Tiga Anak Masih Dirawat, Diduga Bakso Bakar Mengandung Bakteri Jahat

14
SEPI PEDAGANG: Pasca peristiwa keracunan, suasana perkarangan SDN 29 Gunungsarik sepi tanpa pedagang, kemarin (12/1).(DEWI/PADEK)

Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) di Padang mencurigai bakso bakar yang menyebabkan puluhan murid SDN 29 Gunungsarik keracunan. Pasalnya bakso bakar tersebut mengandung mikroba atau bakteri jahat yang berdampak buruk terhadap kesehatan.

“Untuk dugaan sementara, sampel bakso bakar yang dikonsumsi oleh murid dan masyarakat tersebut mengandung mikroba atau bakteri jahat. Namun untuk memastikannya perlu pemeriksaan lebih lanjut,” kata Kepala BBPOM di Padang, Firdaus Umar kepada Padang Ekspres, kemarin (12/1).

Ia mengatakan, saat ini sampel makanan tersebut sedang dalam proses pengujian sampai nantinya masuk tahapan uji konfirmasi terhadap sampel makanan itu. Proses pengujian sampel makanan hingga mengetahui hasil resmi kandungan tersebut akan memakan waktu 7 sampai 10 hari.

“Jadi tahapan pengujian awal sampel dilakukan selama 3 sampai 4 hari, kemudian dilanjutkan dengan uji konfirmasi terhadap sampel tersebut. Ya mudah-mudahan hasilnya bisa cepat keluar dalam 7 hari ini,” katanya.

Dijelaskan, mikroba atau bakteri itu sendiri terdiri dari mikroba baik yang menguntungkan bagi kesehatan tubuh. Lalu ada bakteri atau mikroba jahat yang bisa mengganggu dan membahayakan kesehatan tubuh jika dikonsumsi.

“Efeknya bisa memberikan rasa mual sampai muntah dan juga pusing seperti apa yang dialami oleh puluhan siswa tersebut, namun untuk memastikannya tentu perlu uji konfirmasi,” ungkapnya.

Terpisah, Kabid Pelayanan Medis dan Keperawatan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Rasidin Padang, dr. Srikurnia Yati mengatakan, saat ini masih ada 3 anak yang masih dirawat di RSUD.

Tiga anak tersebut terdiri dari satu orang murid SDN 29 Gunungsarik dan 2 orang balita yang merupakan adik dari murid SDN 29 Gunungsarik tersebut. Saat ini kondisi ketiga anak itu sudah berangsur membaik namun masih dilakukan pengawasan.

“Memang sebelumnya ketiga anak ini yang kondisi cukup berat dibandingkan dengan siswa-siswi lainnya sehingga perlu penanganan dan terapi dari dokter spesialis anak,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, meskipun telah berangsur pulih, kondisi ketiga anak tersebut masih mengeluhkan mual dan pusing namun tidak terlalu berat. Bahkan anak-anak tersebut sudah bisa diajak bermain oleh orang tua dan keluarga mereka.

Sementara itu, pantauan Padang Ekspres di sekitar SDN 29 Gunungsarik yang biasanya ramai oleh pedagang, Rabu (12/1) terlihat sangat sepi. Wakil Kepala Sekolah Afrizal menyampaikan memang tidak ada pedagang yang berjualan.

Baca Juga:  2 Tersangka: Mantan Kiper SP Masih Saksi, Diduga Aniaya Anggota Brimob

Pertama karena inisiatif para pedagang karena peristiwa sebelumnya dan yang kedua sebelumnya polisi juga menghentikan penjualan sampai kasus tersebut selesai.

Peristiwa tiba-tiba yang terjadi tentu membuat pihak sekolah panik, begitu juga dengan wali murid. Mengenai hal itu, sekolah pun langsung mengambil tindakan sigap untuk antisipasi agar tidak terulang kembali peristiwa semacam itu.

“Untuk para pedagang tentu kita tidak bisa melarang. Namun, untuk setiap warga yang ingin berjualan akan kita berikan syarat yaitu dengan menyerahkan KK dan KTP kepada pihak sekolah. Dengan tujuan agar pihak sekolah bisa mengenal siapa dan seperti apa latar belakang para pedagang,” ujarnya.

Sebenarnya di awal pendaftaran masuk sekolah sudah diberikan surat pemberitahuan kepada setiap wali murid untuk membekali anaknya makanan ke sekolah.

“Sebenarnya dulu di awal mendaftar sekolah, semua wali murid sudah kita beri surat pemberitahuan untuk diberi bekal makan ke sekolah, supaya nanti di sekolah anak-anak ini tidak jajan sembarangan lagi. Tapi, yang namanya anak-anak kita juga tidak bisa melarang mau makan dan beli jajan apa ya,” jelasnya.

Pasca kejadian keracunan seluruh siswa yang jadi korban diistirahatkan di rumah masing-masing. Sebab, masih adanya trauma dari siswa dan wali murid itu sendiri. Namun, untuk siswa lainnya masih belajar di sekolah seperti biasanya.

Setiap wali murid sekarang mulai waspada dan antisipasi pascaperistiwa tersebut. Beberapa wali murid juga menyampaikan bahwa sebelumnya juga sudah diberi surat pengumuman tentang membawa bekal ke sekolah.

“Memang sebelumnya dari sekolah sudah diberitahukan untuk memberikan bekal untuk dibawa ke sekolah, tapi ya seperti itu. Kadangkan anak-anak ini tidak mau ribet bawa-bawa bekal, dan juga lebih suka jajan di sekolah juga. Jadi ya namanya anak-anak juga tidak bisa dilarang,” kata salah seorang wali murid Meli Maharani, 26, kepada Padang Ekspres, Rabu (12/1).

Terpisah, Kapolsek Kuranji AKP Nasirwan mengatakan penetapan status pedagang yang diduga menyebabkan murid SDN 29 Gunungsarik keracunan masih menunggu proses uji lab dari BBPOM. “Sampai hasil lab tersebut keluar kasus pedagang tersebut belum bisa dilanjutkan ke tahap selanjutnya,” kata Kapolsek. (adt/cr4/cr1)