Masyarakat Kesulitan Air Bersih, Dua Kelurahan Dilanda Kekeringan

69
Petugas BPBD Kota Padang menyalurkan air bersih di Seberangpebayan, Kelurahan Batang Arau, Kecamatan Padang Selatan, kemarin. (IST)

Musim kemarau mulai berdampak terjadinya kekeringan di beberapa tempat di Kota Padang. Seperti di di Kelurahan Batang Arau, Kecamatan Padang Selatan. Masyarakat setempat mulai mengalami kesulitan air bersih. Kondisi tersebut disebabkan karena mata air di perbukitan dan sumur kering akibat musim kemarau yang terjadi beberapa hari terakhir.

Pantauan Padang Ekspres di Seberangpebayan, Kelurahan Batang Arau, sejumlah warga terlihat antre di kamar mandi umum Taman Siti Nurbaya sambil membawa jeriken, ember dan baskom untuk mendapatkan air bersih yang baru saja disalurkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang.

Warga yang mengantre di kamar mandi umum tersebut tidak hanya berasal dari kawasan sekitar tapi juga warga yang tinggal di kawasan perbukitan di mana mereka harus berjalan kaki ke kamar mandi umum sekitar 1 kilometer.

Menurut warga, kekurangan air bersih dan kekeringan sudah berlangsung selama satu bulan terakhir sejak musim kemarau melanda Kota Padang pada awal tahun 2021. Akibatnya, masyarakat harus mencari sumber air lain untuk mendapatkan air bersih atau membeli air isi ulang untuk kebutuhan sehari-hari.

“Kalau tidak salah kekurangan air bersih dan kekeringan ini terjadi sejak satu bulan yang lalu. Namun puncak kekeringan sendiri terjadi 3 hari terakhir ini, dimana kami susah mendapatkan air bersih,” kata warga Seberangpebayan, Yuspita Dame, 42, kepada Padang Ekspres, kemarin (16/2).

Yuspita mengatakan, sejak kekeringan itu, dirinya terpaksa harus berjalan kaki sekitar 500 meter ke kamar mandi umum agar mendapatkan air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi dan mencuci.

Sebelumnya warga di Kelurahan Batang Arau, khususnya yang tinggal di sekitar perbukitan memanfaatkan mata air yang berada di puncak bukit untuk kebutuhan sehari-hari, namun sejak musim kemarau, air di mata air kering.

“Kami yang tinggal di perbukitan biasanya mendapatkan air dari mata air, namun saat ini mata air itu sudah kering, sementara warga yang tinggal di bawah memanfaatkan sumur mereka dan sumur di kamar mandi umum, tapi karena kemarau, air di sumur itu kering dan hanya beberapa waktu ada airnya,” ungkap Yuspita.

Permasalahan utama yang dialami warga saat ini adalah kekurangan air bersih. Yuspita mengungkapkan, untuk kebutuhan mandi dan mencuci, mereka bisa memakai air yang ada di kamar mandi umum, namun untuk kebutuhan minum dan memasak, air yang di sumur kamar mandi umum tidak bisa digunakan karena airnya kuning dan tidak bersih. “Jadi air di sumur kamar mandi umum itu tidak bersih sehingga tidak bisa digunakan untuk minum dan memasak, jadilah kami kekurangan air bersih,” ujarnya.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga terpaksa membeli air isi ulang. Namun karena kehidupan rata-rata warga di Seberangpebayan susah, maka kebanyakan warga merasa berat untuk membeli air isi ulang.

Warga lainnya, Elok Su, 55, mengatakan, kejadian kekeringan dan kekurangan air bersih sering terjadi di Kelurahan Batang Arau bahkan setiap tahunnya. Hal itu disebabkan karena sumber utama air bagi warga sekitar adalah mata air di puncak bukit, dimana ketika musim kemarau datang, air di mata air itu kering dan tidak mencukupi kebutuhan air bersih bagi warga.

“Kalau kekeringan ini hampir setiap tahun, warga di sini sampai hapal kalau sudah masuk bulan Januari, pasti akan terjadi kekeringan,” jelasnya. Elok Su mengaku, jika kekeringan terjadi di Kelurahan Batang Arau, warga hanya bisa menunggu bantuan dari berbagai pihak termasuk Pemko Padang yang menyalurkan air bersih ke tempat mereka.

Tak hanya itu, hampir seluruh warga di Seberang pebayan, Kelurahan Batang Arau tidak menggunakan air dari Perumda Air Minum Kota Padang. Hal itu karena, sulitnya akses pemasangan air Perumda Air Minum Kota Padang karena mayoritas warga tinggal di daerah ketinggian.

“Kalau tidak salah, orang Perumda Air Minum Kota Padang pernah datang kemari, namun karena sulitnya akses dan mayoritas warga tinggal di tempat tinggi sehingga air Perumda Air Minum Kota Padang tidak bisa masuk,” sebutnya.

Baca Juga:  Pembangunan Youth Center Sudah 78 Persen, Bima Arya: Padang Memang Beda!

Terakhir Elok Su berharap agar adanya bantuan dari berbagai pihak untuk membuat sumber air permanen di Kelurahan Batang Arau sehingga ketika musim kemarau, warga bisa memanfaatkan sumber air tersebut.

Terpisah, Lurah Batang Arau, Eka Saputra mengatakan, di Kelurahan Batang Arau terdapat dua titik yang mengalami kekeringan dan kesulitan air bersih yakni Seberang Pebayan dan Penggalangan. “Ada dua titik yang paling parah mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih yakni di RW 3 di Penggalangan dan RW 4 di Seberangpebayan,” jelas Eka.

Ada 500 KK lebih di Kelurahan Batang Arau ini terdampak kekeringan dari jumlah KK di Kelurahan Batang Arau sebanyak 1.300 KK. “Ya, hampir setengah KK di sini terdampak kekeringan. Karena mereka tinggal di perbukitan dan sumber utama air mereka adalah mata air di Bukit Gado-gado yang saat ini kering,” ungkapnya.

Lebih lanjut Eka menyampaikan, saat ini permasalahan utama warga adalah kekurangan air bersih untuk kebutuhan memasak dan minum. Sedangkan untuk mandi dan mencuci, ada beberapa sumur yang masih berair namun kondisi tidak bersih.

Eka mengatakan, permasalahan kekeringan ini telah hampir terjadi setiap tahun. Untuk mengatasi hal tersebut, pihaknya telah mengusulkan masalah kekeringan ini pada pembahasan tingkat pengembangan kelurahan. “Dan alhamdulillah pada tahun 2021, kami mendapatkan bantuan dari dana pokir anggota DPRD untuk pembuatan sumur bor dengan anggaran Rp 100 juta,” kata Eka.

Menyikapi kekeringan yang dialami warga, BPBD Kota Padang mulai melakukan penyaluran air bersih ke dua Kelurahan di Kota Padang yang mengalami dampak kekeringan dan kekurangan air bersih.

“Sampai saat ini kami baru mendapatkan laporan kekeringan di 2 Kelurahan yakni Seberangpalinggam dan Batang Arau di Kecamatan Padang Selatan. Setelah mendapatkan laporan kami dibantu air dari Perumda Air Minum Kota Padang langsung ke lokasi,” jelas Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Padang, Sutan Hendra.

Sutan mengatakan, ada lebih dari 500 KK di dua Kelurahan itu yang terkena dampak kekeringan dan kekurangan air bersih. Kondisi itu disebabkan karena kemarau yang terjadi beberapa minggu terakhir.

Penyaluran air bersih dilakukan dengan menggunakan mobil BPBD Kota Padang dimana dalam satu penyaluran bisa mengakut 5 ribu liter air bersih yang dibantu dari Perumda Air Minum Kota Padang.

Sutan menambahkan, untuk penyaluran air bersih di dua kelurahan, pihaknya tidak membatasi jumlah air yang disalurkan. Ia mengaku, jika masih ada warga yang butuh air bersih, mereka akan menyalurkannya.

“Jadi tidak dijatah berapa per kelurahan, selagi ada warga yang butuh, ya kami akan salurkan air bersih. Jadi sampai saat ini baru 2 kelurahan itu yang terdampak kekeringan,” ujar Sutan.

Lebih lanjut Sutan menyampaikan, masalah kekeringan memang kerap terjadi di Kota Padang ketika musim kemarau melanda Kota Padang. Pada tahun lalu tercatat ada beberapa Kecamatan yang mengalami kekeringan yakni Lubukbegalung (Lubeg), Pauh, Lubukkilangan (Luki), dan lainnya.

Padang Berpotensi Hujan
Terpisah, Kepala Stasiun BMKG Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Padangpariaman, Sakimin mengatakan kondisi ini merupakan sirkulasi atmosfer yang membuat udara basah bergerak ke wilayah Selatan dan wilayah Utara menjadi kering.

“Sebenarnya Kota Padang belum memasuki musim kemarau. Masih dalam musim penghujan, kalau diprediksi dalam minggu ini sudah berpotensi hujan, mungkin waktu malam hari walaupun intensitasnya belum sampai lebat masih ringan dan sedang,” katanya kepada Padang Ekspres, kemarin (16/2) malam.

Dia menambahkan, cuaca di Kota Padang pada siang harinya saat ini berada pada suhu dalam ruangan antara 32-33 derajat celcius dan 34 derajat celcius suhu di luar ruangan.
“Memang posisi Kota Padang terletak di wilayah pesisir pantai atau dataran rendah kemudian mendekati ekuator, sehingga mempunyai efek suhu rata-rata lebih tinggi (panas) dari daerah yang jauh dari ekuator atau dataran tinggi,” tandasnya. (a/r)