Dua dari 21 Pelanggar Tolak Pakai Rompi Oranye 

8
ilustrasi. (net)

Sanksi berjenjang pelanggaran protokol kesehatan mulai diterapkan Pemko Payakumbuh. Memasuki hari ketiga operasi yustisi Perda Nomor 6 Tahun 2020 tentang Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), sedikitnya 23 orang terjaring karena tidak mematuhi protokol kesehatan. Namun, dua orang di antaranya memilih bayar denda Rp 100 ribu ketimbang sanksi sosial memakai rompi orange dan menyapu sampah.

Pakai rompi oranye, pegang sapu lidi dan bersihkan sampah di pisat Kota Payakumbuh ini, menjadi metode pemberian sanksi bagi pelanggar Perda AKB oleh Satgas Covid-19 Kota Payakumbuh.

Operasi yustisi dilaksanakan pada pukul 10.00 hingga 11.30 di sekitaran Tugu Adipura, 21 orang terjaring karena tidak memakai masker sejak diberlakukan mulai tiga hari lalu.
Kepala Satpol PP Kota Payakumbuh, Devitra menyebut, pelanggar membayar denda kali ini sebesar Rp 100 ribu per orang. ”Yang terjaring hari ketiga ini belum ditemukan orang yang sama (bayar denda, red),” kata Devitra, Rabu (14/10).

Operasi yustisi tersebut juga dimonitor langsung ke lapangan oleh Ketua Pengadilan Negeri Payakumbuh, Kurniawan Wijanarko bersama hakim dan panitera. Kedatangan unsur dari pengadilan adalah terkait dengan kemungkinan pelanggar yang akan diajukan ke tindak pidana ringan (tipiring) sesuai sanksi yang tertuang dalam perda.

Baca Juga:  Pemko Payakumbuh Fokus Terapkan SPBE

Devitra menyampaikan, ke depan razia yang dilakukan secara mobile berkeliling dengan mobil untuk menindak warga yang masih bandel dan tidak mau menggunakan masker saat keluar rumah akan dilakukan, jadwalnya bisa saja dadakan.

”Saat ini kita untuk ketiga kalinya menegakkan aturan Perda Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) bersama jajaran TNI-Polri, kita berharap dengan telah mendapatkan sanksi, para pelanggar protokol kesehatan dapat lebih disiplin lagi, jangan sampai orang yang sama kedapatan dua kali atau lebih oleh petugas, karena sanksinya akan berat lagi, bisa tipiring,” kata Devitra.

Devitra juga mengimbau pelaku usaha rumah makan, kafe, restoran, dan tempat-tempat ramai, untuk ikut disiplin dalam penegakan aturan. ”Kami tak akan bosan menghimbau warga agar terus dapat memakai masker saat keluar rumah, dan pelaku usaha memastikan tamu yang datang menggunakan masker,” kata Devitra. (fdl)