Seorang Petugas Puskesmas di Padang Positif Covid-19

Puskesmas Pagambiran tampak tutup, kemarin. Pelayanan kesehatan dihentikan setelah salah seorang petugas di Puskesmas positif Covid-19. (Indra - Padek)

Puskesmas Pagambiran tidak menerima layanan alias tutup dua hari belakangan, sejak Rabu (15/4). Diketahui, puskesmas tersebut tutup lantaran satu orang petugasnya dinyatakan positif terinfeksi virus korona (Covid-19).

Pantauan Padang Ekspres di lokasi, Jumat (17/4) sekitar pukul 13.04, akses orang untuk masuk Puskesmas Pagambiran tidak bisa karena pagar di pintu gerbang tampak dikunci. Sementara di sekitar area puskesmas tampak sunyi seperti tidak ada aktivitas sama sekali.

Salah seorang warga setempat, Oljegule, 74, kepada Padang Ekspres mengatakan, berdasarkan informasi yang dia terima, Puskesmas Pagambiran telah dua hari sejak Rabu kemarin, tidak menerima layanan.

“Sudah dua hari ini tidak menerima layanan, karena ada satu orang petugas puskesmas terinfeksi virus korona. Saya lihat, hari itu juga datang pihak dinas kesehatan kota untuk melakukan penyemprotan (disinfektan) ke seluruh area puskesmas dan rumahnya, sekaligus pemeriksaan seluruh petugas termasuk para dokter,” katanya.

Dia mengaku sama sekali tidak mengetahui sampai kapan Puskesmas Pagambiran tidak menerima layanan. “Saya kurang tahu. Entah sampai kapan dibuka lagi, kurang tahu,” imbuh Oljegule.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Padang Ferimulyani mengklaim, Puskesmas Pegambiran tidak tutup, melainkan mengurangi pelayanan. “Bukan ditutup, tapi mengurangi pelayanan, karena di situ ada satu kasus positif (Covid-19). Kini kami sedang mencari formula pelayanan apa yang bisa dilakukan dalam kondisi telah ada petugas yang positif (Covid-19) di situ,” ujarnya.

Dia menambahkan, satu orang petugas Puskesmas Pagambiran yang dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19 tersebut dirawat di salah satu rumah sakit khusus penanganan Covid-19.

Feri menyampaikan, pihaknya belum bisa memastikan hingga kapan Puskesmas Pagambiran akan mengurangi pelayanan. “Tidak tahu saya apakah satu minggu atau dua minggu, kita lihat dulu tren penularannya,” tukas Ferimulyani. (i)