Ruang Kejenuhan yang Lahirkan Petani dan Pebisnis Andal

132
Alam Syahputra, pendiri Millenial Agro Comunity (MACO) di Pariaman yang mampu merangkul kalangan muda berkreativitas di bidang pertanian. (IST)

Generasi milenial ngumpul-ngumpul sambil ngopi di kafe, sudah biasa bukan? Di Pariaman, generasi milenial mereka berkumpul untuk bertani, dengan bergabung dalam Millenial Agro Comunity (MACO) Pariaman. Seperti apa?

Alam Syahputra, 20, mahasiswa Fakultas Pertanian UNAND yang mencetus sekaligus penggerak milenial di Desa Padang Birik-birik, Kecamatan Pariaman Utara, untuk melirik sektor pertanian. Ia pun membentuk Millenial Agro Comunity (MACO) awal Maret 2020.

Ide membentuk komunitas tercetus berawal saat Alam jenuh menjalani kuliah online di masa-masa awal pandemi Covid-19. Ia mengajak beberapa orang generasi muda di lingkungannya untuk bertani. Kenapa harus bertani?

Pemilihan kegiatan bertani dalam komunitasnya, lantaran aktivitas tersebut dapat dilakukan di tempat terbuka. Jadi, mereka bisa saling menjaga jarak, dan menerapkan protokol kesehatan dalam berkegiatan, seperti menggunakan masker.

Kalangan muda yang diajak oleh Alam bergabung dalam komunitas tersebut, tidak saja mahasiswa. Namun ada pada siswa SMA, bahkan pemuda pengangguran atau tidak memiliki pekerjaan.

Tahap awal, mereka menanam pisang di lahan kosong milik desa. Kegiatan itu mereka posting di media sosial. Ternyata mendapat sambutan positif dari Pemko Pariaman melalui Dinas Pertanian Kota Pariaman.

“Begitu foto kegiatan bertani kami posting, Dinas Pertanian langsung mengunjungi kami. Dinas menawarkan untuk melakukan pembinaan termasuk bantuan bibit. Bahkan Wako Pariaman Genius Umar langsung datang memotivasi kami. Ini yang membuat kami makin bersemangat,” ujar Alam saat ditemui Padang Ekspres di Padang Birik-birik, kemarin.

Tanaman pisang yang semula mereka tanam, akhirnya diganti dengan bibit tanaman hortikultura. Di antaranya terong, kacang panjang, dan jenis sayuran lainnya. Masa tanam yang singkat dan sayuran sangat dibutuhkan, membuat mereka dengan mudah memasarkan hasil pertaniannya.

Alam yang memang sudah malang melintang di dunia organisasi, cukup piawai mengurus orang yang terlibat di komunitas tersebut. Alam juga sudah pasti jago dalam mengurus pertanian. Hal itu lantaran memang bidang ilmunya di perkuliahan.

Ia membagi anggota komunitas ke dalam divisi-divisi sesuai dengan kemampuan personal. Mulai dari divisi tanam, perawatan tanaman hingga pemasaran. Yang terbaru, ia membuat divisi pengolahan hasil pertanian menjadi makanan.

Hasil panen yang menjanjikan membuat mereka makin bersemangat. Keuntungan penjualan memang belum dibaginya, karena seluruhnya mereka alokasikan untuk membeli peralatan pertanian dan sarana prasarana komunitas.

Baca Juga:  Baznas Pariaman Distribusikan Rp 88,4 Juta Zakat Fitrah 

Total ada 120 orang yang tergabung dalam komunitas MACO tersebut. Lahan yang semula hanya 1 hektare, sekarang sudah semakin bertambah luasnya. Begitu juga dengan komoditi tanamannya. Kini tak hanya hortikultura, Alam juga sudah merancang menjadi pertanian terpadu di sana. Ada tanaman jagung, budidaya lele modern hingga budidaya jamur tiram.

Jumlah divisi pun ditambah oleh Alam. Yakni divisi bagian lele, jamur tiram dan jagung. Setiap kepala divisi bertanggung jawab dengan keberlangsungan komoditi yang mereka kelola. “Satu tahun berjalan, alhamdulillah anggota MACO tetap bersemangat. Yang awalnya iseng, ternyata memberikan manfaat untuk banyak orang,” ujarnya.

Meski saat ini pemasaran sayuran masih untuk kebutuhan lokal, Alam optimis usaha tersebut bakal terus berkembang. Apalagi saat ini sudah mulai datang pedagang yang membeli langsung ke kebun mereka. Sangat berbeda dengan kondisi awal, yang mana mereka mengantarkan hasil pertanian ke pasar-pasar.

Menyangkut divisi pengolahan hasil pertanian yang baru dibentuknya, kata Alam sekarang divisi itu pun sudah bergerak. Mereka membuat ragam produk olahan yang akan dijual di pasaran. Fokus pertamanya yaitu produk dengan bahan mentah jagung dan jamur tiram.
“Sekarang divisi pengolahan hasil pertanian ini sedang giat-giatnya melakukan ujicoba pengolahan makanan dari jagung dan jamur tiram,” ungkap Alam.

Beberapa olahan yang sudah berhasil mereka bentuk, imbuh Alam, yaitu nuget jagung pedas, nuget jamur tiram, dimsum jagung, dan dimsum jamur tiram. “Untuk saat ini kami belum produksi. Jadi masih ujicoba dulu. Kami juga sedang mencari lokasi kedai untuk berjualan, di samping nantinya juga jualan online tentunya,” ujarnya.

Ke depan, Alam dengan optimis akan menjadikan lahan pertanian yang ia kelola bersama teman-temannya menjadi wisata agrobisnis. Tujuannya untuk mengedukasi anak-anak sekolah. Mulai dari pendidikan tingkat TK hingga SMA. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan bisa untuk perguruan tinggi tentang di bidang pertanian.

“Sesuungguhnya di dalam Al Quran banyak ilmu yang mengajarkan tentang pertanian. Buktinya, kami menerapkan ilmu-ilmu pertanian dalam Islam. Hal ini yang harus diketahui orang banyak,” tukas Alam. (nia)

Previous articlePertahankan Investment Grade Stabil
Next articleUntuk Lindungi Anak-anak dari Covid-19, Jepang Sumbang Rp 100 Miliar