisa kita semakin sadar bahwa jabatan dan fungsi kita ada batasnya. Ada kekuatan di luar diri kita yang lebih berkuasa. Tidak semua yang kita rencanakan itu bisa terlaksana. Tidak membuat kita beranggapan kita lah yang lebih penting. Sebagai seorang siswa akan menyadari bahwa belajar bukan hanya dalam kelas langsung dengan guru tetapi juga bisa dari jarak jauh dengan menggunakan IT aplikasi dan digital. Kemandirian belajar lebih dirasakan oleh siswa dengan belajar dari rumah. Di samping itu siswa-siswa menjadi lebih dekat dengan saudaranya dan orang tuanya yang selama ini mungkin jarang berkomunikasi di rumah.

Mengajarkan Berhemat dan Peduli Sosial

Dengan tinggal di rumah membuat guru dan siswa tidak perlu transportasi. Dengan sendirinya dana yang dimaksud bisa dialihkan untuk keperluan lain seperti menabung untuk melanjutkan sekolah siswa atau anak kita atau untuk kebutuhan lain yang lebih urgen.

Kepedulian sosial dengan keluarga dan dunsanak bisa jadi meningkatkan. Guru bisa membantu tetangga yang kesulitan, berinteraksi, dan saling bekerjasama. Selama bertugas sebelum ini, hanya bekerja dan banyak di sekolah, maka di masa diam di rumah ini, bisa saling berbagi lebih maksimal dengan tetangga dan kerabat. Dengan sendirinya, pendidikan tidak hanya dalam kelas tetapi prosesnya juga dapat dirasakan oleh masyarakat setempat dimana guru berada atau tinggal.

Mempermahir IT Aplikasi, Digital Guru dan Siswa

Wabah Covid-19 membuat Kemendikbud merumahkan siswa. Tiada jalan lain yang lebih efektif dengan menggunakan strategi belajar jarak jauh (UBBJ). Dengan demikian, memaksa siswa dan guru untuk memberdayakan HP Androidnya untuk menguasai ilmu digital dan aplikasi. Secara otomatis siswa menggunakan daring. Guru harus bisa untuk berkomunikasi jarak jauh. Tanpa kita sadari dunia pendidikan kita bertambah luas cakupan medianya. Menjadikan kegiatan belajar mengajar (KBM) tidak harus bertatap muka, tetapi bisa dari mana saja, dan saat ini, tentu belajar dari rumah.

Ternyata gedung megah, fasilitas lengkap dan elite buka satu satunya daya dukung untuk belajar yang baik, tapi banyak komponen lain dan sarpras lain yang patut diperhitungkan. Dengan cobaan Tuhan berupa virus korona ini, dunia pendidikan kita tidak akan mundur, tapi akan lebih maju jika kita bisa menyikapi secara positif. Kepala dinas bisa memerintahkan bawahannya untuk menggerakkan staf dan pengawasnya untuk mengelola sekolah dari jarak jauh.

Pengawas bisa membina Kepala sekolah dan guru guru nya dari rumah atau dari kantor. Kepala sekolah bisa rapat dengan guru serta pegawainya lewat komprensi pers lewat aplikasi dan digital. Dan guru pun bisa berinteraksi belajar mengajar dengan siswa lewat kecanggihan dunia aplikasi dan digital ini. Dan yang tak bisa dipungkiri juga, orang tua, komite, dan pihak terkait lainnya, juga bisa berkomunikasi dengan medsos, aplikasi, dan digital.

Mempererat Rasa Kekeluargaan

Guru kepsek dan pengawas biasanya pergi dari rumah pagi sebelum terbit matahari dan pulang sebelum matahari terbenam dan kadang pulang setelah matahari terbenam. Dengan demikian, hubungan suami-istri anak jadi renggang. Dengan dirumahkan siswa dan guru belajar mengajar membuat mereka lebih intens, berkomunikasi lebih dekat. Anak bisa berlatih dan bekerja rumah tangga seperti; mencuci pakaian, memasak, menyapu, cuci piring, membersihkan halaman, dan menanam bunga. Kegiatan terakhir ini sesuatu yang selama ini mulai ditinggalkan. Nah, dengan banyaknya waktu di rumah membuat siswa harus membantu orang tuanya. Otomotis dengan lebih banyak waktu berkumpul dengan keluarga mempererat tali kekeluargaan dan sillaturrahim antara suami-istri-anak di keluarga pendidik dan anak didik.

Orangtua Sadar Tugas Mendidik Berat

Selama ini, orang tua sering mengalahkan guru, menghakimi guru, dan memandang rendah tugas seorang guru. Nah, dengan musibah ini membuat siswa belajar di rumah, peran orang tua sangat dituntut. Ketika inilah, orang tua menyadari betapa susahnya jadi guru. Susahnya menyuruh mengerjakan latihan, susahnya mengawasi pekerjaannya, susahnya memeriksa hasil tugas siswa. Orangtua mulai menyadari bahwa jadi guru harus sabar, telaten, dan perlu ilmu yang banyak. Dari uraian di atas dapat disimpulkan, antara lain, hal penting yang positif dampak dari wabah virus korona ini dalam dunia pendidikan; mendidik hidup bersih dan sehat, belajar dari kesalahan, membuat kita mengevaluasi diri, melatih kita berhemat dan punya peduli sosial, mempermahir Ilmu dan keterampilan Teknologi, mempererat rasa kekeluargaan, dan menyadarkan orang tua akan betapa beratnya tugas guru di sekolah mendidik anak anak mereka, perlu kerjasama semua pihak untuk meningkatkan kualitas pendidikan dimasa datang. Semoga tulisan ini bermanfaat. Allahu Akbar! Allah sumber semua kebaikan. (*)

*Yunardi Sikumbang – Pengawas Senior Dinas Pendidikan Kota Padang