Maksimalkan Sosialisasi di Masa Transisi

19

Penerapan masa transisi pasca- Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) jilid III diharapkan dapat menumbuhkan kembali perekonomian masyarakat yang sempat ambruk. Di era new normal nanti, dibukanya kembali pusat-pusat ekonomi harus dibarengi dengan penerapan prokol kesehatan agar tidak terjadi gelombang kedua Covid-19.

Pengamat Kebijakan Publik, Eka Vidia kepada Padang Ekspres mengatakan, secara umum kebijakan masa transisi yang diambil oleh Pemko Padang sangat baik. Namun menurutnya, apakah masa transisi yang hanya berlangsung selama beberapa hari bisa menjamin masyarakat bisa langsung menerapkan protokol kesehatan yang disosialisasikan oleh Pemko Padang selama masa transisi menuju new normal tersebut.

Ia menambahkan, mengubah perilaku dan kebiasaan orang ke dalam tatanan baru tersebut tidak bisa hanya dilakukan dalam sosialisasi selama beberapa hari saja. Karena menurutnya, mengubah atau mengajak masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan itu berhubungan dengan kebudayaan.

“Jadi apakah dengan sosialisasi masa transisi ini masyarakat bisa langsung patuh menjalankan protokol kesehatan seperti cuci tangan, pakai masker, dan menerapkan jaga jarak atau physical distancing,” ungkapnya.

Sementara di sisi ekonomi pastinya penerapan masa transisi akan memberikan dampak positif terhadap sektor perekonomian. Namun pastinya, Eka menyebutkan, penerapan masa transisi dalam sektor perekonomian harus tetap memperhatikan protokol kesehatan di tiap-tiap usaha yang berhubungan dengan sektor perekonomian.

“Contohnya di rumah-rumah makan harus menjaga physical distancing antara para pengunjung, menyediakan wastafel, dan sebaiknya pembeli dianjurkan untuk membungkus makanan dan dibawa pulang,” ujarnya.

Mulai Bergeliat Lagi
Sementara itu, di masa transisi, perdagangan di Pasar Raya Padang mulai bergeliat lagi.
Para pedagang mengaku aktivitas perdagangan di masa transisi ada sedikit kelonggaran bagi masyarakat namun daya beli belum pulih.

“Biasanya pagi hari sekitar pukul 07.00 sampai pukul 12.00 siang, warga ramai berkunjung ke Pasar Raya untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Namun sampai pukul 14.00 ini, kondisi pasar masih sepi,” ujar salah satu pedagang sembako Toni SR, 34, di Pasar Raya Padang, Selasa (9/6).

Dia mengungkapkan, akibat pandemi Covid-19 sampai saat ini terjadi penurunan pendapatan yang sangat siginifikan lebih dari 50 persen. Kondisi tersebut diperparah kondisi Pasar Raya Padang yang menjadi klaster terbanyak penularan Covid-19 di Kota Padang bahkan Provinsi Sumbar, sehingga banyak masyarakat yang tidak mau mengunjungi Pasar Raya Padang sampai saat ini.

Padahal saat ini harga beberapa kebutuhan pokok mengalami tren penurunan dibanding sebelumnya. Seperti cabai merah Rp 18 ribu per kilogram dari sebelumnya antara Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu per kilogram.

Hal yang sama juga terjadi pada harga bawang merah. Saat ini bawang merah dijual Rp 47 ribu per kilogram sebelumnya Rp 50 ribu per kilogram. Dia berharap kondisi perekonomian di Pasar Raya Padang kembali menggeliat sehingga para pedagang bisa kembali mendapatkan pendapatan yang semestinya.

“Mudah-mudahan masyarakat mau kembali membeli sembako ke Pasar Raya. Kami para pedagang tetap menjalankan protokol kesehatan dalam aktivitas jual beli,” ungkapnya.

Terpisah, salah satu penjual minuman di kawasan GOR H. Agus Salim Padang, Syafrudin, juga mengalami kondisi serupa dengan para pedagang yang berada di Pasar Raya Padang.

“Sebelum pandemi Covid-19, hampir setiap saat orang datang membeli jualan saya, kini terasa lengang,” ujarnya yang berjualan dari pukul 10.00 sampai 17.00. (*)