Saling Menghormati dan Mengapresiasi

31
Ilustrasi kemeriahan Imlek. (JawaPos.com)

Hubungan antar-etnis Tionghoa dengan Minang sudah terjalin sangat erat sejak lama. Makanya, keduanya saling menghormati satu sama lainnya. Bahkan, mereka sangat menghormati dan mengapresiasi kebudayaan Minang.

”Tutur bahasa keseharian mereka sudah hampir mirip, dan bahkan mereka sudah kehilangan bahasa induk sendiri, serta cenderung memakai bahasa Minang,” kata Budayawan dan Seniman Minangkabau, Edy Utama kepada Padang Ekspres di Padang, kemarin (10/2).

Orang Tionghoa, tambah dia, mampu menyerap kebudayaan dan nilai-nilai Minangkabau yang baik dari aspek kebahasaan maupun tata cara mereka hidup. ”Orang Minang pun terutama kebudayaan Minang, sebetulnya juga banyak menyerap aspek-aspek dan unsur-unsur kebudayaan Tionghoa sendiri,” imbuhnya.

Misalnya, dilihat dari tata cara berpakaian perkawinan seperti warna dan motifnya sangat dipengaruhi oleh kebudayaan dari Tionghoa sendiri. ”Mereka sudah saling berbagi dan menyerap satu sama lain, baik itu dari Tionghoa maupun Minangkabau,” jelasnya.

Begitu juga perpaduan kegiatan seni budaya. Salah satu yang sudah dicoba, pertemuan antarberbagai kegiatan ekspresi budaya. Misalnya, Padang Multikultural Festival (Pamfest) yang dikelola Himpunan Tjinta Teman (HTT). Kegiatan ini kolaborasi musik tradisional dan etnis. Dengan mengajak unsur etnis atau kelompok etnik di Sumbar untuk saling berbagi dari karya-karya artistik. Sehingga, masing-masing etnik bisa memotivasi, memahami dan mempelajari.

”Jadi, akulturasi dua etnis ini tidak hanya pertemuan formal atau rapat saja. Justru, pertemuannya itu lebih kepada aktivitas langsung di masing-masing tradisi budaya yang dimiliki,” katanya.

Namun dia berpendapat, tingkat interaksi kedua etnis masih minimal dan masih diperlukan sebuah iven atau pertemuan yang lebih berkelanjutan, sehingga akan memunculkan kesepahaman yang lebih dalam. Bukan hanya dengan etnis Tionghoa dengan Minang saja, tetapi berbagai suku bangsa dan etnik di Sumbar, bahkan terkhusus di Padang harus mempunyai interaksi sosial lebih berkelanjutan,” tuturnya. Harapannya, masing-masing etnis bisa saling berbagi energi positif untuk kepentingan kehidupan masyarakat secara keseluruhan.

Sejarawan Universitas Andalas, Dr Anatona Gulo menyebutkan, keberagaman etnik di Kota Padang sudah berlangsung beratus-ratus tahun lamanya. Etnis Tionghoa jumlahnya cukup banyak, miliaran kalau dihitung sampai sekarang dan itu sudah dari dahulu. Beratus tahun etnis Tionghoa pergi merantau keluar dari negara Tiongkok, sehingga dipopulerkan menjadi Tionghoa perantauan.

”Orang Tionghoa itu ada di mana-mana terbanyak ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia terkhusus Sumbar dan Kota Padang. Jadi, mereka ke sini untuk merantau untuk mengubah kehidupan lebih baik,” kata Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Budaya Unand ini.

Ada kekhasan orang Tionghoa yang pergi keluar negeri itu mayoritas menjadi pedagang. Kalaupun ada yang bekerja di sektor perkebunan ataupun pertambangan itu hanya satu generasi saja. ”Di generasi berikutnya, mereka tidak boleh lagi menjadi buruh dan kuli tapi harus menjadi pedagang, pelan-pelan menjual kebutuhan pokok,” ungkapnya.

Baca Juga:  Pengurus Masjid Quba Pauh, Minta Andre Rosiade Bangun Kubah Masjid

Di Padang juga demikian, dalam konteks sejarah mereka ikut berdagang pada masa VOC pada abad ke-17. Ketika VOC sudah datang ke Padang, mereka mengikutkan orang Tionghoa. Mereka dijadikan pedagang perantara karena memiliki keahlian di bidang itu. ”Karena punya jiwa dagang dan diberikan kesempatan oleh pemerintah secara politik, tentu perdagangan mereka berkembang,” jelas Anatona.

Dengan ekonomi dipegang orang Tionghoa sementara penduduk Indonesia masih dijajah, orang Tionghoa sudah menikmati keuntungan pada bidang ekonomi. Jadi, perdagangan mereka tidak lagi di skala lokal akan tetapi lintas negara. ”Jadi produk-produk Tiongkok itu dikirim ke Asia Tenggara memberikan peluang-peluang bagi orang Tionghoa berdagang ke sana. Akhirnya, mereka menguasai wilayah-wilayah seperti Semenanjung Malaysia dan Singapura. Dan itu memberikan dampak ke Sumatera,” sebutnya.

Jadi, jaringan mereka sudah internasional dan produk-produk yang ada di luar negeri, terutama dari Tiongkok dan negara lain, diputar atau diperdagangkan ke wilayah Asia Tenggara termasuk Padang. Makanya kini komoditas apapun bentuknya mulai dari barang dan jasa, jatuhnya ke tangan etnis Tionghoa, karena mereka pemegang modal. Jadi, sudah menjadi ketergantungan sampai saat ini karena mereka sudah berakar di sini dan puluhan tahun.

Untuk Kota Padang sendiri sudah dari abad ke-17 sampai 18, mereka sampai hari ini menguasai sektor-sektor strategis. Jadi, tentu saja ini berkontribusi untuk kemajuan ekonomi di Sumbar. ”Karena ekonomi sangat bergantung dengan sektor perdagangan. Jadi, berinteraksi lah pedagang-pedagang lokal kita yang jumlahnya terbatas dengan masyarakat Tionghoa,” bebernya.

Dalam perantauannya, Tionghoa memilih daerah perkotaan bukan di desa. Seperti, Padang, Bukittinggi, dulu pernah ada di Pariaman. Karena, perputaran uang itu ada di kota. ”Selama ratusan tahun kita harus jujur bagaimana pedagang-pedagang Tionghoa sudah menyumbangkan dan berkontribusi terhadap kemajuan ekonomi Sumbar. Dan itu tidak hanya di Sumbar atau Kota Padang, tetapi hampir di seluruh provinsi di Indonesia,” papar Anatona.

Jadi, mereka punya sejarah yang panjang dan harus diakui bahwa orang Tionghoa memiliki etos kerja yang berbeda dengan orang-orang di Indonesia. ”Etos kerjanya secara turun temurun. Jadi ada warisan usaha, kerja keras mereka berbanding terbalik dengan orang kita. Kalaupun ada warisan usaha, tapi kebanyakan jatuh, karena orang kita lebih senang menjadi pegawai. Nah, bagi mereka (Tionghoa) ada warisan usaha yang ditinggalkan dan itu berkembang,” jelasnya.

Tak hanya dari sisi perdagangan dipegang etnis Tionghoa di Sumbar maupun Padang, namun juga sektor industri kecil sampai menengah ke bawah. ”Jadi industri kecil dan menengah ke bawah itu, mereka juga memegang kekuasaan. Mereka berproduksi dan menghasilkan dan ekonomi mereka pun bergerak,” tukasnya. (eri/r)