Hindari Predator Anak, Perkuat Ketahanan Keluarga

Polres Pariaman juga berhasil menangkap SI melakukan tindakan pelecehan terhadap remaja di daerah itu. (IST)

Kasus pelecehan seksual terhadap anak di Kota Pariaman menjadi persoalan serius yang harus diperhatikan secara bersama. Saat ini Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) mencatat ada 18 kasus dari rentang Januari hingga Agustus 2020 dan sedang ditangani bersama Polres Pariaman.

Anak korban kasus pelecehan seksual itu rata-rata berusia 15 tahun ke bawah. Sebagian besar mereka berasal dari keluarga kurang mampu dengan orang tua yang sudah berpisah.  Sedangkan 18 orang pelakunya rata-rata berusia di atas 20 tahun.

“Jumlah kasus tahun ini mengkhawatirkan, naik drastis. Sebagian besar pelaku merupakan orang terdekat mulai dari ayah kandung, mamak, tetangga hingga teman dekat rumah,” kata Divisi Pelayanan P2TP2A Kota Pariaman Fatmiyeti Kahar kepada Padang Ekspres kemarin.

Saat ini katanya, 18 anak yang menjadi korban kasus pelecehan tengah mendapat pendampingan dari P2TP2A Kota Pariaman. Bahkan dari tim psikolog Polda Sumbar. Hal itu penting dilakukan agar peristiwa yang memilukan tersebut tidak membuat mereka trauma untuk menjalani kehidupan masa depan.

Teta Sabar, begitu ia akrab disapa menyebut lemahnya kontrol keluarga merupakan faktor utama pemicu terjadinya kasus pelecehan dan kekerasan seksual terhadap anak. Orang tua terkadang lengah terhadap anak sehingga tidak tahu anak-anaknya sudah menjadi korban pelecehan.

Apalagi anak yang orang tuanya sudah bercerai, tentu pengawasan akan semakin minim.
Kondisi itu juga menjadi kesempatan bagi predator anak untuk melancarkan aksinya. Begitu juga dengan lingkungan sekitar yang tidak ketat dan membiarkan anak bermain di luar rumah hingga larut malam.

Baca Juga:  Warga Terdampak Covid-19 Diberi Bantuan Sembako

Selain itu faktor lain penyebab anak menjadi korban kekerasan seksual adalah fasilitas ponsel dengan wifi yang kemudian memudahkan mereka mengakses tontonan berbau pornografi.

“Saya pada setiap kesempatan selalu nyinyir kepada orang tua agar tidak menfasilitasi anak dengan smartphone, paling tidak hingga anak tamat SMA. Hal ini berbahaya bagi anak. Jika pun sudah terlanjur, pada pukul 21.00, sita ponselnya,” ujarnya.

Ia mengajak semua pihak agar menaruh kepedulian terhadap kasus pelecehan seksual. Apalagi sebagian besar korban merupakan anak di bawah umur. Harus ada upaya-upaya penekanan kasus ini dengan memberikan pencerahan ke anak-anak agar mereka peduli terhadap tubuhnya, edukasi tentang bagian tubuh mana yang tak boleh disentuh siapa pun. Begitu juga sosialisasi ke masyarakat. Tingkatkan peran masyarakat memberikan kontrol terhadap lingkungannya.

Terpisah, Kepala Dinas Pemberdayaan Perlindungan Perempuan Anak dan KB (DP3AKB) Pariaman Nazifah menyebutkan pihaknya tidak hanya fokus untuk menyelesaikan kasus kekerasan pelecehan terhadap anak. Namun juga rutin melakukan pencegahan agar kasus bisa ditekan.

“Kami melakukan sosialisasi ke sekolah dan dari desa ke desa. Bahkan saya juga ikut dalam pertemuan rakor kepala sekolah untuk menyampaikan hal ini,” ujarnya.

Selain itu memperkuat ketahanan keluarga juga penting dilakukan agar kasus -kasus seperti ini tidak terulang. Sebab waktu anak justru lebih banyak bersama keluarga dibanding saat sekolah. (nia)