Terpapar Pasien Positif, Dua Bayi di Pariaman Diisolasi

Dinkes Pariaman menfasilitasi tenaga kesehatan dengan kamar pembatas antara petugas dan warga saat pengambilan swab. Hal ini bertujuan mengurangi risiko terpapar droplet dari warga yang diperiksa. (Foto: IST)

Dua bayi di Kota Pariaman harus menjalani isolasi mandiri di rumah. Pasalnya, kedua bayi tersebut merupakan anak dari orang tanpa gejala (OTG) yang sempat kontak dengan pasien positif Covid-19 Lubukbasung, Kabupaten Agam.

“Benar ada dua keluarga yang saat ini menjalani isolasi mandiri di salah satu perumahan di Kota Pariaman. Total jumlahnya 8 orang. Dua di antaranya bayi berumur 1 bulan dan 1 tahun,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Pariaman Syahrul kepada Padang Ekspres kemarin (10/5).

Delapan OTG tersebut salah satunya sempat kontak dengan pasien positif dari Lubukbasung, Agam. Ia bertemu pasien positif tersebut di Padangalai Padangpariaman.

Saat ini mereka telah menjalani isolasi mandiri bersama keluarga. Petugas medis juga telah mengambil swab OTG termasuk anggota keluarga lainnya. “Untuk pengambilan swab kedua bayi tersebut kami minta bantuan petugas RSUD Pariaman. Karena butuh keahlian khusus,” ujarnya.

Ia menyebut keluarga OTG yang menjalani isolasi mandiri saat ini juga dibantu  warga sekitar dengan menyuplai kebutuhan pokok untuk keluarga tersebut. Tentunya dengan tetap mengedepankan jaga jarak.

Di sisi lain, ada dua orang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) yang menjalani perawatan di RSUD Pariaman.

Seorang di antaranya warga Pariaman dan satu lagi warga Padang yang berkunjung ke Kota Pariaman. Sedangkan seorang OTG lainnya menjalani isolasi mandiri di rumahnya.

Syahrul mengatakan, dua orang itu satu merupakan remaja 19 tahun warga Pariaman menjalani perawatan.

Remaja ini sempat kontak dengan perantau asal Jakarta. Saat menjalani rapid test remaja tersebut positif. Namun hasil akuratnya menunggu pemeriksaan laboratorium.

Remaja laki-laki tersebut menjalani perawatan karena kondisi tubuhnya yang rentan sebab ada penyakit penyerta.

Di Pariaman Timur, seorang warga Padang yang berkunjung ke rumah kerabatnya juga terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Warga ini demam tinggi begitu sampai di rumah kerabatnya di Pariaman.

Perempuan 44 tahun itu awalnya sempat dibawa ke salah satu rumah sakit swasta di Pariaman pada pagi hari.

Namun pada sore hari, kondisinya belum menunjukkan perubahan sehingga dibawa kembali oleh kerabat ke RSUD Pariaman. Karena memiliki riwayat perjalanan dari wilayah pandemi maka saat ini perempuan tersebut ditetapkan sebagai PDP.

“Mudah-mudahan, Senin (11/5/2020) keluar hasil swabnya. Langkah antisipasi sudah dilakukan dengan menyemprot rumah dan lingkungan sekitat PDP dan OTG dengan disinfektan,” tegas Syahrul.

Sementara itu untuk melindungi tenaga terpapar droplet pada saat pengambilan swab, Dinkes Pariaman membuat kotak khusus untuk pemeriksaan. Sehingga selain menjaga jarak juga terlindungi terpapar droplet saat pasien mengeluarkan cairan dari tubuhnya seperti ketika batuk dan bersin.

“Tenaga medis di Kota Pariaman juga telah dua kali menjalani rapid test, hasilnya negatif,” pungkas Syahrul.

PDP Meninggal

Terpisah, pasien dalam pemantauan  (PDP) Dharmasraya inisial Y, 50, perempuan warga Jorong Lagan Jaya 1 Sipangkur Kecamatan Tiumang meninggal Sabtu (9/5/2020) sekitar pukul 17.00 di RSUP Djamil Padang.

Ia didiagnosa PDP Covid-19 dengan gagal ginjal dan trombositopenia. Jenazah dimakamkan Minggu (10/5/2020)  sekitar pukul 04.20 dengan protap penanganan Covid-19. Saat ini pihak terkait masih menunggu hasil swab.

Juru Bicara (Jubir) Penanganan Covid-19 Rahmadian mengatakan, pasien tersebut sebelumnya tinggal di Jorong Lagan Jaya Sipangkur. Namun sejak satu tahun lalu  pasien mengontrak di Batu Bakawuik Nagari Silago Kecamatan Sembilan Koto.

“Tiga bulan yang lalu keluarga pasien meminta surat rujukan ke Puskesmas Tiumang, karena pasien dirawat di RSUD Sungaidareh dengan menjalani cuci darah rutin sekitar delapan  bulan lalu. Pada Kamis (7/4/2020) sekitar pukul 07.14, pasien masuk IGD RSUD Sungaidareh dan dilakukan pemeriksaan  rontgen dan pemeriksaan labor (trombosit). Dan dirujuk dengan Diagnosa GGK + ulkus pepticum + Trombositopeni,” jelasnya.

Pasien tersebut merupakan pasien rutin cuci darah di RSUD Sungaidareh  selama 8 bulan terakhir dengan jadwal Selasa dan Kamis.

Saat itu pasien tidak dirawat dan di hari sama dirujuk ke RSUP M Djamil Padang sekitar pukul 21.00. Jumat (8/5/2020) sekitar pukul 07.24 pasien masuk RSUP M Djamil Padang dan meninggal Sabtu  (9/5/2020).

Wali Nagari Sipangkur Arif Gumensa membenarkan ada satu warganya meninggal dunia dalam perawatan di RSUP M Jamil Padang.

“Warga tersebut mengalami sakit ginjal. Informasi yang kami dapat dari pihak keluarga, pasien meninggal dunia saat dalam perawatan. Warga kami sebelumnya telah rapid test di RSUP statusnya positif dan menjalani isolasi perawatan sesusai dengan prosedur Covid-19,” ucap Arif.

13 Perawat Dikarantina

Sementara itu, sebanyak 13 perawat dan bidan RSUD Sungaidareh menjalani karantina selama 14 hari ke depan, pasca-membantu persalinan seorang ibu hamil merupakan pasien PDP Covid-19. Menghindari hal-hal yang tidak diinginkan untuk sementara waktu Ruang Kebidanan RSUD Sungaidareh ditutup.

Kepala Bidang Pelayanan Milana Gafar mengatakan, hasil rapid test ibu melahirkan tersebut positif. Namun hasil swab pertamanya negatif dan kini sedang menunggu hasil swab kedua pasien tersebut. Jika hasilnya juga negatif, maka ke 13 tenaga medis tersebut bisa dinyatakan sehat.

Ia menambahkan, lokasi karantina tenaga medis itu berada jauh dari permukiman warga. “Sebenarnya ada seorang dokter kami yang harus menjalani karantina. Namun beliau sudah lebih awal mengambil keputusan untuk menjalani karantina mandiri, di rumah dia sendiri,” ungkapnya seraya mengatakan kasus itu merupakan kasus pertama di Dharmasraya yang mengharuskan petugas kesehatan dikarantina. (nia/ita)