Bom Makassar, Ganefri: Radikalisme dan Terorisme tak Bisa Ditolerir

22

Prof Ganefri

Ketua Pengurus Besar Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumbar Prof. Ganefri mengutuk keras aksi bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (28/3) pagi. Aksi itu bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan.

“Insiden tersebut sangat disayangkan dan diwaspadai dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Karena kita bernegara multikultural di agama. Perlu diketahui pendidikan multikultural itu penting dalam pendidikan,” kata Rektor UNP itu, Minggu (28/3).

Prof Ganefri menyebutkan, untuk di Sumbar saat ini masyarakat dikenal masih toleran.
“Namun perlu diwaspadai juga berita hoaks dan menonjolkan identitas tertentu, hal ini juga berbahaya, maka dari itu kita harus saling menghargai sebagai negara multikultural,” ungkapnya.

“Saya memperkenalkan pendidikan multikultural itu supaya diterapkan oleh tenaga pendidik. Saling menghargai perbedaan dan tidak menonjolkan identitas tertentu,” katanya.

Dia menyebut sejak dulu tokoh-tokoh Sumatera Barat seperti Tan Malaka, Agus Salim dan Bung Hatta dikenal saling menghargai. “Mereka punya aliran yang berbeda, religius maupun nasionalis, tapi mereka saling menghargai segala perbedaan. Mari kita terapkan moderasi beragama di Sumbar. Pada berbagai kesempatan kita juga sampaikan kepada ulama maupun di media untuk menyampaikan kajian yang menyejukkan umat, jangan sampai bersifat menghasut,” tegasnya.

Baca Juga:  Hari Terakhir Beroperasi, Kepala BPTD Sumbar Cek Kelaikan Bus NPM

Ia meminta kepada Kepolisian Republik Indonesia agar segera menangkap siapapun yang terlibat dalam tindakan teror yang tidak terpuji tersebut.

Sementara itu pernyataan serupa disampaikan Ketua Umum Badko Himpunan Mahasiswa Islam (HMI Sumbar) Sumatera Barat Wendi Juli Putra. Ia mengajak warga Indonesia untuk bersatu padu menahan diri, tidak terprovokasi, serta terus menggalang solidaritas kemanusiaan sekaligus menolak segala bentuk kekerasan.

“Kami mendukung langkah-langkah aparat keamanan mengusut tuntas motif, pola, serta gerakan yang memicu terjadinya peristiwa tersebut. Sebab, gerakan radikalisme sudah sedemikian merajalela, maka diperlukan penanganan khusus yang intensif dari berbaagai pihak, utamanya aparat keamanan,” katanya.

Sebab, Menurutnya, segala hal yang mengandung kekerasan, bertentangan dengan ajaran Islam dan ajaran agama apapun.

“Kita mendesak pemerintah untuk mengambil langkah tegas serta cepat terkait penanganan dan isu radikalisme. Langkah ini harus ditempuh sebagai bagian penting dari upaya implementasi dan kewajiban negara untuk menjamin keamanan hidup warganya,” terangnya.

Ia mengatakan, apapun motifnya, kekerasan, radikalisme, dan terorisme tidak bisa ditolerir apalagi dibenarkan, sebab mencederai kemanusiaan. (wni)

Previous articleDukung Mendag-BKPM soal HPM, Andre Rosiade: Surveyor Harus Kompeten
Next articleHutama Karya Serahkan Laptop untuk 9 Sekolah di Padangpariaman