Cegah Duplikasi, Rumah Warga Penerima Bansos Ditempel Stiker

Wali Kota Pariaman Genius Umar memperlihatkan stiker yang akan ditempel di rumah warga penerima bansos. (Foto: Diskominfo)

Warga Kota Pariaman yang menerima bantuan sosial (bansos) Jaring Pengaman Sosial (JPS) hampir 80 persen. Mulai awal Mei nanti bansos mulai didistribusikan.

Untuk menghindari penerima ganda, maka rumah warga penerima akan ditempel stiker. Jika stiker dicabut, maka bantuan tidak lagi diberikan dan dianggap sudah mampu.

“Kita akan menempel stiker rumah warga penerima bantuan, baik penerima PKH (Program Keluarga Harapan), BLT (Bantuan Langsung Tunai) mulai dari Kemensos, BLT Provinsi, BLT Kota Pariaman dan BLT dari Dana Desa serta Program Sembako,” ujar Wali Kota Pariaman Genius Umar usai memimpin rapat, Rabu (29/4/2020).

Nama-nama masyarakat penerima bansos JPS dan warga terdampak ekonominya akibat Covid-19 sudah rampung.

Penempelan stiker tersebut, kata Genius untuk menghindari duplikasi atau penerima bantuan ganda.

Di stiker itu, akan ada kolom bantuan yang diterima, apakah PKH, Program Sembako, BLT kemensos, BLT Provinsi, BLT Kota atau BLT Desa.

Lalu, di stiker tersebut dituliskan nama, nama Desa/Kelurahan, dan kolom sumber dana bantuan, mulai dari Pusat, Provinsi, Kota Pariaman sampai sumber dananya.

“Sehingga kita mengetahui yang bersangkutan sudah apa belum mendapatkan bantuan, dan apa saja bantuan yang sudah diterima,” jelas Genius pada rapat dihadiri Sekko Fadli, kepala OPD, perwakilan kepala desa, dan pihak perbankan penyalur bansos dan PT Pos Indonesia.

Selain Program Sembako, bila ditemui penerima mendapatkan ceklist dua di kolom PKH dan BLT, maka bantuan ditarik salah satunya. “Desa akan kita tegur kenapa bisa yang bersangkutan menerima dua bantuan,” tegasnya.

Stiker tidak boleh dicoret atau dilepas. Apabila ditemukan stiker tidak terpasang di rumah penerima di bulan berikutnya, maka yang bersangkutan tidak diberikan lagi bantuan.

“Hal ini juga bentuk efek psikologi bagi masyatakat penerima. Seandainya dia mampu tapi ditempel stiker ini, tentu mereka akan malu. Sehingga kita bisa filter, siapa masyarakat yang betul-betul berhak menerima,” tukas doktor jebolan IPB ini.(rel/esg)