Webinar SP-BSM; Bekerja dan Bermuamalah, Ibadah di Masa Pandemi

36
Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat Prof Cholil Nafis tampil sebagai narasumber Webinar dengan tema, Bekerja dan Bermuamalah Sebagai Ibadah di Masa Pandemi, yang digelar PT Semen Padang dengan Bank Syariah Mandiri, Rabu (14/10/2020).

PT Semen Padang bekerjasama dengan Bank Syariah Mandiri (BSM), pada Rabu, 14 Oktober 2020, menggelar Webinar dengan tema, Bekerja dan Bermuamalah Sebagai Ibadah di Masa Pandemi. Webinar ini menghadirkan Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat Prof KH M Cholil Nafis LC MA PhD sebagai narasumber.

Direktur Keuangan PT Semen Padang Tubagus M Dharury menyampaikan terima kasih  kepada Bank Mandiri Syariah yang sudah bekerjasama dengan PT Semen Padang dalam melaksanakan webinar.

“Pandemi Covid-19 ini sedikit banyak mengubah pola hidup kita sehari-hari, mengubah seluruh kebiasaan kita dalam banyak hal. Dari mulai cara kita bekerja, belajar, dan berinteraksi dengan orang lain. Perubahan-perubahan ini jika tidak ditanggapi dengan baik dalam bentuk adaptasi, kemungkinan akan berdampak negatif terhadap kehidupan kita,” kata Tubagus.

Webinar itu dihadiri  Direktur Produksi PT Semen Padang Firdaus, Group Head Funding, Hajj and Umra BSM Vita Andrianty, Dedy Suryadi Dharmawan, Region Head RO2 Sumatera 2 BSM, karyawan/ti Semen Padang Grup, ibu-ibu dari Forum Komunikasi Istri Karyawan, karyawan SIG dan Bank Mandiri Syariah.

Tubagus mengatakan, webinar dengan tema ibadah ini sangat dibutuhkan di saat pandemi seperti sekarang, sehingga kita dapat mendapatkan siraman rohani yang harapannya dapat memperkuat mental kita menghadapi cobaan pandemi.

Tubagus me-review kembali tentang tujuan penciptaan manusia di muka bumi sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah. Dalam Surat Az-Zariyat ayat 56 Allah berfirman, Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.

Terkait dakwah dan muamalah, Tubagus mengatakan, dakwah bisa dilakukan dengan lisan dan perbuatan baik pada diri sendiri, karib keluarga, dan komunitas. Dakwah tidak boleh memaksa.

Sedangkan muamalah adalah aturan Allah tentang bagaimana berinteraksi dengan sesama manusia. “Dalam masa pandemi ada aturan yang ditaati dalam bermuamalah sesama manusia,” tukasnya.

Vita Andrianty mengatakan, pekerjaan rumah bank syariah saat ini masih panjang. Hal itu dilihat dari market share perbankan syariah yang baru 8 persen. “Ini menjadi PR bagi kami untuk meliterasi, bersilaturrahim dan memberikan pelayanan yang baik agar makin kompetitif,” katanya.

Bukan Sekadar Cari Makan

Prof Cholil Nafis dalam paparannya mengingatkan bahwa dalam Islam bekerja tidak hanya untuk sekadar mencari maisyah (makan), melainkan harus diniatkan sebagai ibadah kepada Allah Swt.

Baca Juga:  Semen Padang dan Forum Nagari Gelar Social Mapping di 12 Kelurahan

“Bekerja itu bukan untuk mencari duit semata, namun ada unsur ukhrawi dan spritual yakni beribadah pada Allah. Ini mesti dipahami dalam konteks berkerja. Kalau ini sudah ada dalam diri karyawan Semen Padang, barangkali tidak perlu lagi repot-repot melaksanakan training. Training hanya untuk silaturrahim,” kata ulama yang akrab disapa Kiyai Cholil itu.

Kiyai Cholil mengatakan, bekerja merupakan tugas kemanusiaan sebagai khalifah di muka bumi.  Dalam sebuah riwayat diceritakan, seorang sahabat bertanya kepada rasul, “Wahai Rasulullah, mata pencaharian  apakah yang paling baik?” Nabi menjawab, pekerjaan dengan tangannya sendiri dan perniagaan/jasa yang diberi pada orang lain.

Terkait perniagaan, lanjut Kiyai Cholil,  Rasulullah pernah mengatakan, jika ingin kaya, hendaklah berbisnis. “Tidak perlu didikotomikan antara bekerja dengan tangan sendiri dengan berbisnis. Keduanya bisa dilaksanakan bersamaan. Sambil bekerja dengan tangan sendiri, kita bisa berbisnis juga,” kata Staf Pengajar Ekonomi dan Keuangan Syariah Pascasarjana Universitas Indonesia itu.

Pembina Yayasan Investasi Cendekia Amanah itu mengatakan, bila pekerjaan dilandasi ibadah kepada Allah, maka  Allah akan membalasnya dengan pahala. “Misalnya, kalau berhijrah karena allah, akan dapat pahala. Namun kalau hijrah motivasi yang lain semisal untuk menikahi seseorang,  hanya akan mendapatkan apa yang diniatkan di dunia,” ulasnya.

Contoh lainnya, memberikan sesuatu kepada orang lain agar dipilih pada pilkada, tidak akan mendapatkan apa-apa, selain mungkin terpilih atau tidak terpilih.  Namun ketika memberi seorang karena empati dan diniatkan karena Allah, akan mendapat pahala.

Pada kesempatan itu,  Kiyai Cholil menekankan, arti fisabilillah bukan hanya untuk orang berjuang dalam perang. Namun  orang yang berusaha mencari penghidupan (maisya) untuk menghidupi kedua orangtuanya, atau keluarganya, merupakan fisabilillah di jalan Allah.

“Ada orang yang berusaha untuk keluarga itu masuk Fisabillilah. Namun yang bekerja untuk mencari kesombongan,  banyak duit dan dibangga-banggakan, tidak boleh. Itu namanya berusaha di jalan syaitan,” kata Kiyai Cholil.

Untuk itu, pengasuh Pesantren Cendekia Amanah di Kali Mulia Depok, Jawa Barat itu mengingatkan tentang pentingnya meluruskan niat.

“Bekerja untuk mencari kekayaan tidak dilarang. Karena yang bisa membayar zakat itu orang kaya. Kaya itu dianjurkan, yang tidak boleh adalah mendapatkan kekayaan dengan cara yang tidak baik,” ingatnya. (*)