Pengetahuan tentang Kesehatan Reproduksi Rendah

Pelatihan bagi kader KB di empat kecamatan di Kota Pariaman. (IST)

Bertempat di Aula Pondok Indah Kelurahan kampung Pondok Kecamatan Pariaman Tengah Kota Pariaman hari ini Selasa (07/07/2020), perwakilan kader di 4 kecamatan se Kota Pariaman mendapatkan pelatihan dan kesempatan melakukan tanya jawab seputar kegiatannya dilapangan dengan narasumber Dr.Lucy Genius.

Dalam pertemuan ini, Lucy Genius yang juga merupakan Ketua PKK Kota Pariaman memberikan apresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Pariaman yang telah melaksanakan kegiatan ini.

“Alhamdulillah hari ini saya diberi kesempatan berbagi ilmu bersama para kader KB se Kota Pariaman. Meskipun hanya perwakilan, saya harap bapak dan ibuk kader bisa memberikan informasi ini kembali kepada kader lain. Sebenarnya kalau soal berbagi ilmu, saya ingin semua kader hadir, namun dengan situasi seperti saat ini, kita harus tetap patuh dengan protokol kesehatan agar kita selalu aman dan jauh dengan Covid-19,“ ungkapnya.

Kader KB merupakan ujung tombak dari DP3AKB dalam mensosialisasikan apapun bentuk kegiatan. Untuk itu banyak hal yang harus dimiliki kader, termasuk kader harus memahami tentang kesehatan reproduksi dan keluarga berencana.

“Kesehatan reproduksi sebenarnya adalah keadaan sejahtera secara fisik, mental dan sosial secara utuh, tidak semata-mata terbebas dari penyakit dalam semua hal yang berkaitan dengan alat, fungsi, sistem reproduksi, dan prosesnya. Saat ini Indonesia termasuk negara yang memiliki angka kematian perempuan yang tertinggi di Asia, untuk itu ayo kita para kader, berikan pemahaman kepada masyarakat sedetail mungkin agar masyarakat paham dan mengerti yang terbaik buat mereka,” tambahnya.

Tujuan mengetahui kesehatan reproduksi adalah memberikan pelayanan kesehatan reproduksi yang komprehensif kepada perempuan termasuk kehidupan seksual dan hak-hak reproduksi perempuan, meningkatkan kesadaran dan kemandirian perempuan dalam mengatur fungsi dan proses reproduksinya, yang pada akhirnya dapat membawa pada peningkatan kualitas kehidupannya.

“Menurut penelitian banyak faktor yang mempengaruhi kesehatan reproduksi, antara lain faktor sosial ekonomi dan demografi, faktor budaya dan lingkungan, faktor psikologis dan faktor biologis. Mengatasi itu semua adalah tugas kita bersama dan ini menjadi tanggung jawab kita,“ imbuhnya.

Dipenghujung ia berpesan kepada seluruh kader agar selalu memantau masyarakat yang menjadi tanggung jawab kerja para kader sehingga dengan selalu terpantau, kita bersama bisa menjauhkan resiko terburuk dari gangguang kesehatan reproduksi. (*)