Pasar Raya Padang akan Kembali Ditutup

Pasar Raya Padang.

Angka kasus positif virus korona (Covid-19) yang berasal dari klaster Pasar Raya Padang terus bertambah. Menyikapi hal itu, Dinas Perdagangan Kota Padang berencana akan kembali menutup Pasar Raya Padang, khususnya untuk sektor nonpangan.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Padang Endrizal kepada Padang Ekspres, Selasa (28/4), menyampaikan, sebelumnya Dinas Perdagangan Kota Padang telah mengambil kebijakan untuk menutup Pasar Raya Padang selama lima hari, mulai Senin (20/4) hingga Jumat (25/4) lalu.

Selanjutnya Sabtu (26/4), pihaknya juga sudah membuka dan mengizinkan para pedagang untuk berjualan kembali, baik kebutuhan pangan maupun nonpangan.

“Kami wajibkan para pedagang dan pengunjung Pasar Raya Padang untuk memakai alat pelindung diri seperti masker. Kalau tidak, kami minta keluar dari wilayah pasar,” katanya.

Selain itu, sambungnya, petugas dari Dinas Perdagangan melakukan pengecekan suhu tubuh para pedagang dan pengunjung.
Pasalnya, yang menjadi kekhawatiran saat ini orang tanpa gejala (OTG). “Salah satu indikatornya suhu tubuh mendekati 38 derajat Celcius.

Makanya dilakukan pengecekan suhu tubuh dan Rabu (hari ini, red), akan kami lakukan secara masif dan maksimal,” imbuhnya.
Endrizal menyampaikan, hingga saat ini Pasar Raya Padang masih berstatus zona merah, dimana jumlah pasien positif Covid-19 di Kota Padang paling banyak berasal dari klaster Pasar Raya Padang.

Untuk itu, pihaknya akan melakukan evaluasi selama tiga hari ke depan untuk memutuskan apakah akan menutup kembali Pasar Raya Padang atau tidak.

“Kami lihat perkembangannya, masih ada juga lima pasien positif Covid-19 yang berasal dari klaster Pasar Raya Padang. Nah, kami akan evaluasi dalam tiga hari ini, apakah akan kembali ditutup atau tidak. Tentu dengan data kesehatan kita bisa bergerak,” terangnya.

Dia menilai, penjualan kebutuhan pangan berkemungkinan sulit untuk ditutup. Pertimbangannya, setelah mencoba menutupnya selama tiga hari untuk melakukan penyemprotan disinfektan pekan kemarin, berimbas pada kenaikan harga kebutuhan pokok.

“Jadi khusus bahan pokok, kemungkinan tidak kita tutup cuma bisa jadi akan diubah model penjualannya. Saat ini jual beli bahan pokok dilakukan di lantai 1 dan basement, itu dikosongkan dan dipindahkan ke lantai 3 dan lantai 4,” ujarnya.

Dengan begitu, para pengunjung yang berbelanja akan berkurang sehingga bisa meminimalisir keramaian. Setelah itu pedagang juga akan sangat terkontrol, termasuk para pembeli. “Itu rancangan kita, kalau seandainya kondisi semakin memburuk. Tapi di luar itu, nonpangan kemungkinan bisa kita tutup,” tukas Endrizal. (i)