Order Bikin APD dan Masker Melimpah

Sepi orderan menjahit, Usaha Kecil Menengah (UKM) yang selama ini menerima orderan jahit pakaian beralih menjahit alat pelindung diri (APD). Bahkan ada yang beralih membuat masker.

Seperti disampaikan Ismed, 39, warga Desa Pasailalang Taluak Pariaman Selatan ini sudah menerima orderan jahitan APD berupa baju hazmat dan masker sejak tiga minggu terakhir. Sepinya orderan jahitan pakaian membuat ia memberanikan diri menjahit baju hazmat tersebut.

Dibantu istrinya Zultafaria dan adiknya, Simed mengerjakan 20 unit APD dan pesanan 500 masker kain. Baju Hazmat merupakan orderan temannya yang akan dibagikan untuk tenaga medis. Sedangkan masker kain merupakan pesanan pihak desa tempat ia berdomisili.

Setiap hari, dari awal mengukur, menggunting sampai menjahit, dari pagi sampai malam ia mampu menyelesaikan 4 unit baju hazmat setiap harinya. Pesanan ini rencannya akan diambil pada hari minggu depan.

Saat ini ia mengandalkan 1 unit mesin jahit bantuan dari Dinas Perindagkop & UKM Kota Pariaman. Kewalahan mengejar target pesanan APD ini, Simed menyewa 2 unit mesin lagi, dengan biaya 100 ribu per bulan, dan apabila rusak diperbaiki sendiri.

Ia berharap agar Dinas Perindagkop dan UKM Kota Pariaman dapat memberi bantuan kembali mesin jahit yang sangat dibutuhkanya saat ini. ”Semoga Dinas Perindagkop dan UKM mendengar keluhan kami UKM yang terdampak dari virus korona ini,” ujarnya.

Meski demikian Simed berharap akan ada pesanan baju hazmat dari masker lagi dari dinas kesehatan dan puskesmas lainnya sehingga tetap bisa melanjutkan hidup. Sebab setelah pesanan ini, ia sendiri juga masih belum tahu akan melakukan apa lagi, karena belum ada lagi pemesanan selanjutnya. Sementara tabungan telah terkuras untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Ismed sendiri selama tiga tahun terakhir biasanya menerima orderan menjahit baju sekolah yang ada di Kota Pariaman dan Kabupaten Padangpariaman.

Sementara itu Kepala Dinas Perindag Kop dan UKM Pariaman Gusniyeti Zaunit menyebut sedikitnya 3.684 UMKM dari total 7.117 UMKM yang ada di Kota Pariaman, saat ini terdampak akibat virus korona. Saat ini kondisi UMKM tersebut tidak dapat bertahan di tengah mewabahnya Covid-19 ini.

Sebagian besar tutup dan yang tetap survive juga menurun drastis penghasilannya. Yet begitu akrab disapa saat ini berupaya membuat formula yang terbaik untuk keberlangsungan para UMKM ini.

Sedangkan di Agam, yang dulunya usaha konveksi baju gamis dan jilbab, sekarang pindah ke konveksi masker semenjak pandemi virus korona. Hal tersebut dirasakan oleh Sri Novriani.

Saat Padang Ekspres menemui Ii (panggilan Sri Novriani, red) di rumah berbentuk dua ruko (rumah dan toko), yang tidak jauh dari pertigaan Jalan Bypass, Taluak, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam.

Ii menceritakan bahwa semenjak pandemi virus korona masuk Ke-Sumbar, usaha konveksinya, yang sebelumnya membuat pakaian gamis dan jilbab terpaksa beralih ke masker kain. ”Baju gamis dan jilbab yang biasa saya bikin tidak ada yang pesan lagi,” katanya.

Semenjak sebulah terakhir, ia beranjak mengerjakan usaha membuat masker kain. ”Alhamdulliah, masker kain yang saya buat lumayan banyak yang pesan, mulai dari Kota Bukittinggi hingga Jakarta,” sebut ibu lima anak ini.

Ia menjelaskan untuk satu hari, ia bisa membuat mampu sendiri membuat 15 hingga 20 lusin masker kain per harinya, atau sekitar 200 masker. ”Saya jual Rp 50 ribu per lusinnya. Untuk urusan kualitas, saya menggunakan bahan bagus dan tidak panas,” tuturnya.

Ia menambahkan, pada desain maskernya, pembeli bisa dimasukan tisu. “Masker yang saya buat ini, terdiri dari dua lapisan dan pada tengah-tengah lapisan bisa dimasukan tisu, yang berguna untuk menambah penyaring udarnya,” jelasnya. (*)