Hati-Hati, Penderita ISPA Meningkat Drastis

25
MELONJAK: Para pasien bergantian mengukur tensi sebelum dilakukan pemeriksaan kesehatan di Puskesmas Lubukbuaya, Selasa (20/9).(IST)

Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kota Padang mengalami peningkatan yang signifikan di musim pancaroba ini. Di Puskesmas Lubukbuaya, penderita ISPA per Agustus tercatat 784 orang. Sementara bulan Juli hanya 305 orang.

“Bulan Agustus lalu, pasien meningkat drastis. Tidak saja penyakit ISPA, tapi juga penyakit lainnya seperti demam, batuk dan pilek,” kata Dokter Umum Puskesmas Lubukbuaya Putri Dewita Sari kepada Padang Ekspres, Selasa (20/9).

Ia menjelaskan, penyakit dengan gejala batuk, pilek dan demam dibedakan beberapa kategori. Yang memiliki gejala batuk, pilek, demam dan flu, biasanya masuk ke diagnosa ISPA. Ada juga yang memiliki gejala hanya demam dan pharyngitis atau infeksi tenggorokan saja, masuk ke dalam kategori masing-masing.

Setiap bulan di Puskesmas Lubukbuaya selalu membeludak. Puncaknya terjadi pada bulan Agustus sebanyak 784 pasien ISPA, 452 pasien pharyngitis, sedangkan untuk pasien dengan gejala demam saja sebanyak 119 orang.

Sementara di bulan Juli, pasien ISPA hanya 305 orang, pasien dengan kondisi pharyngitis 128 orang dan demam hanya 111 orang. Lebih lanjut, pasien pada bulan Juni juga hampir sama dengan bulan Juli yakni ISPA sebanyak 302 pasien, pharyngitis 194 pasien dan demam 94 pasien.

Pada bulan Mei, pasien ISPA sebanyak 277 pasien, penderita pharyngitis 114 pasien sedangkan demam 70 pasien. Di bulan April, ISPA berada pada angka 211 pasien, pharyngitis 42 pasien dan demam 56 pasien. Untuk di bulan Maret, pasien ISPA 368 pasien, pharyngitis dan demam masing-masing 77 pasien.

“Saat ini pemeriksaan Covid-19 atau PCR kan sudah tidak ada di puskesmas, jadi untuk mendiagnosa sebagai pasien Covid-19, kita juga tidak bisa. Kita hanya bisa melakukan prosedur penanganan untuk penyakit ISPA atau demamnya saja,” ungkap Putri.

Menurutnya, salah satu faktor membeludaknya pasien dengan gejala demam, batuk, pilek, saat ini kemungkinan karena perubahan iklim yang ekstrim di Padang. Perubahan yang cepat dari panas ke hujan.

“Saat membeludak ini juga banyak pasien yang memiliki riwayat sudah batuk, pilek, demam atau demam lebih dari seminggu. Jadi jangkanya memang lebih lama. Bahkan ada yang berulang, sebulan batuk, pilek, belum juga sembuh. Padahal, biasanya batuk, pilek jika diobati akan sembuh sekitar seminggu saja,” katanya.

Penanganan yang dilakukan terhadap pasien tergantung dengan gejala yang diderita. Jika ada batuk yang berkelanjutan, maka akan disarankan untuk mengecek dahak dan diberikan antibiotik. Bila terdeteksi seperti TBC, akan diberi pengobatan lanjutan.

Senada, Puskesmas Ikurkoto juga memiliki pasien gejala demam, batuk, pilek yang meningkat, meskipun tak sebanyak pasien yang ada di Puskesmas Lubukbuaya. Di sini, pasien dengan gejala demam dan batuk, pilek masuk ke diagnosa ISPA dengan kategori pembeda berdasarkan umur.

Di bulan Maret, pasien ISPA umur 0-5 tahun berjumlah 40 orang sedangkan umur di atas 5 tahun berjumlah 196 orang. Pada bulan April 0-5 tahun sebanyak 50 orang, >5 tahun 99 orang. Bulan Mei 0-5 tahun berjumlah 27 orang, >5 tahun 90 orang.

Bulan Juni dan Juli meningkat sedikit berkisar di angka 58 orang dan 56 orang untuk usia 0-5 tahun dan 137 orang dan 121 orang usia >5 tahun. Puncaknya adalah Agustus dengan pasien ISPA 0-5 tahun sebanyak 108 orang dan >5 tahun sebanyak 317 orang.

Baca Juga:  Beragam Kesenian Daerah Tampil di Pekan Kebudayaan Daerah 2022

“Untuk umur 1-5 bulan masih jarang. Biasanya mulai ada pasien di bawah 5 tahun itu di umur 6 bulan,” jelas Penanggung Jawab Program ISPA Puskesmas Ikur Koto Ainil Fitri.
Selain cuaca, menurut Ainil cepatnya penyebaran dan durasi yang cukup lama bagi penderita batuk, pilek saat ini karena penyebaran melalui droplet atau cipratan liur.

“Mungkin karena saat ini sudah longgar Covid-19, jadi banyak juga yang lepas masker padahal mereka sedang batuk dan pilek. Bisa saja orang yang dalam penyembuhan tertular lagi dari yang lain melalui droplet sehingga tidak jadi sembuh malah sakit berkepanjangan,” ungkapnya.

Penanganan yang dilakukan saat ini juga berdasarkan keluhan, jika demam maka diberikan obat penurun panas. Jika batuk gatal bisa saja diberi CTM, vitamin dan sebagainya. Bila perlu diberikan antibiotik.

Kondisi serupa juga terlihat di Puskesmas Andalas. Jumlah pasien ISPA juga meningkat. Penanggung jawab upaya kesehatan masyarakat dr. Pratiwi mengatakan lonjakan penderita ISPA terjadi di bulan Agustus, terdapat sebanyak 870 pasien.

Sementara di bulan Maret tercatat sebanyak 459 pasien, April 334 pasien, Mei 158 pasien, Juni 300 pasien, Juli 401 pasien. Pratiwi mengatakan untuk kasus penyakit ISPA ini, disarankan untuk melakukan tes swab, antigen dan PCR, karena menurutnya ini merupakan gejala penyakit Covid-19.

Puskesmas secara rutin melakukan edukasi kepada masyarakat setiap dua kali seminggu dalam ruangan, sementara untuk penyuluhan terhadap masyarakat rutin sekali sebulan.
Sementara untuk pencegahan, puskesmas selalu mengingatkan agar masyarakat tetap menjalankan protokol kesehatan, serta menjaga pola makan.

Terpisah, Kepala Puskesmas Ulakkarang, Celsia K. Darsun menuturkan kasus penyakit ini memang terus mengalami peningkatan, sejak bulan Maret terdata ada 64 kasus, yang di dalamnya sudah termasuk batuk, pilek, dan demam.

Kemudian bulan April meningkat sebanyak 70 kasus, di bulan Mei terdata hanya sebanyak 133 orang yang terdampak. Lalu Juni meningkat sebanyak 13 kasus menjadi 146 orang yang terdampak.

Di bulan Juli terjadi peningkatan sekitar 31 kasus, sehingga total yang terdampak menjadi 177 orang. Terakhir di bulan Agustus 2022 bertambah lagi sekitar 11. Sehingga ada sebanyak 188 orang.

Menurutnya, penyakit batuk, pilek dan demam ini bisa disebabkan karena adanya perubahan cuaca. Sehingga sangat mudah menyerang orang yang punya daya tahan rendah.

“Peningkatan kasus terjadi karena adanya pancaroba. Untuk mengantisipasi hal tersebut kita melakukan senam bersama masyarakat. Selain itu, juga melakukan penyuluhan, memberikan pengarahan betapa pentingnya menjaga kesehatan baik diri sendiri, keluarga maupun lingkungan sekitar,” ujarnya.

Untuk pemeriksaan, bagi pasien yang datang ke puskesmas, selalu diupayakan untuk tes swab. Ini tujuannya untuk mengetahui apakah penyakit Covid-19 atau bukan. Kemudian juga diberikan resep obat kepada pasien. Jadi setiap warga yang berobat ke sini kita selalu lakukan skrining,” terangnya. (cr7/cr8)