Penjualan Bunga Rampai di TPU Sepi

Peziarah membersihkan kuburan dan berdoa untuk keluarganya yang telah meninggal dunia. (ade syaf putra/posmetro )

Berkurangnya peziarah yang datang di Tempat Pemakaman Umum (TPU) akibat pandemi Covid-19, berimbas terhadap pendapatan penjual bunga di TPU Kota Padang. Salah satunya di TPU Tunggulhitam.

Salah seorang penjual bunga, Rini, 35, mengatakan, dibandingkan tahun lalu, saat ini peziarah di TPU Tunggulhitam jauh berkurang sejak satu minggu terakhir. Padahal sebelum adanya wabah Covid-19 ini, satu minggu sebelum puasa banyak peziarah yang melakukan ziarah kubur.

Ia mengungkapkan, sejak pagi hari berada di TPU Tunggulhitam, satu hari ini saja bunga yang dia jual hanya laku tiga bungkus saja. “Dari pagi sudah di sini, dan laku cuma tiga bungkus. Satu bungkusnya saya jual Rp 10 ribu,” ungkapnya.

Senada, pedagang bunga rampai lainnya, Efrianti Rusli, 48 juga mengaku sepi. “Tahun sebelumnya dalam satu hari itu kita bisa dapat penghasilan Rp 300-500 ribu, sekarang hanya Rp 50-150 ribu saja,” katanya.

Dia menyadari sepinya peziarah karena banyak orang yang takut beraktivitas ke luar rumah di tengah wabah virus korona (Covid-19). Kondisi ini merupakan yang terparah selama puluhan tahun ia berjualan bunga rampai.

“Ini paling parah selama jualan bunga rampai. Mudah-mudahan beberapa hari lagi menjelang bulan puasa ini banyak peziarah yang datang,” harapnya.

Bunga rampai dijual Rp 5 ribu per kantong. “Kalau beli 3 kantong Rp 10 ribu dan saya juga menjual air mawar Rp 5 ribu dan air mineral Rp 4 ribu,” ujarnya.

Pedagang lainnya, Nedya, 36, menyebutkan keadaan sepi peziarah sudah dirasakan sejak dua minggu terakhir. Dalam sehari, dia hanya mampu menjual 5-10 kantong bunga dengan harga Rp 5 ribu.

“Kalau sepinya dari dua minggu lalu. Kadang seharian penuh tidak ada yang beli. Kalau pun ada yang beli paling cuma satu atau dua orang,” ujarnya.

Sementara itu, Misna Erita, 48, yang berprofesi sebagai pembersih makam juga merasakan sepinya peziarah. “Tahun lalu satu hari bisa dapat Rp 50-70 ribu. Sekarang saja dapatkan Rp 20 ribu aja susahnya minta ampun,” ungkapnya.

Hal senada juga dikatakan pembersih makam lainnya, Aldi, 38. Dia mengatakan, pada ziarah kubur tahun ini jumlah peziarah turun drastis sekitar 70 persen karena masyarakat takut keluar rumah lantaran wabah Covid-19.

Pada tahun lalu satu minggu jelang bulan Ramadhan, dia bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu. Namun saat ini, ia hanya baru mendapatkan Rp 40 ribu dari jasa membersihkan makam.

“Sejak pagi saya menunggu para peziarah datang ke TPU, tidak begitu banyak yang datang. Biasanya hari minggu ini sangat ramai,” ujarnya.

Aldi menjelaskan, petugas kebersihan kuburan musiman biasanya dilakukan tujuh hari jelang bulan puasa. Biasanya ia datang ke TPU pada pukul 07.00 pagi sampai 18.00 untuk membersihkan makam yang diminta oleh peziarah.

Salah seorang peziarah, Syefnirmaita, 54, menyebutkan dia berziarah ke TPU Tunggulhitam bersama keluarga besar sudah menjadi rutinitas setiap menjelang bulan puasa.

“Sudah menjadi kebiasaan rutin dilakukan. Setiap menyambut bulan Ramadhan, kami bersama keluarga memanjatkan doa ke makam orang tua,” sebutnya. (a/r)