Harga Minyak Nilam Naik, Bisa Mendongkrak Ekonomi Petani

980
ilustrasi minyak nilam. (jpg)

Di tengah pandemi Covid-19 ini, petani nilam di Kabupaten Pasbar justru berbahagia. Pasalnya, harga minyak nilam mengalami kenaikan dari Rp 500 ribu menjadi Rp 750 ribu per kilogram. Harga minyak nilam ini sudah berlanjut beberapa minggu belakangan ini.

”Iya, kenaikan harga minyak nilam ini tentu kabar baik bagi petani nilam. Karena sampai saat ini posisi harganya masih bertahan diangka Rp 750 ribu per kilogram. Kita tentu berharap harga ini terus mengalami kenaikan sehingga bisa mendongkarak ekonomi petani,” kata Ketua Masyarakat Peduli Nilam (Maspeni) Pasaman Barat, Indones Rajo Mangkuto di Simpang Empat, Senin (4/1).

Menurutnya, kenaikan harga minyak nilam ini mulai terjadi tiga bulan terakhir baik di tingkat agen maupun di tingkat pasar. Untuk harga di tingkat agen mencapai Rp 750 ribu perkilogram dan di tingkat petani atau pasar Rp 730 ribu. Sebelumnya harga di tingkat agen Rp 680 ribu dan di tingkat petani atau pasar Rp 500 ribu perkilogram.

Selain harga naik, produksi nilam juga naik yang sebelumnya 8 ton per bulan saat ini produksi mencapai 18 ton per bulan. ”Biasanya agen itu kalau sudah lama berlangganan akan dibelinya di harga Rp750 ribu per kg, tapi kalau masih baru berlangganan dibelinya ke petani hanya Rp730 ribu per kg,” katanya.

Dikatakan, saat ini petani di Pasbar sudah mulai menanam nilam di lahan pribadi dan kelompok petani, karena harganya sangat menjanjikan. Buktinya, total tanaman nilam di Pasbar saat ini mencapai 700 hektare. Kalau yang berproduksi sekitar 300 hektare sampai dengan 300 haktare. Saat ini bisa dikatakan petani selalu ada yang panen nilam setiap hari. Karena petani itu menanam banyak yang tidak serentak, beda dengan daerah lain yang penennya serentak.

Sentra nilam di Pasaman Barat berada di Kecamatan Talamau, Pasaman, Kinali, Gunung Tuleh dan Kecamatan Ranah Batahan. Untuk saat ini, katanya, petani sangat membutuhkan bantuan alat penyulingan, alat pencacah nilam dan pupuk. Karena, selama ini petani masih menggunakan penyulingan secara konvensional memakai drum oli.

Di sisi lain, guna memaksimalkan penghasilan, sejumlah petani di Kabupaten Pasaman Barat banyak mengintegrasikan tanaman jagung dengan nilam, dengan sistem integrasi tersebut para petani mengaku pendapatan mereka bisa meningkat.

Karena bisa memanen dua jenis tanaman di lokasi yang sama dengan waktu yang hampir bersamaan. Sebelum nilam tersebut tumbuh besar ternyata petani sudah memanen jagung di lokasi yang sama, sehingga produktifitas dan penghasilan meningkat. “Para petani kita melakukan integrasi nilam dengan jagung ini sudah cukup lama,” sebut Indones.

Ia mengaku dengan sistem tersebut bisa meningkatkan hasil pertanian menjadi dua kali lipat dengan modal lebih sedikit dan lahan yang sama. Meski demikian petani meminta pemerintah bisa menjaga stabilitas hasil pertanian, seperti harga jual pipilan jagung dan harga jual minyak nilam.

Karena saat ini harga hasil pertanian masih ditentukan oleh sejumlah agen. Belum ada standardisasi yang jelas dari pemerintah terkait dengan kedua harga komoditi tersebut. Kadang tanpa sebab yang jelas harga minyak nilam anjlok di pasaran. Komoditi nilam memiliki nilai jual, karena hasilnya selain dijual untuk lokal juga bisa diekspor ke luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Amerika dan lainnya. (roy)