Tak Hanya Menanam, Juga Merawat, Kepala BNPB Apresiasi Pemko Pariaman

10
Kepala BNPB Doni Monardo meninjau lokasi penghijauan di pantai Desa Taluak, Kecamatan Pariaman Selatan. (Diskominfo Pariaman)

Mitigasi bencana dapat dilakukan dengan dengan kombinasi mitigasi vegetasi dan migitasi berbasis infrastruktur. Di Pariaman, mitigasi vegetasi salah satu bentuknya adalah penanaman pohon di Pantai Ma’ruf Amin, Karanaur, beberapa waktu lalu. Penanaman itu dilakukan Wakil Presiden Indonesia Ma’ruf Amin.

Nah setelah tertanam kurang lebih sepekan, Pemko Pariaman mendapat apresiasi dari Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo. Ini terkait dengan perawatan yang dilakukan terhadap pohon -pohon yang ditanam untuk mitigasi bencana tersebut.

”Saya ke sini mengecek langsung pohon yang ditanam oleh wapres (wakil presiden) seminggu yang lalu. Alhamdulillah kondisinya tumbuh dengan baik. Artinya Pemko Pariaman tidak hanya melakukan penanaman namun juga melakukan perawatan. Kami apresiasi itu,” ujarnya saat melakukan kunjungan ke Pantai Ma’ruf Amin di Karanaur, Pariaman, kemarin.

Doni menyebut, di sejumlah daerah hanya bersemangat melakukan penanaman namun abai dengan perawatan. Sehingga pohon yang ditanam tersebut tidak memberikan manfaat.

”Tanda pohon itu akan bertahan hidup dan mendapatkan perawatan jika satu minggu setelah ditanam pohon tersebut tetap bertahan hidup dan masih ada daunnya. Kemampuan hidupnya mencapai 90 persen dan sebaliknya,” ungkapnya.

Di tengah kondisi Sumbar yang berada di zonasi rentan bencana, tegasnya, butuh mitigasi kombinasi. Mulai dari mitigasi berbasis vegetasi maupun mitigasi berbasis infrastruktur. Mitigasi berbasis vegetasi yang paling mungkin dilakukan saat ini karena keterbatasan anggaran. Apalagi mitigasi berbasis infrastruktur juga tidak menjamin keselamatan dari bencana.

Baca Juga:  Shalat Ied di Balaikota, Panitia Minta Masyarakat Datang lebih Awal

”Seperti yang terjadi Jepang yang sudah membangun sea wall sejak lama namun ternyata justru ambruk pada saat terjadi bencana gempa dan tsunami bahkan jumlah korban jauh lebih besar dibanding yang diduga sebelumnya,” terang Doni.

Di samping itu, harapnya, tentu mitigasi berbasis komunitas terus dilatih dan ditingkatkan sehingga warga persis tahu apa yang mereka lakukan saat terjadi bencana. “Jadi warga harus memiliki pengetahuan jika terjadi gempa cukup kuat lebih dari 10 detik harus segera evakuasi mandiri. Tidak perlu menunggu sirine atau pemberitahuan terlebih dahulu,” ujarnya.

Sementara itu Wali Kota Pariaman Genius Umar menjelaskan, selain menyiapkan mitigasi berbasis vegetasi, Kota Pariaman juga telah memiliki mitigasi berbasis komunitas dengan adanya kelompok siaga bencana (KSB) di tiap desa atau kelurahan.

KSB ini mendapatkan pelatihan rutin dengan harapan nantinya bisa membantu pemerintah dalam melakukan evakuasi jika terjadi bencana. Begitu juga dengan jalur-jalur evakuasi sudah dipersiapkan dan ada rambu-rambu penuntun sampai ke jalur evakuasi.

“Hal-hal ini dilakukan untuk meminimalisir korban jika terjadi bencana. Pelatihan mitigasi rutin kita lakukan dengan harapan warga paham betul apa yang mereka lakukan jika terjadi bencana,” tukasnya. (nia)

Previous articleLiga 1 2021 Dirancang Kickoff pada 11 Juni
Next articlePemko Pariaman Bantu Korban Kebakaran di Rawang