Akulturasi Budaya Membuat Kebiasaan Baru yang Menguatkan

Seorang petugas sedang membersihkan Kelenteng See Hin Kiong dua hari jelang perayaan Tahun Baru Imlek 2572 di kawasan Kota Tua, Padang, kemarin (10/2). (IST)

Akulturasi budaya Minang dan Tionghoa di Sumbar begitu terasa beberapa dekade belakangan. Bahkan, etnis Tionghoa dan etnis lainnya sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam derap pembangunan Sumbar. Nyaris, tak pernah terlihat munculnya pertikaian melibatkan kedua etnis ini. Termasuk, setiap kali perayaan hari-hari besar etnis Tionghoa seperti perayaan tahun baru Imlek 2572 yang jatuh pada tanggal 12 Februari 2021 besok. Bagaimana hal ini terjadi?

Lihatlah Festival Bakcang dan Lamang Baluo di Padang, medio Juni 2019 lalu. Festival yang digelar di kawasan Kota Tua, Jalan Batang Arau, Padang ini, berhasil memadukan budaya kedua etnis ini. Tak hanya mampu menyita perhatian banyak kalangan, juga memecahkan Museum Rekor Indonesia (MURI).

Waktu itu, sebanyak 10 ribu bakcang dipamerkan di atas gerobak hias berkepala naga.
Lalu, 10 ribu lagi lamang baluo berada di atas gerobak hias berkepala kerbau. Kedua makanan tersebut dibagikan kepada wisatawan yang datang. Dua kepala binatang itu secara budaya terkoneksi dengan etnis Tionghoa dan Minangkabau.

Bakcang atau bacang adalah penganan tradisional masyarakat Tionghoa. Kata ’bakcang’ berasal dari dialek Hokkian yang lazim dibahasakan di antara suku Tionghoa di Indonesia. Sedangkan lamang baluo adalah makanan klasik Minangkabau yang biasanya dibawa ketika hendak mengunjungi rumah mertua.

Raseno Arya, salah seorang anggota Tim Pelaksana Calendar of Event (CoE) Kementerian Pariwisata (Kemenpar) waktu itu menyebutkan, festival kuliner ini sebagai upaya memadukan dua budaya berbeda dalam satu wadah, pertama kalinya digelar di Indonesia. ”Selain mencatatkan rekor MURI, festival Ini diharapkan bisa menjadi contoh keberagaman dalam kerukunan dan menjadi pertama di Indonesia,” ucapnya.

Festival Bakcang dan Lamang Baluo memang bukanlah satu-satunya bagaimana terjalinnya harmoni yang unik kedua etnis ini. Begitu pula, Festival Perahu Naga Internasional yang juga digelah di Padang. Bukan hanya sekali, namun sudah belasan kali. Festival yang menghadirkan peserta dari sejumlah negara itu, mampu menghibur banyak kalangan. Belum lagi, perpaduan tarian tradisi Minangkabau silat dan wushu, pentas musik etnis, barongsai naga, dan dan lainnya.

Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah dalam salah satu kesempatan menyebutkan, akulturasi budaya Minang dan Tionghoa di Sumbar, khususnya Padang memang terjalin kuat. Masyarakat Tionghoa dan etnis lainnya sudah menjadi bagian dari warga Padang. Dan ia pun memastikan, akan memberikan tempat bagi seluruh warga tidak melihat suku dan agama, selagi warga Padang akan diberi pelayanan terbaik.

Tokoh Tionghoa Kota Padang, Albert Indra Lukman kepada Padang Ekspres, kemarin (10/2) mengatakan, etnis Tionghoa sudah tinggal di Padang berbarengan dengan etnis lainnya dalam waktu lama dengan damai dan aman. Bahkan, menurut dia, masyarakat Tionghoa lebih senang dipanggil warga Padang karena kehidupan mereka sehari-hari dihabiskan sepenuhnya di Kota Padang tempat mereka tinggal.

”Kami bukan etnis eksklusif, kami ini warga Kota Padang. Kami selalu berhubungan baik dengan berbagai etnis lain, seperti Minangkabau, Nias, Batak, dan India sejak waktu lama,” jelasnya. Albert yang juga anggota DPRD Sumbar itu mengungkapkan, banyaknya konflik etnis yang terjadi di beberapa daerah di luar Sumbar, sepenuhnya tidak berimbas terhadap kerukunan etnis di Sumbar khususnya Padang.

Soal perayaan Tahun Baru Imlek 2572 tahun 2021 ini, diakui Albert, berbeda dengan perayaan Imlek pada tahun-tahun sebelumnya. Hal itu disebabkan karena masih tingginya kasus positif Covid-19 di Sumbar.

”Ya, kami sudah pasti mengikuti instruksi dari pemerintah untuk tidak melakukan aktivitas yang menimbulkan kerumunan untuk mencegah penyebaran virus Covid-19. Untuk itu, perayaan seperti pertunjukan dan penampilan ditiadakan terlebih dahulu,” ujarnya. Biarpun tidak ada pertunjukan atau atraksi pada perayaan Imlek tahun ini, namun sebenarnya tidak mengurangi nilai dari tahun baru itu sendiri. Di mana, hakikat dari Imlek yakni bagaimana bersyukur kepada sang pencipta.

Pada Imlek tahun ini, Albert berharap agar Indonesia dan terutama Sumbar bisa semakin lebih baik. Serta, pandemi Covid-19 bisa berakhir secepatnya. ”Mudah-mudahan kehidupan kita bisa kembali normal, sehingga aktivitas yang sempat dibatasi selama pandemi Covid-19 bisa dilakukan lagi untuk meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujarnya.

Tokoh Tionghoa lainnya, Iswanto Kwara mengatakan, selama ini hubungan antara etnis Tionghoa dan etnis lainnya di Kota Padang berjalan harmonis dan damai. Bahkan, satu sama lain bisa bekerja sama untuk kepentingan Kota Padang. Bahkan keharmonisan yang telah dibangun sejak lama itu, kemudian menghasilkan kebiasaan baru yang beradaptasi dengan lingkungan di mana mereka tinggal dan hidup. ”Ya karena hubungan sangat harmonis, jadi selama ini tidak ada permasalahan. Makanya ini yang harus dipertahankan dan ditingkatkan lagi,” ungkapnya.

Humas Kelenteng See Hin Kiong, Indra Lie kepada Padang Ekspres mengatakan, pihaknya telah melakukan beberapa persiapan untuk menyambut tahun baru Imlek 2572 ini. Di antaranya, pembersihan altar dan patung-patung dewa dan dewi di dalam kelenteng.

Nantinya, perayaan Imlek berbeda dengan tahun sebelumnya. Atraksi atau penampilan yang biasanya ada pada malam pergantian tahun baru, tahun ini tidak ada karena pandemi Covid-19. ”Jadi yang ke kelenteng itu hanya umat yang sembahyang, sementara untuk pengunjung tidak diperbolehkan dulu,” ujar Indra.

Baca Juga:  Andre Rosiade Bagikan Ratusan Sembako di Padang Selatan

Kelenteng See Hin Kiong juga tidak dihiasi dengan dekorasi atau pernak-pernik Imlek, seperti lampion dan booth foto bagi para pengunjung kelenteng. Aktivitas ibadah sembahyang sendiri dimulai pukul 22.00 sampai 01.00. Sembahyang sendiri tidak dilakukan secara serentak, tapi bergelombang sehingga tidak ada kerumunan terjadi. ”Di samping itu, penerapan protokol kesehatan (prokes) Covid-19, seperti penggunaan masker, pengecekan suhu tubuh, dan penyediaan wastafel, tetap dilaksanakan bagi setiap umat yang ingin sembahyang,” tukasnya.

Dalam buku ”Orang Padang Tionghoa–Dima Bumi Dipijak, Di Sinan Langik Dijunjuang” yang ditulis Riniwaty Makmur yang diterbitkan Kompas (2018) terungkap, masyarakat Tionghoa di Padang mempunyai kekhasan dalam konstruksi kehidupan sosial mereka dibandingkan dengan di tempat lain.

Setelah ratusan tahun hidup di Kota Padang, mereka telah beradaptasi dan membentuk sistem kehidupan dan lingkungan yang unik. Ada dua kongsi yang menjadi pilar masyarakat Tionghoa—kongsi gedang dan kongsi kecik, kelenteng sebagai pengikat moral dan penjaga peradaban, serta interaksi yang erat dengan masyarakat Minangkabau berdasarkan kesamaan bahasa.

”Sebagai hasil dari proses adaptasi itu, kebudayaan mereka kini tampil dengan ciri campuran Tionghoa dan Minangkabau atau mengalami hibriditas kebudayaan,” tulis Riniwaty Makmur dalam buku itu seperti dikutip dari Beritasatu.com.

Buku yang berawal dari penelitian Program Pascasarjana Doktor Fakultas Komunikasi, Universitas Padjajaran, Bandung, ditulis dengan bahasa yang komunikatif oleh Riniwaty Makmur yang memiliki nama Tionghoa Mak Yie Nie ini, menggambarkan bagaimana masyarakat Tionghoa bisa serta-merta diterima dengan baik oleh masyarakat etnis Minangkabau.

Rayakan Imlek Virtual
Di Bukittinggi, dua hari menjelang tahun baru Imlek 2572, mayoritas etnis Tionghoa di Kota Bukittinggi memilih untuk tidak melakukan perayaan secara berlebihan. Tidak ada dekorasi yang menghiasi kawasan Kampung China, imbauan untuk tidak saling berkunjung juga disebar.

”Kami keturunan Tionghoa yang beragama nasrani sudah mengumumkan di gereja tidak akan menyambut tamu atau menerima kunjungan, biasanya guru-guru banyak yang datang, karena itu diumumkan lewat berbagai media demi menjaga kondusivitas di tengah pandemi Covid-19,” ujar Humas Himpunan Tjinta Teman (HTT) Cabang Bukittinggi, Antonius Suwanandi Leo, Rabu (10/2).

Perayaan Imlek tahun ini, kata pria yang akrab disapa Pak Wawa itu, juga tidak terlalu jauh berbeda dengan kondisi di Bukittinggi tahun-tahun sebelumnya. Imlek di Bukittinggi tidak terlalu semarak seperti Padang dan kota besar lainnya. Biasanya, selama 15 hari perayaan Imlek para anggota keluarga hanya saling berkunjung dan memberi angpao.

Tidak ada penampilan atraksi dan festival di tengah kota. Juga, tidak ada keramaian yang ditampilkan. ”Bisanya hanya ada beberapa orang kawula muda yang menghias tempat perkumpulan dengan dekorasi, namun, tahun ini hal itu ditiadakan,” katanya.

Tradisi sembahyang di HTT sehari menjelang Imlek dan hari H, diprediksi Antonius juga tidak akan diikuti oleh banyak orang. Sebab, katanya secara nasional pengurus Ikatan Kelurga Tionghoa Indonesia sudah mengeluarkan edaran untuk tidak berkerumun.

”Saya sendiri akan ikut video virtual secara nasional dengan keluarga untuk saling merayakan imlek. Secara online, nanti gabung juga dengan keluarga di Padang dan daerah lain. Ini agar tidak ada yang berkerumun dan mengurangi pertemuan tatap muka,” jelas Ketua RW 02 Kelurahan Benteng Pasar Atas yang juga satu-satunya Ketua RW beretnis Tionghoa itu.

Sekadar diketahui, jumlah penduduk Tionghoa yang menetap di Kota Bukittinggi terus mengalami penyusutan. Dari sekitar 200 orang pada tahun 2016 silam, kini jumlahnya hampir tersisa separuh. ”Kalau ditotal semua mungkin hanya sekitar 100 orang saja. Generasi muda yang sudah menamatkan pendidikan umumnya pergi merantau ke Pulau Jawa. Yang muda tersisa hanya satu atau dua orang penerus usaha menjaga toko,” jelas Antonius.

Hal senada disampaikan Sekretaris Himpunan Bersatu Teguh (HBT) Cabang Bukittinggi, Jhony Aguslim. ”Biasa tiap tahun kami ada kegiatan, tapi karena ada imbauan dari pemerintah, kami ikuti arahan dari pemerintah,” jelasnya. ”Biasa kalau menjelang Imlek, khususnya di HBT pusat sudah ada bazaar. Untuk tahun ini, HBT Padang mengadakan acara donor darah, namun di Bukittinggi tidak ada sama sekali,” imbuhnya.

Guna memastikan situasi perayaan Imlek kondusif, Dinas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bukittinggi melakukan koordinasi langsung dengan tokoh-tokoh Tionghoa setempat. Kepala Dinas Satpol PP Bukittinggi Aldiasnur bersama Kabid Trantibum Muspida mengupayakan bentuk pencegahan.

”Kami sudah datangi langsung dan sampaikan arahan pimpinan. Kota Bukittinggi masuk zona oranye, karena itu masih sangat rawan adanya penularan Covid-19. Alhamdulillah respons dari tokoh-tokoh Tionghoa di Bukittinggi juga sepakat dengan pemerintah. Tahun ini, imlek dirayakan dengan sederhana tanpa kerumunan,” ujar Muspida. (a/mg4/mg7/ryp)

Previous articleKodim 0319/Mentawai Berupaya Maksimal Tuntaskan Target Pra TMMD
Next articleSaling Menghormati dan Mengapresiasi