6 TK, 15 SD dan 5 SMP Diliburkan Sepekan

ilustrasi. (jpg)

Proses belajar tatap muka pada 6 TK/PAUD, 15 SD/MI, dan 5 SMP/Ponpes di Kota Payakumbuh, terpaksa dihentikan kembali. Ini terjadi setelah beberapa guru dan tenaga tata usaha yang mengabdi pada lembaga-lembaga pendidikan tersebut, positif terpapar Covid-19 berdasarkan hasil swab yang mereka ikuti.

Kondisi ini diakui Kepala Dinas Pendidikan Payakumbuh, AH Agustion saat dikonfirmasi Padang Ekspres, Minggu malam (17/1). Menurut Agustion, sekolah yang ditemukan guru positif Covid-19, memang harus diliburkan kembali. “Proses belajar tatap muka yang sudah berlangsung di sekolah itu, diliburkan kembali selama sepekan. Setelah itu, akan dilakukan evaluasi,” kata Agustion.

Berdasarkan data yang dirilis Satgas Pencegahan Covid-19 Payakumbuh, sejak Selasa (12/1) sampai Minggu (17/1), sudah 39 guru, kepala sekolah, tenaga tata usaha, dan dosen di Payakumbuh yang dinyatakan positif terpapar Covid-19. Mereka di antaranya mengajar di TK An-Nadair, TK Istiqlal, TK Indah Jelita, TK Raudhatul Jannah, TK Dharmawanita, dan salah satu PAUD di Payakumbuh Barat.

Selain itu, guru yang terpapar Covid-19 di Payakumbuh dan proses belajar tatap muka di sekolahnya kembali dihentikan, di antaranya adalah guru SDN 06 Payakumbuh di Nan Kodok dan guru SDN 10 Payakumbuh di Balaibetung. Kemudian, guru SDN 14 Payakumbuh di Pakan Sinayan dan guru SDN 21 Payakumbuh di Labuahbaru.

Selanjutnya, guru SD yang terpapar Covid-19 di Payakumbuh adalah guru SDN 28 Payakumbuh di Parik Rantang dan SDN 31 Payakumbuh di Padang Tangah Payobadar. Kemudian, guru SDN 34 Payakumbuh di Napar, guru SDN 48 Payakumbuh di Tanjuanganau, guru SDN 51 Payakumbuh di Ranahtiakar, guru SDN 58 Payakumbuh di Dayabangun, dan guru SDN 63 Payakumbuh di Limbukan.

Selain itu, guru MIN Parambahan, guru MIS Kotopanjang, guru SD Al Fath, dan guru SDIT Mutiara Hati, juga ada yang terpapar Covid-19. Proses belajar tatap muka di sekolah-sekolah ini juga dihentikan atau diliburkan selama sepekan.

Sementara, pada tingkat SMP/Pondok Pesantren di Payakumbuh, guru yang terpapar Covid-19, di antaranya dari SMPN 1 Payakumbuh, SMPN 3 Payakumbuh, SMPN 6 Payakumbuh, SMP Mutiara Hati, dan tenaga tata usaha ICBS Payakumbuh. Selain itu, juga ada guru SMPN 1 Luhak, Kabupaten Limapuluh Kota.

Sementara, pada tingkat SMA/SMK, guru yang terpapar Covid-19 di Payakumbuh, di antaranya adalah guru SMKN 4 Payakumbuh dan guru SMK Kosgoro. Kemudian, guru SMAN 1 Harau, guru SMAN 2 Guguak, guru SMAN 1 Situjuah, guru SMK Luhak. Kemudian, juga ada satu dosen STT-Payakumbuh yang terpapar Covid-19.

Baca Juga:  Tebing Batang Lamposi kian Memprihatinkan

Di sisi lain, Kepala Dinas Kesehatan Payakumbuh, dr Bakhrizal didampingi Kabid Kesehatan Masyarakat Fatma Nelly, tetap memperkirakan, kasus positif Covid-19 dari kalangan pendidikan atau kluster guru, masih akan berpotensi bertambah. Sebab, target Pemko Payakumbuh adalah melakukan screening atau rapid tes antibodo kepada 3.600 guru. Bagi yang hasil tesnya reaktif, maka pada hari itu juga langsung di tes swab.

“Pada saat sekolah tatap muka dilakukan, tes swab harus dilakukan bagi mereka yang reaktif, agar program sekolah tatap muka dapat berjalan aman dari pandemi Covid-19. Kemudian, dalam sekali 15 hari atau sekali sebulan, Dinas Kesehatan juga akan melakukan tes swab ulang. Upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi agar anak-anak sekolah tidak terpapar Covid-19 dan menyebabkan penularan yang masif serta tak terkontrol,” kata dr Bakhrizal.

Di sisi lain, rencana rapid tes untuk 3.600 guru di Payakumbuh, ternyata belum dapat diterima oleh seluruh guru. Banyak guru-guru yang takut menjalani rapid tes antibodi ataupun tes swab, sebelum melanjutkan kembali proses belajar tatap muka di sekolah yang sudah dimulai di Payakumbuh sejak awal Januari ini.

“Iya, memang masih ada guru yang tak mau rapid tes atau tes swab. Padahal, kalau tidak ikut rapid test, tentu kita tidak bisa tahu bagaimana kondisi kesehatan guru sebelum memberi pelajaran tatap muka di sekolah. Karena itu, harapan kita seluruh guru dapat ikut tes swab,” kata Kepala Dinas Pendidikan Payakumbuh AH Agustion.

Hal serupa ditegaskan Sekretaris Diskominfo Payakumbuh Azwardi. Menurutnya, Dinas Pendikan akan tegas memberikan sanksi sesuai aturan yang ada, terhadap guru atau tenaga pendidik yang tidak mau ikut dengan aturan atau protokol kesehatan (prokes) pencegahan Covid-19.

“Apabila ada guru yang tidak mau di-rapid tes, maka tidak boleh masuk ke sekolah untuk mengajar, dan dianggap tidak hadir dalam absen. Ini akan mempengaruhi tunjangan pendidikan dan sertifikasinya. Apabila ditemukan melanggar prokes, maka kita beri teguran kepada sekolahnya,” tegas Azwardi dalam siaran pers yang dirilis Diskominfo Payakumbuh.

Selain berharap seluruh guru dapat mengikuti test swab, Dinas Pendidikan Payakumbuh juga meminta peran dari orang tua atau masyarakat terhadap anak-anak mereka yang sudah mengikuti proses belajar tatap muka di sekolah. “Karena penyebaran Covid-19 ini belum sampai ke anak-anak, kita minta anak-anak di luar rumah atau sekolah, diawasi ketat oleh orang tua,” ujar Agustion. (frv)

Previous articleDua Pasien Covid-19 Meninggal
Next articleBanyak Beda Samsung Galaxy S21+ 5G yang Bikin Kamu Wajib Upgrade!