Masjid Muhammadan, Pertahankan Keaslian, Ramai Dikunjungi Jamaah Luar

22
Masjid Muhammadan, Jalan Pasar Batipuh, Kelurahan Pasagadang, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang. (IST)

Masjid Muhammadan menjadi gambaran keaslian masjid bersejarah masa lalu. Kehadiran masjid tersebut tak terlepas dari keberadaan masyarakat keturunan India, atau biasa disebut orang keling. Seperti apa?

Masjid Muhammadan berlokasi di Jalan Pasar Batipuh, Kelurahan Pasagadang, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumbar ini, salah satu masjid tertua di Kota Padang. Saat menginjakan kaki di masjid ini, pasti kita akan terkagum-kagum karena dihiasi oleh dua tiang menara dan seluruh bangunan berwarna putih dengan garis-garis hijau mendominasi.

Masjid Muhammadan berukuran tidak besar jika dibandingkan masjid tua lainnya di Kota Padang, layaknya Masjid Raya Ganting. Kendati demikian, masjid tersebut memiliki bentuk arsitektur khas, perpaduan arsitektur India dan Islam.

”Bangunan masjid ini dibuat dari kapur, tidak dari semen. Hal itu terbukti setelah pascagempa di Kota Padang 30 September 2009 lalu, ada dinding keropos dan terlihat bahannya dari kapur,” kata tokoh masyarakat sekitar Haji Musthafa Bin H Ahmad Tayyab Syahib kepada Padang Ekspres, Rabu, (21/4).

Musthafa menjelaskan, Masjid Muhammadan ini dibangun orang dari luar. Tepatnya, asal Gujarat (sekarang dikenal dengan nama India). ”Mereka itu para alim ulama, terdiri dari tujuh orang atau lebih datang ke sini secara kebetulan. Kapal mereka terdampar, tepatnya di Batang Arau atau Muara,” ungkapnya.

Menurut dia, alim ulama India tersebut datang saat menjelang Shalat Zuhur. ”Jadi kebiasaan orang India itu membawa kain goni, dan dihamparkannya lah kain goni tersebut. Setelah itu, mereka Shalat Zuhur di sini,” bebernya.

Hari demi hari berlalu, mereka mendapat respons dari masyarakat sekitar dengan berkumpul ramai-ramai, dan hasil musyawarah didirikanlah musala di sini. ”Mulanya musala dibangun, ada empat tiang pertama dibuat, dikurung dengan kain goni dan atapnya memakai daun nipah,” sambung Musthafa.

Informasi yang diperolehnya, Masjid Muhammadan ini dibangun tahun 1814 dan ada pula orang mengatakan bahwa tahun 1700-an masjid ini sudah ada. ”Berkisar tahun 1900-an, generasi itu tidak ada lagi. Belum ada informasi yang jelas apakah generasi tersebut kembali ke India atau masih menetap di sini,” ulasnya.

Tapi yang jelas pada tahun 1900-an itu, lanjutnya, ada seorang ustad keturunan sini bernama Said Thajuddin Bin Said Shaleh mengembangkan agama Islam. Dia memberikan pengajaran Tauhid atau ilmu kalam dan lainnya. ”Beliau merupakan ulama tasawuf atau ulama sufi. Menyebarkan agama Islam sambil mengajarkan ilmu agama. Muridnya datang dari daerah lain,” imbuhnya.

Baca Juga:  Kapolresta Tinjau Kesiapan Posko Lebaran

Berjalannya waktu, tahun 1900-1950 mulailah jamaah beramai-ramai datang. Karena, kebetulan yang mengurus masjid ini orang yang keturunan dari India. ”Karena banyak yang mengurus masjid dari keturunan India, jadi tradisi di sana terbawa sampai hari ini,” sebut Musthafa.

Salah satu paling unik, tradisi Serak Gulo. Sebuah tradisi menyerakkan (membagi-bagikan) gula untuk berbagai rezeki dengan masyarakat sekitar. ”Tradisi ini berlangsung pada 1 Jumadil Akhir di setiap tahunnya, atau tiga bulan menjelang bulan Ramadhan. Setiap tahun biasanya menghabiskan lebih dari 1 ton gula untuk dibagikan,” ujarnya.

Masjid Muhammadan cukup aktif pemanfaatannya sebagai tempat ibadah. Selain sebagai tempat shalat lima waktu, juga digunakan untuk bermusyawarah. ”Masjid Muhammadan setiap hari Senin melakukan musyawarah dengan umat Islam dari seluruh daerah di Sumbar,” akunya.

Untuk setiap Kamis, tambah dia, perhimpunan seluruh masyarakat di Kota Padang dan Sumbar beriqtikaf sampai Jumat pagi. ”Dari beriqtikaf itu, juga mengantarkan jamaah untuk berdakwah ke daerah-daerah di Sumbar,” ungkapnya.

Menjelang Hari Raya Idul Fitri, Masjid Muhammadan juga ramai didatangi para perantau India yang datang dari wilayah luar Sumbar. ”Tak sekadar hanya mengunjungi, para perantau ini juga ikut beribadah di Masjid Muhammadan sembari mudik ke Kota Padang,” tuturnya.

Khusus penyelenggaraan Shalat Tarawih di bulan Ramadhan, kata dia, Masjid Muhammadan sebanyak 20 rakaat dengan 3 orang imam jamaah lokal. ”Cuma, saat ini dengan suasana pandemi Covid-19 hanya jamaah lokal yang dipakai dengan Hafizul Quran. Biasanya, ada lulusan Saudi Arabia, Mesir, Yaman dan Afrika,” katanya.

Di malam-malam terakhir Ramadhan, lanjutnya, jamaah akan ramai, ada doa qunut atau doang Qhatam Quran, serta berbuka bersama dengan jamaah sampai sahur tiba. ”Sejak berdiri, masjid ini tidak pernah sepi dari jamaah, terlebih saat Ramadhan. Jika hari-hari biasa jamaah yang datang dari berbagai daerah di Sumbar, sesekali dari luar provinsi,” jelasnya.

Hingga saat ini, tambahnya, Masjid Muhammadan masih terjaga keasliannya. Tidak banyak perubahan pada bangunan masjid. Hanya beberapa renovasi dan perbaikan kecil yang dilakukan agar masjid tetap nyaman digunakan. (randi zulfahli-Padang Ekspres)

Previous articlePemerintah Jamin tak Ada Impor Beras
Next articleTelkomsel Buka Layanan TEMS, Garap Bisnis Keamanan Siber