246 Ekor Sapi Kurban Tak Layak Sembelih

10
TINJAU HEWAN KURBAN: Kepala Distan Padang Syahrial Kamat didampingi Kabid Keswan dan Kesmavet Sovia Hariani saat meninjau tempat penampungan/ penjualan hewan kurban di Sawahliek, Kecamatan Nanggalo, Sabtu (17/7).(ERI M/PADEK)

Dinas Pertanian (Distan) Kota Padang menemukan 300 ekor sapi yang tidak layak untuk dijadikan hewan kurban pada hari Idul Adha tahun 1442/2021 nanti. Temuan tersebut didapatkan setelah dilakukan pemeriksaan kesehatan terhadap sapi kurban sejak bulan Januari sampai satu hari sebelum Idul Adha.

Kepala Dinas Pertanian Kota Padang Syahrial Kamat didampingi Kabid Keswan dan Kesmavet Sovia Hariani mengatakan, pihaknya sudah melakukan pemeriksaan di 42 tempat penampungan hewan kurban yang ada di 11 kecamatan di Kota Padang.

Dari 42 tempat penampungan hewan kurban itu, pihaknya sudah memeriksa sebanyak 2.625 ekor sapi. Dimana 2.379 ekor sapi dinyatakan sehat, sedangkan sisanya 246 ekor sapi belum layak disembelih untuk dijadikan hewan kurban.

“Saat pemeriksaan itu, kita masih menemukan sapi yang cacat, belum cukup umur, sapi betina dan sakit,” kata Syahrial Kamat saat meninjau tempat penampungan hewan kurban di kawasan Sawahliek, Kecamatan Nanggalo, Sabtu (17/7).

Bagi sapi yang belum layak ini untuk sementara belum diberikan label. Sementara sapi yang sehat langsung diberikan label sehat dan layak disembelih. Adapun hal-hal yang diperhatikan saat pemeriksaan hewan kurban tersebut antara lain meliputi pemeriksaan kondisi mulut, mata, hidung, telinga, anus dan lainnya.

Lalu tidak cacat (tidak pincang, tidak buta, daun telinga tidak rusak, tanduk tidak patah) dan tidak kurus. Bulu bersih dan mengkilap, lincah, muka cerah, nafsu makan baik. Berjenis kelamin jantan dan betina yang sudah tidak produktif.

Cukup umur, dimana kambing/domba yang berumur diatas 1 tahun dengan ditandai dengan tumbuh sepasang gigi tetap. Kemudian sapi/kerbau berumur diatas 2 tahun ditandai dengan tumbuhnya sepasang gigi tetap.

Untuk itu, ia menyarankan kepada panitia kurban agar dapat membeli hewan ternak yang telah ada label sehatnya. Sebab hewan tersebut telah melalui proses pemeriksaan sehingga dipastikan aman dan layak dikonsumsi.

“Insya Allah, hewan kurban yang dibeli di tempat-tempat penampungan di Kota Padang aman dan sehat,” ujar Syahrial.

Ia menjelaskan, selain dipasok dari peternak lokal, sapi kurban juga dipasok dari daerah tetangga seperti daerah Pesisir Selatan, Pariaman dan daerah lainnya. Sementara itu, ia memprediksi hewan kurban yang akan dipotong pada Idul Adha tahun ini sekitar 7.000 ekor. Namun, ia berharap jumlahnya bisa meningkat.

Baca Juga:  Sumbar Tuan Rumah Munas Ke-7 Gebu Minang

“Kita tentunya berharap mudah-mudahan jumlahnya bisa meningkat. Sehingga bisa memberi manfaat lebih banyak kepada masyarakat,” tuturnya.

Ia menambahkan, sejak awal bulan Juli lalu, pihaknya sudah mulai melakukan persiapan dalam menyambut Hari Raya Idul Adha, seperti memberikan sosialisasi dan bimtek kepada pengurus masjid, musala dan panitia kurban tentang bagaimana penyembelihan hewan kurban sesuai kriteria “ASUH” yakni aman, sehat, utuh dan halal.

Bimtek tersebut bertujuan mengedukasi masyarakat, khususnya panitia kurban terkait pembelian dan penyembelihan hewan kurban. Sehingga diharapkan mereka mengetahui hewan ternak yang sehat dan baik untuk dijadikan hewan kurban.

62 Petugas Keswan Disiagakan

Untuk memastikan kesehatan hewan kurban yang akan dibagikan kepada masyarakat, pihaknya mengerahkan sebanyak 62 petugas untuk bersiaga dan bertugas di masjid/mushala.

Syahrial menyebutkan, daging yang telah disembelih itu akan dilihat apakah terdapat beberapa kejanggalan pada bagian tubuh seperti hati, limpa, dan lainnya. Jika kedapatan ada tanda-tanda penyakit, maka daging hewan kurban itu tidak boleh dibagikan kepada masyarakat dan langsung dimusnahkan. Bagi daging yang terpantau aman dan sehat, maka akan diberikan tanda bahwasanya daging hewan itu bisa dan aman dikonsumsi.

Selain itu, pihaknya juga mengimbau kepada pengurus masjid/musala dalam membagikan daging kurban kepada masyarakat untuk tidak menggunakan kantong plastik hitam.
Alasannya karena kebanyakan kantong plastik hitam dan kantong plastik pada umumnya banyak mengandung zat-zat berbahaya dan dikhawatirkan akan mengkontaminasi daging kurban tersebut.

“Kita anjurkan untuk menggunakan kantong atau pembungkus alami seperti daun pisang, bambu yang dibuat keranjang, dan lainnya,” jelasnya.

Kemudian, ia mengimbau kepada panitia kurban ketika membagikan daging kurban kepada masyarakat sebaiknya tidak dilakukan di masjid/musala untuk menghindari terjadinya kerumunan. “Alangkah lebih baik di tengah pandemi Covid-19 dan penerapan PPKM darurat, panitia membagikan daging kurban itu langsung ke rumah-rumah warga,” ungkapnya.

Sementara itu, salah seorang pedagang hewan kurban di kawasan Sawahliek, Irfan Ansori mengatakan sapi yang dijualnya sudah dilengkapi label sehat dan layak konsumsi dari Dinas Pertanian Padang.

“Di sini (penampungan) ada sebanyak 140 ekor sapi. Semuanya sudah diperiksa oleh dinas terkait,” ungkapnya.

Ia menyebut, satu ekor sapi rata-rata dijual dengan harga berkisar Rp 16 juta. Tinggi rendahnya harga sapi tergantung bobot sapi. (eri/adt)