Juru Toilet Muhammadiyah Payakumbuh Terpapar Korona

Ilustrasi positif Covid-19. (INTERNET)

Juru toilet atau penjaga toilet komplek Muhammadiyah di kawasan Napar, Payakumbuh Utara, berinisial J, dinyatakan positif terinfeksi virus korona. Wanita 53 tahun yang beralamat di Koto Baru Balai Janggo, Kapalo Koto Dibalai ini, terpapar Covid-19, berdasarkan pengumuman yang disampaikan Wakil Wali Kota Payakumbuh, Erwin Yunaz bersama Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTP2) Covid-19 Payakumbuh, Rabu (13/5).

“Hari ini (kemarin-red), ada tambahan satu orang positif Covid-19, berdasarkan hasil pemeriksaan sampel Swab dari Laboratorium Kedokteran Unand. Satu orang yang positif Covid-19 tersebut berinisial J, 53, Perempuan, beralamat di Koto Baru Balai Janggo, Kapalo Koto Dibalai, yang sehari-hari penjaga toilet di Muhammadiyah Napar,” kata Erwin Yunaz, dalam video konfrence (vidkon) dengan wartawan.

Dalam vidkon tersebut, Erwin Yunaz didampingi Asisten III Setdako Payakumbuh Amriul Dt Karayiang dan Kadis Kesehatan Bakhrizal. Selain mereka, juga ikut mendapingi, Kadis Kominfo Jhon Kenedy, Kepala Kesbangpol Budi D Permana, dan Kabid Humas Kominfo Hermanto.

Menurut Erwin Yunaz, Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTP2) Covid-19 Payakumbuh, sudah melakukan tracking atau menelusuri riwayat kontak juru toilet Muhammadiyah Napar ini. “Tracking-nya masih satu klaster yang sama dari D, 67. Dengan bertambahnya satu kasus positif covid 19 hari ini (kemarin, red), maka Payakumbuh sudah mencatat 12 kasus positif Covid-19,” kata Erwin.

Kepala Dinas Kesehatan Payakumbuh, dr Bakhrizal menyebut, jajaran Dinas Kesehatan sudah mengirim juru toilet Muhammadiyah Napar berinisial J ini ke Padang, untuk menjalani pengobatan. “Artinya, kalau di Padang, untuk perawatan pasien positif itu, alatnya lengkap. Dan para pasien yang positif mereka satu sama lain bebas untuk bersosialisasi,” ujar Dokter Bek, panggilan akrab Bakhrizal.

Sehari sebelumnya, Dokter Bek dalam keterangan tertulis yang diperoleh Padang Ekspres dari Diskominfo Payakumbuh menyatakan, kendati Payakumbuh sudah menjadi central kasus untuk Kabupaten Limapuluh Kota dan Agam, upaya yang dilakukan Pemko Payakumbuh adalah pelaksanaan tracking kasus Covid-19 di Payakumbuh yang tergolong cepat. Setiap hari, semua orang yang kontak dengan pasien positif diambil sampelnya untuk di tes Swab.

“Setiap hari, kita mengambil sampel swab, hampir 50 orang. Kalau di daerah lain, tracking dan pressing dari keluarga inti saja,” kata Bakhrizal seraya menyebutkan, Pemko Payakumbuh ingin mendahului kasus positif. Artinya dengan kondisi seperti ini, berharap penyebaran dapat di-stop dan tak ada lagi kasus positif, kalau bisa kasusnya menurun.

“Jumlah Swab kita sudah diambil 700 lebih. Sebagian belum keluar. Sebab, di labor Unand, masuknya sampel sampai ribuan. Maka kita menunggu. Kalau ada Swab kita yang positif, saya pasti langsung ditelepon untuk diberi tahu,” ujar Dokter Bakhrizal.

Di sisi lain, yang manjadi persoalan adalah seandainya, stop kasus di Kota Payakumbuh apakah akan sukses dan berhasil? Dijelaskan Bakhrizal dari sisi lain bisa begitu, namun dari sisi yang satunya lagi dengan konsep epidemiologi, saat ini proses penularan belum berakhir, baik di dalam maupun luar kota.

“Penularan di dalam kota kita serius mengantisipasi dengan sedemikian rupa. Sedangkan penularan di luar kota yang mereka tidak terlalu serius menanganinya, ini yang kita takutkan. Lantas ketika suatu saat kasus tersebut dari luar kota masuk dan dia kontak dengan semua orang, kita akan menghadapi gelombang kedua,” terang Bakhrizal.

Ini yang ditakutkan karena ini yang menjadi persoalan besar. Bila di dalam Payakumbuh, sukses namun kasus di luar tidak bisa membendungnya. maka akan sia-sia kerja selama ini. Karena Payakumbuh akan kembali kepada awal kasus dengan munculnya klaster baru.

“Penanganan penyakit ini harus dalam satu kawasan epidemiologis, bukan tatanan wilayah administrasi lagi. Berbicara epidemiologi, mengukur tingkat kekontakan, tingkat perjalanan person terhadap semua wilayah. Dengan konsep PSBB kita, konsep epidemiologi tidak terbatas Payakumbuh saja. Artinya harus serius seluruhnya, satu saja kota/kabupaten tidak menangani dengan baik, maka persoalan baru akan muncul,” ungkap Bakhrizal. (frv)