DLH Padang Terpaksa Buka-Tutup Kubus Apung di Banda Bakali

36
Di tengah gerimis, petugas DLH Padang membersihkan sampah di sekitar kubus apung Banda Bakali, Rabu siang (23/9/2020).

Dua jam saja hujan lebat melanda wilayah Kota Padang, pukul 13.00-15.00 Wib, kembali menyebabkan air tergenang di mana-mana, Rabu (23/9/2020). Debit air di sungai Banda Bakali pun menjadi naik.

Alhasil, kubus apung yang dipasang Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Padang di dekat jembatan RM Sederhana, harus dilepas demi mencegah rusaknya kubus apung dariĀ  hantaman potongan kayu yang meluncur dari hulu menuju Muaro Lasak.

“Kami sengaja membuka ikatan kubus apung di salah satu sisi Banda Bakali demi mencegah kerusakan yang diakibatkan dorongan banyaknya sampah yang dibuang warga ke sungai, dan batang kayu terbawa arus. Jadi memang harus buka-tutup,” ujar Kasi Pengelolaan Sampah DLH Kota Padang Yol Dt Sati, yang ditemui sedang mengawasi petugas pengangkut sampah menjaring sampah yang lewat.

Lebih lanjut, Dt Sati menambahkan, sampah akan kembali menghiasi Pantai Padang Muaro Lasak, dan bergerak mengapung kembali ke arah Banda Bakali kawasan GOR Agus Salim.

“Ya, sampah memang akan banyak berserakan di beberapa muara sungai di Pantai Padang, akibat dibukanya kubus apung ini. Esok kita mungkin membersihkan sampah-sampah yang ada di sepanjang pantai tersebut,” jelasnya.

Baca Juga:  Hari Pertama Operasi Zebra Singgalang, 80 Pengendara Kena Tilang

Dt Sati meminta warga Kota Padang tidak membuang sampah ke sungai dan selokan. Selain akan berakibat banjir, sampah akan merusak ekosistem di sungai dan laut.

Kota Padang sendiri dilintasi oleh 3 sungai besar (aliran sungai Batang Arau, Batang Kuranji dan Batang Air Dingin) dan 18 sungai kecil. Luas Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Arau (174,30 Km2), Batang Kuranji (202,7 Km2) dan Batang Air Dingin (143,08 Km2) yang bersumber dari Gunung Balok (Batang Arau), Gunung Bungsu (Batang Kuranji) dan Gunung Lantik (Batang Air Dingin), yang kemudian bermuara di Lautan Hindia.

Dilihat dari sejarahnya, drainase Kota Padang telah dibangun dan dikelola sejak Pemerintahan Kolonial Belanda. Untuk mengatasi banjir yang terus mendera Kota Padang setiap musim hujan, Pemerintah Kolonial Belanda tahun 1918 membangun banjir kanal untuk mengatasi banjir yang terjadi di kawasan Batang Arau, Padang. Banjir kanal yang dibangun pemerintah Belanda tersebut kemudian dibangun lagi pada era 1990-an yang lebih dikenal dengan Banda Bakali oleh masyarakat, mulai dari Ujuang Tanah (Lubukbegalung) sampai ke Muaro Lasak, Padang Barat. (hsn)