Ketika Hotel-hotel di Padang Bertahan di Tengah Pandemi Korona

Suasana reservasi di Hotel Whiz Prime Padang, Kamis (9/4). (Arzil - Padek)

Industri perhotelan di Kota Padang melakukan berbagai strategi untuk tetap bertahan di tengah pandemi Covid-19 yang memukul industri pariwisata.  Meski tetap beroperasi meski tamu tak sebanyak biasanya, hotel yang masih buka ini menawarkan potongan harga, paket, dan delivery makanan.

Seperti halnya Whiz Prime Hotel di Jalan Khatib Sulaiman No 48 A, Padang. Hotel bintang tiga ini sebagai tempat isolasi mandiri bagi para tamu baru yang berkunjung ke Padang.

“Memang benar, kami dari manajemen membuka paket isolasi mandiri di Whiz Prime Hotel Padang bagi tamu-tamu yang datang dari luar Sumbar. Apalagi sebentar lagi masuk Ramadhan dan Lebaran agar mereka bisa berkumpul nantinya,” ucap General Manager Hotel Whiz Prime Padang, Yon Erick Firman Kuncung kepada Padang Ekspres, kemarin.

Adapun ketentuan yang dibuat pihak hotel bagi tamu yang akan menginap dengan paket isolasi mandiri ini, jelas Erick, nantinya akan dicek dulu kesehatannya.

”Jangan diartikan hotel kami sebagai tempat isolasi bagi pasien positif Covid-19, bukan begitu. Tapi paket yang kami buat ini khusus bagi tamu yang bukan penderita Covid-19 atau PDP. Namun mereka memang berasal dari daerah banyak Covid-19-nya,” sebut Erick.

Jadi, lanjutnya, paket isolasi mandiri ini memang dikhususkan bagi tamu baru yang datang dari Jakarta atau luar Sumbar lainnya. ”Kan kita belum bisa mengatakan mereka itu positif Covid-19 atau tidak. Bisa saja tamu itu tidak positif, namun dia mau mengisolasikan dirinya secara mandiri. Jadi Hotel Whiz Prime ini membuka ruang untuk tempat tinggal bagi para tamu itu selama masa 14 hari,” tutur Erick.

Terkait harga paket isolasi mandiri Hotel Whiz Prime ini, Erick mengaku jauh di bawah harga normal di hotel itu. Bila harga normal menginap di hotel ini berkisar Rp 500 ribu-Rp 600 ribu per malam.

Tapi harga untuk paket isolasi mandiri, pihaknya membuka harga dimulai dari Rp 275 ribu per malam. “Jadi kalau 14 hari saya hitung kurang lebih Rp 3.850.000. Itu paket isolasi mandiri terendah untuk room only. Jadi makannya nanti bisa mereka pesan melalui room service,” terang Erick.

Untuk harga tertinggi dari paket ini di Hotel Whiz Prime yakni paket isolasi mandiri keluarga. Di dalam paket ini full board ada room, makan pagi, siang hingga malam. Harga untuk paket ini Rp 425 ribu per malam. Jika untuk 14 hari makan biayanya sebesar Rp 5.950.000.

Jadi, sebut dia, tamu ini tidak perlu ke luar ke mana-mana lagi. Pasalnya, sudah termasuk makan pagi, siang hingga makan malam. ”Sabtu sudah luncurkan paket ini,” ungkapnya.

Hal berbeda dilakukan Hotel Mercure Padang. Hotel berlokasi Purus IV No 8 Padang masih tetap menerima dan melayani tamu yang berkunjung. Tapi, tamu yang menginap tidak sebanyak dibanding hari biasanya.

“Sesuai dengan kebijakan pemerintah social distancing atau kegiatan keramaian, kami tetap melayani tamu. Saat ini, kami melayani satu atau dua kamar saja. Dengan rate kamar kisaran Rp 700 ribuan per malam untuk room only,” ungkap GM Hotel Mercure Padang, Subhan H Sahbana, kepada Padang Ekspres.

Selain room, Subhan mengatakan Mercure berencana akan melayani take away atau delivery makanan. Tak hanya kondisi saat ini tapi juga melayani delivery untuk paket berbuka puasa selama Ramadhan. “Direncanakan akan kami luncurkan pada pekan depan. Menu makanan variasi masakan khas Indonesia dan Asia,” ungkapnya.

Subhan juga mengatakan memanfaatkan momen ini, pihaknya melakukan kegiatan internal di hotel. “Mulai merenovasi kamar, membersihkan seluruh area hotel agar lebih hygiene. Sehingga, hotel bersih dan nyaman dikunjungi tamu,” ucap Subhan.

Sementara GM Hotel Grand Zuri Padang, Surni Yanti juga menegaskan hotel tersebut masih tetap buka dan melayani tamu. “Untuk kamar masih jalan seperti biasa. Harganya disesuaikan lewat program bayar dua malam menginap tiga malam atau buy 2 stay 3,” ucapnya.

Saat ini, sebut Surni, Grand Zuri berlokasi di Jalan MH Thamrin ini juga fokus melayani katering makan siang untuk karyawan perbankan. Harga katering mulai dari Rp 30 ribu per pax berupa bento box. “Jadi, ini salah satu strategi kami menghadapi pandemi ini,” tuturnya.

Surni mengatakan saat Ramadan nanti, Grand Zuri juga menyiapkan paket berbuka puasa bersama di hotel. Kondisinya jelas akan berbeda dibanding hari biasa. “Kami akan atur posisi dengan jarak dua meter. Kemudian, menyiapkan hand sanitizer, pengukur suhu tubuh, dan protokol lainnya. Jadi, Insya Allah amanlah,” ungkap Surni.

Untuk karyawan sendiri, sebut Surni, tidak perlu finger print cukup selfie di depan jam masuk. Kemudian, karyawan diberikan masker, diberikan vitamin setiap hari. Dan, karyawan pun bekerja dengan sistem shift. “Begitulah kami memperhatikan kesehatan dan keselamatan karyawan,” ucapnya.

GM Hotel Savali, Joni Edwar Dasrita pun menyebutkan hotel berlokasi di Jalan Hayam Wuruk masih tetap buka di tengah pandemi Covid-19 ini. “Kami memang menerapkan penghematan di bagian listrik, air dan bahan makanan. Dan, mempekerjakan karyawan tetap yang diutamakan,” ucapnya.

Dari sisi pelayanan ke tamu, sebut Joni, safety lebih ditingkatkan. Misal, menggunakan thermo scan ketika tamu masuk ke hotel, tamu wajib menggunakan masker, dan penyemprotan antiseptik. Bahkan, harus cuci tangan sebelum masuk yang disediakan di area parkir,” ujarnya.

Kebijakan serupa juga diterapkan pada karyawan. Para karyawan juga dilakukan pengukuran suhu tubuh, baik masuk dan pulang kerja disemprotkan antiseptik, wajib pakai masker. Dan, sebelum masuk hotel diwajibkan cuci tangan yang telah disediakan di area parkir. “Ini sebagai upaya kami mencegah pandemi Covid-19,” ucap Joni.

Joni menyebutkan saat ini, hotelnya menyediakan paket menginap dengan harga Rp 350 ribuan room only. Dan, ada juga paket menginap 10 hari dengan harga Rp 3.5 juta sudah termasuk breakfast. “Untuk saat ini Alhamdulillah tamu masih ada. Dan, hanya untuk tamu lokal saja,” tuturnya.

26 Hotel di Sumbar Tutup

Terpisah, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumbar Yusran Maulana menilai imbas dari wabah Covid-19 jadi “pukulan telak” bagi pelaku usaha perhotelan di Sumbar saat ini.

“Sebanyak 26 hotel dan restoran di bawah naungan PHRI Sumbar juga terpaksa harus tutup untuk sementara waktu. Alasannya tak mampu membiayai operasional,” kata Yusran.

Tidak cuma itu, lanjut dia, ada sekitar 2.500 karyawan dari sejumlah hotel itu harus dirumahkan. Bahkan ada diantara mereka itu ada yang bersedia gaji mereka dipotong asalkan mereka tidak di PHK dari tempat mereka bekerja.

“Kondisi itu dengan berat hati diberlakukan pihak hotel mengingat situasi dengan adanya wabah Covid-19 ini. Dampaknya tingkat hunian tamu di hotel mereka turun drastis menjadi 10 persen, dan ada juga di bawah angka itu,” lanjut Yusran.

Dia tidak dapat memprediksi sampai kapan kondisi seperti ini terjadi. Kalau wabah Covid-19 ini berlanjut hingga tiga atau empat bulan ke depan tak dapat dibayangkan bagaimana kondisi perhotelan di Sumbar, khususnya di Kota Padang ini.

Padahal, sebut dia, pelaku perhotelan menyakini mulai dari Januari hingga Desember 2020 ini bisa menjadikan perhotelan di sini akan bergairah. Itu dikarenakan banyaknya event nasional yang akan diadakan di Sumbar.

Belum lagi momentum Lebaran tahun ini yang menjadi peak season bagi pihak hotel. Mengingat di waktu itu jumlah tamu yang menginap di hotel cukup tinggi. ”Namun apa dikata, momentum itu tidak lagi bisa diandalkan pihak hotel karena adanya wabah virus korona ini,” ulas Yusran.

Maka itu, agar tak berdampak terlalu besar, PHRI berharap pemerintah dapat memberikan stimulus yang nyata terhadap hotel dan restoran yang terdampak. “Sehingga, beban biaya selama masa tanggap darurat ini bisa diminimalisir. Stimulus itu, bisa dalam bentuk keringanan pembayaran pajak bumi dan pajak bangunan maupun, pembayaran listrik,” jelasnya.

“Stimulus bantuan tersebut membantu pengusaha hotel dan restoran. Ia berharap solusi jangan cuma menghapus pajak hotel dan restoran,” kata Yusran Maulana. (*)