Pesanan Batik Sampan Turun Drastis

26
Wakil Wali Kota Pariaman Mardison Mahyuddin. (Foto: IST)

Tak bisa dipungkiri, pandemi korona berdampak terhadap sektor ekonomi. Termasuk UMKM perajin batik sampan di Pariaman. Berbagai dukungan diberikan Pemko Pariaman di antaranya mengakomodir batik sampan sebagai pakaian dinas.

“Ya, dengan kondisi seperti ini sedikitnya sekitar 70 persen perajin batik sampan terdampak. Pesanan jauh menurun, kalau pun datang pesanan jumlahnya sangat sedikit,” ujar Kadis Koperindag Kota Pariaman Gusniyeti Zaunit saat dihubungi Padang Ekspres kemarin.

Rencana awal yang melibatkan perajin untuk  produksi batik sampan sebagai pakaian dinas pun terundur tahun ini. Sebab keterbatasan anggaran di masing-masing OPD yang lebih fokus untuk penanganan Covid-19.

Namun demikian sebut Yet, pihaknya terus berupaya me-recovery perajin batik sampan. Untuk tahun 2021 direncanakan produksi batik sampan untuk seragam dinas. Saat ini pihaknya tengah terus fokus melatih perajin batik sampan untuk menyiapkan desain batik sampan untuk seragam dinas. Untuk sementara pesanan batik sampan untuk pembuatan masker yang mulai banyak digunakan berbagai kalangan di Kota Pariaman.

Pemerintah Kota Pariaman memang terus berupaya mengembalikan kejayaan batik khas Pariaman tersebut. Meski produksi saat ini masih terbatas namun batik sampan mulai dilirik berbagai kalangan. Batik sampan sudah ada sejak tahun 1946.

Sama dengan batik Minang lainnya, batik sampan ini mirip dengan batik tanah liek. Yang membedakan batik sampan memiliki motif gambar tabuik. Saat ini sudah ada dua kelompok UKM yang memproduksi batik sampan. Kelompok Desa Sampan dan Kelompok Desa Sungai Kasai.

Masing-masing kelompok memiliki keunggulan produksi masing-masing. Kelompok Batik Dusun Sampan produksi dengan warna yang lebih cerah menggunakan pewarna kimia. Sedangkan Kelompok Desa Sungai Kasai warna kainnya lebih lembut dan natural karena menggunakan pewarna dari alam.

“Untuk produksi saat ini masing-masing kelompok maksimal 40 helai kain batik total produksi saat ini 80 helai perbulan. Ada dua jenis batik tulis dan batik tulis campur cap dengan harga jual berbeda keduanya,” ujarnya.

Yet, begitu ia akrab disapa menyebut, untuk batik tulis dijual Rp 200 ribu per dua meter sementara batik tulis campur cap Rp 80 ribu per dua meter.  Meski terbilang baru, permintaan batik sampan sudah mulai banyak umumnya berasal dari perbankan dan BUMN.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Pariaman Mardison Mahyuddin didampingi Ketua GOW Kota Pariaman Indriati Mardison mengunjungi pengusaha batik sampan tersebut, kemarin. Menurut Mardison, batik sampan merupakan aset Kota Pariaman yang harus dilestarikan, perlu perhatian serius dari Dinas Perindagkop dan UKM yang membidangi usaha tersebut.

“UKM semacam ini harus dibina, diharapkan batik ini bisa kita promosikan sebagai batik khas Pariaman. Batik ini juga bisa kita jadikan souvenir atau oleh-oleh bagi wisatawan yang datang ke Kota Pariaman.

Mardison berharap seluruh ASN dan masyarakat ikut mendukung mempromosikan kerajinan batik sampan khas Pariaman ini. Sementara itu, Rini Safitri salah seorang perajin batik yang merupakan warga Sampan, mengaku sejak mengikuti pelatihan membatik yang diselenggarakan oleh Balai Diklat Industri Padang atas kerjasama dengan Dinas Perindagkop dan UKM Kota Pariaman, 10 Oktober 2019 lalu selama 18 hari menambah kemahiran kami dalam membatik.

“Alhamdulillah berkat pelatihan tersebut, kami membuka usaha batik ini meskipun kecil-kecilan. Di samping itu, sejak mengikuti pelatihan tersebut saya jadi tahu bagaimana teknik melukis batik yang baik, cara mencanting hingga memberi warna,” ulasnya. (nia)