Nasib Pembuat Sanjai Balado dan Keripik Angka 8 di Tengah Pandemi Korona

39
Ilustrasi: pusat oleh-oleh di Kota Padang.

Siapa tak tahu sanjai, karak-kaliang atau keripik angka 8? Makanan ringan berbahan baku singkong atau ubi kayu itu banyak diproduksi masyarakat di kawasan Payolansek dan Tanjuangapauah, Koto Nan Ompek, Payakumbuh Barat. Namun, di tengah pandemi virus korona, ekonomi pelaku industri rumahan ini terguncang hebat.

Alih-alih dapat menjual produk usaha mereka. Para pembuat sanjai, kerupuk upi balado, angka delapan, dan segala jenis makanan ringan di Payakumbuh ini, nyaris tidak bisa berproduksi selama pandemi virus korona.

Akibatnya, masyarakat yang bekerja di dapur pembuatan ataupun di kedai penjualan juga ikutan kehilangan sumber pendapatan ekonomi. Bahkan petani dan pedagang yang memasok singkong, ubi jalar, dan kayu bakar, juga turut terkena imbasnya. Belum lagi pedagang plastik, cabai dan bumbu.

Kondisi ini, mendapat perhatian serius dari Wakil Wali Kota Payakumbuh, Erwin Yunaz. Meski momennya sedikit terlambat, tapi menjelang berakhirnya penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Payakumbuh dan masuknya tahapan new normal atau tatanan hidup baru, Erwin Yunaz terpantau mengunjungi industri rumah tangga di Payolansek, Rabu (3/6).

Saat ditinjau Erwin, para pelaku usaha rumah tangga itu sebagian sudah mulai berproduksi kembali. ”Alhamdulillah, perlahan menuju New Normal, warga kita sudah kembali memulai usaha mereka. Walaupun sebagian ada yang tak mampu bertahan. Ini memang cukup sulit di tengah wabah Covid-19. Semua lini merasakannya,” kata Erwin Yunaz.

Dalam kunjungan ke Payolansek, Erwin sempat berbincang dengan sejumlah pemilik usaha kerupuk ubi balado. Para pemilik usaha itu menyebut, mereka baru memulai kembali beraktifitas setelah beberapa bulan tutup. Walau sudah berusaha lagi, tapi mereka khawatir dengan minimnya pembeli.

Erwin mengaku sangat prihatin dengan kondisi yang dihadapi para pelaku industri rumah tangga tersebut. Apalagi di antara mereka ada yang mengaku berhutang selama usaha tutup akibat pandemi Covid-19. Erwin pun meminta dinas terkait, mencarikan solusi. ”Jalan keluarnya nanti tentu akan ada kebijakan bagaimana mereka mendapatkan stimulus kembali dari dinas terkait,” ujarnya.

Erwin Yunaz menyebut, saat ini stimulus yang ada, baru dana Covid-19 bagi KK terdampak. Kalaupun ada pelaku usaha yang bisa dimasukkan ke dalam data, maka tentu bantuan ini tidak seberapa. Sedangkan mereka juga memiliki karyawan untuk digaji.
“Kita berharap, dalam tiga bulan ke depan, situasi kembali normal. Ada perbaikan motor usaha industri sebagai penggerak ekonomi warga kita. Dan akan selalu ada do’a dan ikhtiar menemani,” pungkas Erwin Yunaz. (*)