Puluhan Wanita Diduga Lakukan Aborsi

Kapolresta Padang Kombes Pol Imran Amir didampingi Kasat Reskrim Kompol Rico Fernanda memberikan keterangan terkait pengungkapan kasus praktik aborsi di Polresta Padang, kemarin. (IST)

Polresta Padang terus melakukan penyelidikan kasus dugaan tindakan aborsi yang dilakukan pasangan suami istri (pasutri) terhadap pasangan yang hendak menggugurkan kandungan. Data yang diperoleh Polresta Padang diduga sudah ada 1.000 pasien yang berobat menggugurkan kandungan ke pelaku.

Kapolresta Padang Kombes Pol Imran Amir didampingi Kasat Reskrim Polresta Padang Kompol Rico Fernanda mengatakan, pada awal tahun ini hampir 60 orang yang berhubungan dengan pemilik apotek untuk melakukan aborsi.

Fakta tersebut didapatkan dari hasil pemeriksaan terhadap pemilik apotek yang mengaku sudah puluhan orang yang bertransaksi dengannya membeli obat untuk melakukan tindakan aborsi.

“Hal tersebut didapatkan dari data nama-nama yang pernah melakukan tindakan aborsi yang ada di jejak digital atau cek apotek tersebut. Sudah hampir 60 orang yang berhubungan dengan pemilik apotek untuk melakukan aborsi. Jadi bisa kita bayangkan, itu hanya dalam satu bulan saja. Sedangkan kegiatan ilegal ini telah berlangsung sejak 2018 lalu. Bisa dibayangkan, sudah ratusan bahkan hingga seribuan orang yang telah melakukannya sejak tahun 2018,” ujar Kapolresta dalam jumpa pers yang dilakukan di halaman Polresta Padang kemarin (15/2).

Tindakan aborsi dilakukan lantaran pasangan remaja tersebut telah hamil di luar nikah. Kemudian nekad menggugurkan kandungannya yang telah berusia beberapa bulan.
“Obat ini dijual bebas di apotek itu yang diketahui apoteknya buka 24 jam. Sementara untuk transaksi ilegal, pemilik selalu main di atas pukul 12 malam. Obat diberikan kemudian dilakukan pengguguran kandungan, obat ini mestinya harus dikeluarkan dengan resep dokter,” jelasnya.

Dijelaskan Kapolresta, dalam tindakan aborsi menggunakan obat tersebut, para pelaku aborsi mendapat arahan langsung dari pemilik apotek dan kemudian memberikan petunjuk serta langkah bagaimana cara menggugurkan kandungan.

“Komunikasi melalui media WhatsApp. Nah, pemilik apotek ini sedang kami dalami tentang keterlibatan tenaga kesehatan. Pemilik apotek sangat memahami tentang bagaimana dan tata cara aborsi. Sehingga kuat dugaan adanya keterlibatan tenaga kesehatan di balik kasus ini. Sementara kami dalami yang bersangkutan untuk mengungkap siapa lagi di belakang yang mengajarkan pemilik apotek untuk tindakan aborsi,” ungkap Kapolresta.

Sementara untuk pembayaran tindakan aborsi bervariasi tergantung usia kandungan. Paling mahal dibayar seharga Rp 5 juta. “Kalau masih kecil dua sampai tiga minggu bisa dibayar Rp 2 juta. Seluruh arahan tindakan aborsi dari pemberian obat hingga gugurnya kandungan tersebut dilakukan oleh pemilik apotek dan pelaku aborsi melalui WhatsApp,” ucapnya.

Baca Juga:  Lahirkan para Hafiz, Pesantren Tahfidz Sulaimaniyah Hadir di Padang

Selain itu, pihaknya juga berkoordinasi dengan BBPOM di Padang untuk menyelidiki adanya indikasi apotek lainnya. Sehingga kasus tindakan aborsi ini dapat diungkap secara tuntas.
“Kami sedang bekerja sama BBPOM di Padang untuk mendalami apotek lainnya. Kami ingin mengungkap secara tuntas kejadian yang ada di apotek. Karena obat-obatan ini dijual bebas,” tegasnya.

Kapolresta menyebutkan, selain akan mengungkap ada tidaknya apotek lain yang melakukan transaksi ilegal tersebut, pihaknya juga akan berkoordinasi untuk melakukan penyegelan terhadap apotek. “Koordinasi dengan BBPOM ini kami lakukan untuk melakukan penyegelan karena menyangkut izin usaha,” jelasnya.

Sementara itu, untuk aktivitas para pelaku ini, pihaknya akan mengenakan pasal berlapis, di antaranya pasal tentang Undang-undang kesehatan dan perlindungan anak. Serta Undang-undang keikutsertaan dan membantu proses aborsi.

“Adapun pasal yang dimaksud adalah Pasal 194 jo pasal 196 Undang-undang RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan jo Pasal 55 jo Pasal 56 KUH-Pidana. Dalam pasal ini tersangka diancam 15 tahun penjara. Kemudian selanjutnya pasal yang juga dipersangkakan adalah Pasal 77 ayat (1) Undang-undang RI No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Dari pasal ini tersangka terancam 10 tahun penjara,” imbuhnya.

Diberitakan sebelumnya, Polresta Padang berhasil mengungkap penjualan obat penggugur janin (aborsi) di salah satu apotek di Kota Padang. Sedikitnya, enam pelaku ditangkap dan ribuan butir obat penggugur janin ikut disita.

Informasi yang dihimpun Padang Ekspres, keenam pelaku tersebut diamankan Kamis dinihari (11/2) dan Jumat siang (12/2), yakni IFM, 50 dan istrinya SWS, 50. Kedua pelaku ini merupakan pemilik apotek dan pasangan suami istri (pasutri). Lalu AHS, 20, ND, 20 serta FS, 20 dan AS, 25. Pasutri ini diduga melakukan tindak pidana memperjualbelikan obat-obatan di luar resep dokter. Sasarannya, pasangan remaja yang telah hamil di luar nikah. (err)

Previous articleDi Balik Sukses Ronaldo Memiliki 500 Juta Pengikut
Next articleDiduga Cabuli Murid, Oknum Guru SD Ditangkap