Nelayan Tak Bisa Melaut

9
MENUNGGU PEMBELI: Pedagang ikan di Pasar Ikan Purus sedang menunggu pembeli, Minggu (12/6) lalu.(DEWI/PADEK)

Sudah 4 hari nelayan Purus di Kota Padang tidak bisa melaut, dikarenakan cuaca ekstrem yang melanda sebagian wilayah Sumatera Barat (Sumbar) termasuk Kota Padang. Akibatnya harga ikan pun meningkat.

Pantauan Padang Ekspres di pangkalan para nelayan tradisional Purus di Kota Padang, kemarin tampak sejumlah nelayan sedang berkumpul di antara deretan perahu yang senantiasa digunakan untuk pergi ke laut.

Mereka berbincang-bincang mengisi waktu luang karena tidak bisa melaut. Salah satu nelayan, Indra, 45 kepada Padang Ekspres mengungkapkan tidak tau akan bekerja apa lagi karena belum bisa pergi melaut.

“Kalau cuacanya buruk bagaimana bisa melaut, sampai di laut ombak besar perahu pun didorong lagi ke tepian,” ujarnya.

Ia mengaku selama 4 hari tidak pergi melaut membuat kebutuhan perekonomiannya semakin berkurang. Ia dan para nelayan lainnya harus bersabar menunggu kondisi cuaca kembali cerah baru bisa ke laut.

“Semuanya semakin mahal, cabai sekarang mencapai Rp 100 ribu membuat kita semakin sulit, mau dipaksakan ke laut pun tidak bisa,” ucapnya.

Jika terus memaksakan diri untuk melaut hanya akan membuat mesin perahunya rusak. Sehingga situasinya akan semakin sulit. “Sudahlah melaut tidak bisa, ditambah lagi mesin kita rusak, kita akan semakin susah, belum lagi pemasukan tidak ada,” katanya.

Senada, Basri, 71, menyebutkan cuaca ekstrem yang ini sudah sering dirasakannya. “Kalau harga ikan tidak ada pengaruhnya, biasanya para pedagang mengambil ikan pada nelayan yang menggunakan kapal besar,” ungkapnya.

Basri menyebutkan, selama 4 hari tidak kelaut selama itu pula penghasilannya terhenti, sementara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari ia bekerja serabutan.

“Sejak awal melaut, hal seperti ini sudah biasa terjadi, meskipun begitu tetap terasa sulit kalau sedang keadaan begini,” katanya.

Baca Juga:  353 Tahun Kota Padang: Geliat Pendidikan, Hidupkan Lagi Mata Pelajaran BAM

Ia menuturkan biasanya berangkat ke laut sejak Subuh hingga siang hari baru kembali ke tepian. “Kita nelayan tradisional memang begini semuanya baru bisa bergerak kalau cuaca sudah bagus, karena bagaimana pun pekerjaan kita tantangannya nyawa,” ungkapnya.

Para nelayan berharap kondisi cuaca bisa kembali normal, dengan begitu para nelayan bisa kembali melaut seperti biasanya. Sementara itu, pantauan Padang Ekspres di Pasar Ikan Purus Padang terlihat ikan yang terletak di meja-meja jualan tidak banyak.

Candra, 34, salah seorang pedagang ikan di Pasar Ikan Purus mengaku harga ikan tidak ada perubahan. “Kalau soal harga masih sama, seperti ikan sisiak harganya Rp 45 ribu sekilo, ada juga yang bisa jual Rp 60 ribu sekilonya,” tuturnya.

Joni, 41, pedagang ikan laut lainnya menyampaikan kalau stok sekarang untuk ikan-ikan besar masih tercukupi. “Karena sekarang cuaca buruk ikan kecil-kecil agak susah stoknya,” ujarnya.

Ketika ditanyai terkait harga ikan, Joni mengaku harga ikan saat ini meningkat dari biasanya. “Naik turunnya harga ikan ini tergantung cuaca. Kalau hujan ikan mahal, kalau bagus cuaca harga ikan turun. Tapi, untuk saat ini harga ikan normal. Rata-rata Rp 50 ribu per kilonya,” jelasnya.

Pada saat ini ikan tuna menjadi incaran paling banyak bagi masyarakat. Hal ini disebabkan harga yang terjangkau dan rasanya juga paling disukai masyarakat.

“Sekarang orang-orang banyak membeli ikan tuna dibanding yang lain. Selain harganya yang terjangkau rasanya jugak enak. Untuk harganya sendiri satu kilonya Rp 50 ribu,” jelasnya. (cr4)