Keluyuran, 22 Remaja Diamankan

Para remaja yang melanggar jam malam diamankan oleh Satpol PP Padang. (IST)

Seolah tidak takut terhadap ancaman pandemi virus korona (Covid-19) yang tengah merebak di Kota Padang, sejumlah remaja masih tetap keluyuran dan kumpul-kumpul di malam hari.

Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Padang mengamankan 22 remaja, Selasa (14/4), di beberapa lokasi seperti Flamboyan Baru, kawasan Pondok, Pasar Raya, serta di Jalan Permindo Padang.

Kasatpol PP Kota Padang, Alfiadi mengatakan, para remaja tersebut diamankan karena keluyuran dan melanggar instruksi pembatasan jam malam.

Padahal instruksi Wali Kota Padang tentang pembatasan jam malam tersebut bertujuan untuk mencegah aktivitas berkumpul-kumpul untuk memutus rantai penularan Covid-19. “Mereka kita amankan karena melanggar jam malam,” ujarnya.

Alfiadi menyampaikan, 22 orang remaja yang diamankan itu terdiri dari 4 wanita, dan 18 laki-laki dan semuanya diamankan ke Markas Komando (Mako) Satpol PP Padang untuk dilakukan pendataan.

Diantara 22 orang remaja yang diamankan tersebut, ditemukan beberapa orang mengkonsumsi minuman beralkohol dan menghisap lem.

“Setelah dilakukan pendataan oleh PPNS Satpol PP, mereka diberikan pengarahan dan pembinaan juga dipanggil orangtua mereka masing-masing sebagai penjamin,” ungkapnya.

Alfiadi terus mengimbau kepada seluruh warga untuk tidak keluar rumah pada malam hari. Hal ini bertujuan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. “Kami akan terus patroli pada malam hari. Tetaplah di rumah dan melakukan physical distancing,” tegasnya.

Pengamat sosial, Trisnaldi Mulya kepada Padang Ekspres menga-takan, masih banyaknya masyarakat khususnya remaja yang keluyuran pada malam hari disebabkan karena kebiasaan yang sulit diubah.

Pada usia remaja, mereka berada pada masa mencari jati diri yang mana berkumpul-kumpul dengan teman-teman tersebut telah menjadi gaya hidup dan kebiasaan yang dilakukan setiap hari.

“Meskipun Pemda telah menginstruksikan pembatasan jam malam, namun remaja tersebut masih tetap membandel lantaran sudah menjadi kebiasaan dan sulit diubah,” jelasnya.

Selain itu, Trisnaldi menuturkan, peran orangtua juga sangat krusial dalam pengawasan terhadap anak-anak mereka. Ia menyebutkan, masih banyaknya remaja yang keluar rumah pada malam hari, membuktikan kurangnya pengawasan yang dilakukan oleh orangtua.

“Seharusnya peran orangtua harus lebih dalam pengawasan terhadap anak mereka apalagi di tengah ancaman pandemi virus Covid-19 yang saat ini terjadi di Kota Padang,” ungkapnya.

Lebih lanjut Trisnaldi mengungkapkan, tindakan atau sanksi yang tegas juga perlu diterapkan oleh petugas penegak peraturan daerah (perda) terutama bagi remaja yang sudah diamankan lebih dari satu kali.

“Sanksi tegas bisa berupa pembinaan dalam bentuk kedisplinan beberapa hari agar remaja tersebut tidak mengulangi perbuatannya kembali,” tukasnya. (*)