Muncul Usulan Pasar Raya Padang Lockdown, Ini Alasannya

Ilustrasi pemeriksaan spesimen pasien Covid-19. (foto: dok.shutterstock).

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Cabang Sumatra Barat dr. Akmal Mukriady Hanif mengusulkan agar pemerintah kota mengarantina sementara wilayah Pasar Raya Padang atau lockdown untuk memutus mata rantai penyebaran virus korona (Covid-19).

Dokter spesialis penyakit dalam itu beralasan bahwa berdasarkan anamnesis atau wawancara dokter dengan para pasien positif terjangkit Covid-19, ternyata mereka berasal dari cluster (klaster) Pasar Raya.

“Kira harus jujur, clear and clean bahwa cluster Pasar Raya saat ini sangat berbahaya dan itu harus dilakukan karantina segera. Tidak berlebihan kalau saya usul cluster Pasar Raya di-lockdown karena dari kasus-kasus Covid positif dari anamnesis mereka berasal dari cluster Pasar Raya. Saya punya analisis data yang menjadi dasar pengusulan saya ini,” ungkap Hanif di GWA Kawal Covid-19 Sumbar, Rabu (15/4) malam.

Menurutnya, wilayah Pasar Raya harus dilakukan tracking atau penelusuran kontak pasien dan clustering (pengelompokan) dengan cermat.

“Ada kekhawatiran saya dengan cluster Pasar Raya ini,” tambahnya di dalam GWA yang beranggotakan para kepala daerah, ketua DPRD, pimpinan rumah sakit, kepala dinas kesehatan, BPBD, relawan, akademisi, rektor, pengurus IDI dan jurnalis itu.

Dijelaskannya, 15 hari sejak pertama kali kasus pertama positif Covid-19 ditemukan di Sumbar, Rabu (15/4) atau memasuki minggu ketiga, sudah banyak menghabiskan alat pelindung diri (APD) seperti baju pelindung dan masker sesuai level pelayanan.

Belum lagi kebutuhan terkait pemeriksaan swab di laboratorium, seperti PCR, reagen, VTM, SDM dan lainnya. Ini semua terkait tugas kita di hilir dalam pelayanan pasien OTG (orang tanpa gejala), ODP (orang dalam pemantauan) dan PDP (pasien dalam pengawasan).

“Saat ini kita memasuki minggu ketiga. Terlihat lonjakan kasus yang sangat bermakna, di mana saat ini kasus Covid-19 positif (di Sumbar) berjumlah 55 orang dengan angka kematian lima¬† orang dengan CFR (tingkat fatalitas kasus) 9,1%. Data ini menunjukkan bahwa peluang untuk transmisi lokal sangat tinggi, terutama di Kota Padang,” jelas Hanif.

Dia mencontohkan, sudah adanya ditemukan transmisi antar-daerah, yaitu dari Kabupaten Padangpariaman ke Kota Pariaman. “Ini membuktikan ada risiko penularan yang lebih besar. Jadi, PSBB (pembatasan sosial berskala besar) antar-kabupaten dan kota mutlak diperketat. Tidak bisa tanya jawab saja, lebih baik di skrining dengan rapid test (tes cepat),” sarannya.

Untuk Kota Padang, lanjut Hanif, titik yang ada cluster ada lima lokasi. Wajib diisolasi kelurahan atau minimal RT-nya, lalu skrining dengan rapid test. “Kita mencari yang OTG, positif tanpa gejala, isolasi mandiri dengan pemantauan petugas atau dikirim ke Bapelkes. Jadi, kita berupaya menyetop penularan,” tegasnya.(esg)