Dibangun Tahun 1805, Belum Pernah Dipugar Skala Besar

119
Seorang pengendara sepeda motor melewati bangunan Masjid Raya Ganting di Jalan Gantiang No 10, Kelurahan Gantiang Parak Gadang, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, kemarin (12/4). (IST)

Keberadaan Masjid Ganting di Jl Gantiang No 10, Kelurahan Gantiang Parak Gadang, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, jelas tak asing lagi bagi masyarakat Sumbar secara umum. Inilah merupakan masjid tertua di Kota Padang. Menyambut Ramadhan tahun ini, masjid yang berdiri di atas lahan seluas 102×95,6 meter ini, terlihat bersolek. Seperti apa?

”Kami selaku pengurus menerapkan protokol kesehatan (prokes) ketat, dan juga sudah dipersiapkan tempat cuci tangan, thermo gun dan penyediaan masker gratis,” kata Ketua Umum Masjid Raya Ganting Munandar Maska didampingi Waketum Masjid Raya Ganting, Almijum saat memulai pembicaraan dengan Padang Ekspres, kemarin (12/4).

Khusus pelaksanaan Shalat Tarawih, pengurus sudah mempersiapkan remaja masjid untuk mengukur suhu tubuh jamaah yang akan masuk masjid. ”Kalau shafnya seperti biasa, tidak berjarak dan tikar dibentangkan. Tapi, dianjurkan kepada jamaah untuk membawa sajadah sendiri dari rumah,” jelasnya.

Menurut Munandar, persiapkan sudah dilakukan sejak dua bulan lalu yang diawali dengan aksi bersih-bersih. Mulai dari lantai seluruh ruangan, dinding beserta ornamen masjid. Kamar mandi, tempat berwudhu hingga halaman masjid juga menjadi target dibersihkan. ”Pengecatan dinding masjid dan perbaikan atap guna persiapan Ramadhan, juga sudah dilakukan termasuk penyemprotan disinfektan sekitar lingkungan masjid,” imbuhnya.

Untuk persiapan Masjid Raya Ganting, katanya, sudah mencapai 100 persen menyambut bulan suci Ramadhan. ”Kami pun juga sudah mempersiapkan kegiatan-kegiatan selama bulan suci Ramadhan. Misalnya, Shalat Tarawih, Pesantren Ramadhan dan lainnya,” sebut Munandar.

Lalu, menyiapkan makanan dan minuman untuk berbuka puasa gratis selama Ramadhan. ”Kami lakukan bekerja sama dengan ibu-ibu majelis taklim, dan tak tertutup juga kemungkinan donasi lainnya. Sebab, Masjid Raya Ganting ini tidak masjid orang Ganting saja, tapi sudah menjadi masjid Padang,” terangnya.

Guna lebih menyemarakkan Ramadhan 1442 ini, pengurus juga mengadakan Festival Ramadhan dengan skop Kecamatan Padang Timur. ”Perlombaannya meliputi, Tahfiz Quran, cerdas cermat, dan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat lansia,” ujarnya.

Di samping, tadarus, tausyiah dan itikaf. ”Untuk imam dan penceramah selama Ramadhan, juga sudah ditentukan. Kami persiapkan imam khusus sebanyak empat orang dan pencerahan bergantian setiap harinya,” tandas Munandar.

Munandar menambahkan, Masjid Raya Ganting merupakan masjid tertua di Kota Padang. Awalnya, pembangunan masjid ini ditujukan sebagai sarana pemersatu 8 suku di Padang. Masjid yang memiliki dua menara dan satu kubah utama ini, memiliki 8 pintu dengan tiang penyangga masjid berjumlah 25 buah.

Sejak dibangun, menurut Munandar, masjid ini belum pernah dipugar secara besar-besaran kecuali penambahan bangunan depan sepanjang 20 meter. Lalu, bagian depan terdapat teras masjid yang terlihat rapi dengan pilar-pilar ganda berjejer menyangga langit-langit masjid. Tahun 1950, Pemko Padang mengambil alih pengelolaan masjid ini. Sedangkan pengurusannya diserahkan kepada masyarakat Ganting.

Baca Juga:  Sidak di Pusat Perbelanjaan, Ditemukan Produk Makanan Kedaluwarsa

Di sebelah Barat dan Selatan masjid yang semula dibangun sangat sederhana ini, sekarang terbuat dari beton dengan dinding cukup tebal 34 cm dan berwarna putih yang menjadi ciri khasnya. Masjid ini memiliki halaman cukup luas di sebelah timur mampu menampung jamaah yang cukup banyak saat Shalat Idul Fitri dan Idul Adha.

Halaman depan berpagar besi, sedangkan sisi Selatan dan belakang berpagar tembok berbatasan dengan makam dan rumah rumah penduduk. Bangunan berbentuk persegi panjang berukuran 42×39 meter yang terbagi atas serambi muka (12×39), serambi kanan (30×4,5) serambi kiri (30×4,5) dan ruang tamu (30×30).

”Awal pembangunan Masjid Raya Ganting yang semula bernama Masjid Kampuang Gantiang ini, dimulai tahun 1805 lalu. Berupa sebuah bangunan surau kayu di atas tanah suku kaum Chaniago,” kata Munandar.

Dulunya, Masjid Kampuang Gantiang berlantaikan batu dengan dinding berplasterkan tanah. ”Ukuran yang dibangun 30×30 meter. Konstruksi atapnya berudak-undak atau bertingkat mirip atap masjid di Pulau Jawa,” tuturnya.

Terdapat tiga tokoh Kampung Gantiang dari suku Chaniago yang merencanakan pembangunan Masjid Raya Ganting sekarang ini. ”Ketiga tokoh itu yakni, Angku Gapuak, Angku Syeeh H Uma dan Angku Syeeh Kapalo Koto,” paparnya.

Di samping itu, lanjutnya, saat ini Masjid Raya Ganting arsitekturnya memiliki serambi muka, serambi samping dan ruang utama. ”Arsitektur Masjid Raya Ganting perpaduan dari berbagai corak arsitektur. Sebab, pengerjaannya melibatkan beragam etnik seperti Persia, Timur Tengah, Tiongkok dan Minangkabau,” bebernya.

Masjid Raya Ganting bergaya neo klasik Eropa. Dilihat dari konstruksi atap masjid yang berbentuk tumpang, Masjid Raya Ganting tergolong masjid kuno memiliki ciri-ciri khas seperti denah persegi panjang.

”Mempunyai serambi di depan atau amping ruang utama, mihrab di bagian barat pagar keliling dengan satu pintu utama. Semua ciri-ciri masjid kuno bisa dijumpai pada pola bangunan Masjid Raya Ganting,” katanya.

Pada serambi samping masjid terdapat tiang berbentuk segi enam dan tambun yang bagian atasnya terdapat hiasan pelepit-pelepit rata. Bentuk tiang tersebut mengingatkan pada bentuk tiang doric pada arsitektur Eropa.

”Bangunan tua bersejarah ini di hias dengan seni hias Eropa, seperti ukiran piala pada entablature dinding sisi luar, parapet (tiang-tiang kerdil), panil-panil berhiasan lubang kunci. Dinding bangunan bagian dalam dihias dengan pilaster sederhana. Sedangkan dinding sebelah timur fihias plaster berbentuk order doric kembar bergalur,” terangnya. Bangunan lain, terdapat tempat berwudhu laki-laki, perpustakaan dan tempat berwudhu wanita. (randi zulfahli-Padang Ekspres)

Previous articleRamadhan, Gubernur Mahyeldi Singgah Sahur di Rumah Warga tak Mampu
Next articleDititipi Rp 15 T, kini jadi Rp 66,6 T, Mandiri Kembangkan Dana PEN