Kesiapan RSUP M Djamil Antisipasi Lonjakan Kasus Covid-19

Pasien saat dirujuk menuju RSUP M. Djamil Padang.

Tren kasus Covid-19 di Sumbar terus mengalami kenaikan. Selaku rumah sakit rujukan terakhir, RSUP M Djamil Padang menyiapkan diri semaksimal mungkin. Dengan harapan agar mampu memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi warga Sumbar. Seperti apa kesiapan RSUP M Djamil menghadapi lonjakan kasus Covid-19 ini?

Penyebaran virus korona cukup masif dari hari ke hari. Kondisi saat ini, pasien terkonfirmasi positif Covid-19 di Sumbar terus bertambah. Belum lagi temuan kasus orang tanpa gejala (OTP) atau pun orang dalam pengawasan (ODP) serta pasien dalam pengawasan (PDP) setiap harinya.

RSUP M Djamil Padang selaku rumah sakit rujukan Covid-19 mulai berbenah dan mengantisipasi jika terjadi lonjakan kasus. Dengan harapan, tidak terjadi kewalahan dan gangguan dalam pelayanan kesehatan terhadap pasien.

“Di RSUP M Djamil awalnya menyiapkan delapan tempat tidur di ruang Isolasi pada Februari lalu. Kesiapan tersebut untuk perawatan kasus MERS-Cov. Belum untuk kasus Covid-19,” kata Direktur Utama RSUP M Djamil Padang Dr dr Yusirwan Yusuf SpB SpBA (K) MARS didampingi Direktur Umum, SDM dan Pendidikan Dr dr Dovy Djanas SpOG (K) di RSUP M Djamil Padang, pekan lalu.

Seiring adanya kasus Covid-19 ini, sebut Yusirwan, pihaknya menambah sebanyak 34 tempat tidur. Kemudian menjadi 80 tempat tidur. “Dan saat ini sudah tersedia sebanyak 112 tempat tidur. Dan akan ditambah lagi 80 tempat tidur pada bangsal bedah. Totalnya ada sekitar 192 tempat tidur disiapkan,” sebutnya.

Yusirwan menyebutkan tidak hanya penambahan tempat tidur saja. Mulai 4 Mei lalu, pelayanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP dengan standar layanan Covid-19 level 3. Di samping membagi ruangan IGD atas tiga zona terdiri dari zona merah, kuning maupun hijau. Tiga zona tersebut didasari agar tidak terjadi penularan kasus Covid-19. “Jadi, tidak ada satu pun pasien yang bisa lolos masuk ke IGD. Mereka harus menjalani standar layanan Covid-19,” tutur Yusirwan.

Mulai dari masuk IGD, sebut Yusirwan, pasien harus menjalani skrining terlebih dahulu. Tidak hanya melihat dari demam saja, pasien juga menjalani rangkaian uji laboratorium dan radiologi terlebih dahulu. Sebelum uji PCR (Polymerase Chain Reaction).
Jika pasien itu dari hasil laboratorium dan radiologi positif maka dinamakan orang tanpa gejala (OTG) atau orang dalam pengawasan (ODP). Mereka ini akan ditempatkan di zona kuning.

“Jika pasien tersebut infeksius dengan gejala batuk makin menjadi maka dinamakan pasien dalam pengawasan (PDP). Pasien infeksius tersebut kita tempatkan di zona merah. Sementara zona hijau untuk administrasi,” ucap Yusirwan.

Jadi, sebut Yusirwan, zona merah tersebut diartikan diperuntukkan bagi pasien yang dicurigai Covid-19 sebelum hasil uji PCR keluar. Jika hasil uji PCR positif, pasien ini akan ditempatkan di ruang isolasi. “Di ruang isolasi sendiri tersedia berbagai fasilitas. Terdiri dari ICU dengan empat tempat tidur, HCU empat tempat tidur dan bangsal 34 tempat tidur. Totalnya 42 tempat tidur,” sebutnya.

Jika uji PCR negatif, sebut Yusirwan, pasien akan ditempatkan pada bangsal yang sudah disiapkan. “Ini menghindari terjadinya penularan kasus Covid-19 ini,” ujar Yusirwan.

Di RSUP M Djamil sendiri juga tidak ada lagi bangsal ortopedi maupun syaraf. Yang ada hanya dua bangsal saja yakni bangsal surgical dan bangsal medical. “Dulunya, ada klaster rawatan VIP, kelas I, kelas II dan kelas III. Saat ini dibagi atas zona merah, kuning dan hijau. Tiga zona ini berlaku di seluruh bangsal di rumah sakit ini,” sebut Yusirwan.

Yusirwan sendiri juga meminta rumah sakit umum daerah yang mempunyai sarana melayani pasien Covid-19 hendak melakukan rujukan ke RSUP M Djamil Padang atas pasien Covid-19 dengan komorbid. Komorbid di sini dimaksudkan beberapa penyakit penyerta. “Ini agar teroptimalkan pelayanan kesehatan di RSUP M Djamil sendiri,” pinta Yusirwan yang juga didampingi PPID RSUP Gustavianof.

Bagaimana dengan pelayanan ibu dan anak? Yusirwan menjelaskan awalnya RSUP M Djamil Padang menyiapkan dua tempat tidur saja untuk anak. Dikarenakan proporsional angka kesakitan Covid-19 untuk anak di bawah usia 5 tahun kisaran 0,0 sekian persen. “Jadi, ketersediaan tempat tidur tersebut berdasar proporsi tadi,” ucapnya.

Ternyata dalam perjalanan, sebut Yusirwan, banyak proses kelahiran dengan operasi sectio yang disertai komorbid. “Teman-teman di daerah tentu merujuk ke RSUP M Djamil. Kondisi demikian tentu kewalahan. Dua tempat tidur yang tersedia tidak muat lagi. Bahkan sehari bisa empat atau lima operasi sectio di RSUP dengan pasien tersangka Covid-19,” sebut Yusirwan.

Atas kondisi demikian, sebut Yusirwan, pihaknya menelurkan kebijakan dengan menyiapkan bangsal anak dengan enam ruangan. Di mana, satu ruangan ada dua tempat tidur dan ada satu tempat tidur. Juga dilengkapi dengan fasilitas HCU. Begitu juga menyiapkan dua ruangan untuk bayi yang baru lahir dan bayi baru lahir dengan pasien positif Covid-19.

“Dibangsal tersebut pun dibagi atas tiga zona. Yakni merah, kuning dan hijau. Semuanya dengan standar pelayanan Covid-19. Dan juga tersedia ruangan dekontaminasi, penukaran APD dan kamar mandi bagi tenaga medis,” sebutnya.

RSUP sendiri, Yusirwan menyebutkan tidak lagi mengejar keuntungan. Pasalnya, Embun Pagi RSUP juga disulap sebagai bangsal untuk penanganan kasus Covid-19 dengan ketersediaan 26 tempat tidur. “Dan, juga menyediakan kamar istirahat bagi tenaga medis yang bertugas,” tutur Yusirwan.

Ketersediaan SDM

Yusirwan juga menegaskan mengantisipasi lonjakan kasus tersebut tentunya membutuhkan sumber daya manusia (SDM) serta ketersediaan alat pelindung diri (APD) mencukupi. Penambahan kebutuhan SDM saat ini tiga atau empat kali lipat dengan kondisi melayani dengan tempat tidur yang sama. “Waktu kerjanya atau shifting biasanya delapan jam sekarang tiga atau empat jam dengan enam atau tujuf shift,” sebutnya.

Perawat di zona merah dan isolasi, tutur Yusirwan, harus memenuhi sejumlah kriteria. Di antaranya usia perawat tidak boleh lebih dari 50 tahun dan tidak boleh komorbid. Sisanya ada kisaran 300 perawat harus melayani 550 pasien idealnya.
“Setelah didiskusikan dengan gubernur atau pun wakil gubernur, sebanyak 20 tenaga kesehatan dibantu dengan kontrak kerja selama dua atau tiga bulan. Alhamdulillah, kita terbantu,” ucap Yusirwan.

Yusirwan menyebutkan untuk ketersediaan alat pelindung diri (APD), semua petugas menggunakan APD level 3. “Alhamdulillah, ketersediaan APD ini mendapat perhatian dari gubernur, wakil gubernur serta wali kota Padang. Termasuk BNPB sendiri dan pihak donatur lainnya,” ucapnya didampingi Dovy Djanas.

Dengan berbagai kebijakan ditelurkan, sebut Yusirwan, selalu mengomunikasikan dengan gubernur, wakil gubernur, dan kepala dinas kesehatan Sumbar. “Kami mengucapkan terima kasih atas kepedulian serta dukungannya terhadap RSUP. Kami pun juga semangat melayani pasien yang dirujuk,” tukasnya. (*)