Lestarikan Kawasan Pesisir, DKP Sumbar Tanam Mangrove dan Cemara Laut

54

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumbar Desniarti, mendampingi Gubernur Sumbar Mahyeldi, menanam mangrove di Nagari Maligi Kecamatan Sasak Ranah Pesisir, Pasbar, Rabu (1/9/2021).

Tujuh dari 19 kabupaten dan kota di Sumatera Barat berada di wilayah pesisir dengan panjang garis pantai 2.285,96 km dan 185 pulau kecil. Berada di Kota Padang, Pariaman, Kabupaten Pesisir Selatan, Padangpariaman, Agam, Pasaman Barat dan Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Kabupaten dan kota wilayah pesisir tersebut memiliki potensi sumber daya alam sangat berlimpah di sektor pariwisata, perikanan, dan lainnya. Namun, posisi Sumatera Barat yang berhadapan dengan Samudera Hindia sangat rentan dengan bencana, seperti gelombang pasang, banjir rob, angin kencang, erosi, gempa bahkan tsunami.

Permasalahan yang mengancam wilayah pesisir tersebut terdiri dari degradasi ekosistim dan sumber daya alam, kerawanan bencana alam abrasi, erosi, tsunami, perubahan iklim, banjir rob, angin kencang, serta pencemaran laut dan pesisir dari aktivitas daratan maupun laut.

Untuk mengatasi dan memitigasi bencana wilayah pesisir, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dalam hal ini Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) sudah melakukan berbagai upaya antisipasi.

“Kegiatan yang dilakukan untuk itu, di antaranya penanaman mangrove dan cemara laut sejak tahun 2006. Dilakukan di beberapa kabupaten dan kota, dimulai dari Pesisir Selatan sampai Pasaman Barat,” ujar Kepala DKP Sumbar, Desniarti.

Peran serta masyarakat sangat dibutuhkan dalam upaya melestarikan lingkungan pesisir. Sebelum dilakukan penanaman, dilakukan identifikasi melalui survei lokasi ke kabupaten dan kota yang mengusulkan untuk penanaman cemara laut atau mangrove.

Setelah penentuan lokasi, dilanjutkan sosialisasi kepada masyarakat sekitarnya agar nantinya ikut berpartisipasi dalam penanaman dan pemeliharaan cemara laut dan mangrove.

“Itu diwujudkan dengan dibentuknya kelompok masyarakat binaan. Hingga saat ini sudah ditanami sebanyak 17.020 batang cemara laut dan 80.500 batang mangrove,” tambah Desniarti.

Cemara laut yang tumbuh dengan baik telah mengubah kawasan pesisir menjadi ruang terbuka hijau (greenbelt) dan mampu menahan angin laut dan menyejukkan pantai.

Dampak dari penanaman cemara laut ini sudah terlihat bagus. Hal itu bisa diukur saat terjadi abrasi pesisir beberapa bulan lalu. Ternyata, di daerah yang tidak ada cemara lautnya terjadi abrasi sangat besar dan kuat sehingga pantai tergerus dan merusak ekosistim pesisir.

Dampak lain yaitu tumbuhnya sumber ekonomi baru berupa berkembangnya kawasan pariwisata yang menumbuhkan ekonomi lokal.

Ekosistem mangrove yang telah tumbuh dengan subur memiliki manfaat ekologi, ekonomi, maupun sosial yang sangat dirasakan dalam kehidupan masyarakat pesisir.

“Mangrove mampu mengurangi erosi pantai, sebagai tempat tinggal habitat jenis satwa, serta mengurangi karbon,” kata Desniarti.

Ekosistem mangrove memiliki fungsi biologi sebagai daerah asuhan (nursery ground), tempat pemijahan (spawning ground) dan mencari makan (feeding ground) berbagai jenis organisme laut serta tempat persembunyian anak udang dan ikan.

Hutan mangrove juga memiliki nilai estetika yang dapat dikembangkan menjadi tempat ekowisata. Hutan mangrove memberikan obyek wisata yang berbeda dengan obyek wisata alam lainnya karena karakteristik hutannya berada di peralihan antara darat dan laut memiliki keunikan dalam beberapa hal.

Kegiatan ekowisata ini, di samping memberikan pendapatan langsung bagi pengelola melalui penjualan tiket masuk dan parkir, juga mampu menumbuhkan perekonomian masyarakat di sekitarnya.

“Tentu harapan kita ke depan, semua pihak terkait, kelompok masyarakat, LSM maupun pengguna dana CSR, bisa bersama-sama berpartisipasi menjaga ekosistim pesisir dan bisa memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat lokal. Semoga ekosistim wilayah pesisir bisa lebih kita perbaiki dan jaga,” ungkap doktor jebolan IPB itu.

Mangrove untuk Mitigasi dan Dukung Perekonomian Pesisir

Penanaman mangrove dan cemara laut di bibir pantai memiliki fungsi ganda. Selain untuk mitigasi bencana sebagai penahan air saat tsunami, juga untuk pariwisata yang mendukung perekonomian masyarakat pesisir.

“Konsultasi kita dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), mangrove dan cemara laut ini sangat efektif sebagai penahan gelombang jika terjadi tsunami. Lingkungan mangrove juga bisa dimanfaatkan untuk pariwisata,” kata Gubernur Sumbar Mahyeldi saat menghadiri penanaman pohon tersebut di Nagari Maligi Kecamatan Sasak Ranah Pesisir Kabupaten Pasaman Barat, Rabu (1/9/2021) lalu.

Ia mengatakan mangrove dan cemara laut lebih efektif dari sea wall atau dinding laut sehingga penanamannya digalakkan di sepanjang pantai di Sumbar yang memiliki ancaman tsunami.

Beberapa daerah yang telah memiliki “hutan mangrove” memanfaatkannya untuk pariwisata dengan membangun akses jalan dari papan, seperti dermaga sehingga wisatawan bisa menikmati suasana asri dan aneka ragam satwa seperti burung yang menghuni hutan mangrove tersebut.

“Potensi wisata ini akan memiliki efek domino terhadap perekonomian karena akan tumbuh UMKM serta pusat kuliner di sekitarnya,” ujar Mahyeldi.

Selain itu hutan mangrove juga akan melindungi pantai dari ancaman abrasi sehingga bisa pula dimanfaatkan untuk usaha tambak udang.

Gubernur menyebut potensi tambak udang sangat besar dikembangkan di daerah pesisir karena pasarnya yang luas hingga luar negeri dan menyerap tenaga kerja lumayan banyak.

Hanya saja untuk bisa membuka usaha tersebut, harus ada beberapa syarat yang dipenuhi diantaranya yang paling utama adalah Perda RTRW yang mendukung.

“Karena itu Bupati harus secepatnya berupaya mengubah Perda RTRW agar daerah pesisir bisa dimanfaatkan untuk perekonomian masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu Bupati Pasaman Barat Hamsuardi mengatakan panjang pantai di Nagari Maligi sekitar 13 kilometer. Untuk mengurangi potensi ancaman abrasi dilakukan penanaman mangrove dan cemara laut.

Potensi ekonomi dari pesisir pantai itu akan dioptimalkan guna kesejahteraan masyarakat seperti dengan usaha tambak udang.

“Kita mendukung pembangunan tambak di sini. Namun investor harus datang langsung dan berkomunikasi dengan masyarakat,” ujarnya.(adv)