Usulkan Rendang jadi Warisan Budaya Dunia

40
Erwin Yunaz, Wakil Wali Kota Payakumbuh. (Foto: IST)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Republik Indonesia sejak 2014 silam, memang telah mengakui randang atau rendang sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional Indonesia. Namun, makanan terlezat di dunia versi CNN ini, ternyata belum pernah diusulkan sebagai Warisan Budaya Dunia ke Unesco. Padahal, rendang punya peluang besar menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).

Kondisi ini, menarik perhatian Erwin Yunaz, Wakil Wali Kota Payakumbuh. Erwin Yunaz yang beberapa tahun terakhir konsen me-rebranding Payakumbuh sebagai “Kota Randang”, punya gagasan besar, bagaimana rendang, khususnya lagi randang khas Payakumbuh, bisa menjadi warisan budaya dunia.

Gagasan agar randang diusulkan sebagai warisan budaya dunia, disampaikan Erwin Yunaz saat tampil sebagai key note speaker dalam Webinar (Web Seminar) bertajuk “Internasionalisasi Rendang” yang digelar Science Techno Park (STP), Universitas Andalas (Unand), Padang, Kamis (18/6). Webinar yang digelar melalui aplikasi Zoom dengan moderator Welya Refdi itu narasumber lain. Seperti, Dr Uyung Gatot S Dinata, Profesor Fauzan Azima, dan Dr Eka Candra Lina.

Dalam webinar itu, Erwin menyampaikan dengan gamblang, dasar gagasannya menjadikan rendang sebagai warisan budaya dunia. Selain karena sejarah rendang yang diyakini sudah dikenal sejak 1550 Masehi, Erwin juga berdasarkan pada Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian.

Perwujudan dari Undang-Undang tersebut, menurut Erwin Yunaz, adalah bagaimana agar rendang sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional Indonesia, tidak diklaim oleh negara lain. “Keaslian dari warisan leluhur ini adalah hak miliknya orang Minang,” tegas Erwin Yunaz.

Beranjak dari itu pula, menurut Erwin, Kota Payakumbuh dalam usia 50 tahun pada Desember mendatang, berani mendeklrasikan diri sebagai Kota Randang. Tak sekedar deklarasi, sebagai Kota Randang, Payakumbuh juga sudah membangun sentra industri rendang dengan menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) Kementerian Perindustrian.

“Ada yang menarik dan menjadi catatan penting dari Kementerian Perindustrian. Ternyata, rata-rata atau hampir semuanya pembangunan dari DAK yang cukup besar pemanfaatanya di akhir anggaran setelah diterima. Namun, di Payakumbuh, dimulainya pembangunan Sentra IKM Randang di tahun 2017, Pemko Payakumbuh mengajukan sesegera mungkin memanfaatkan gedung Sentra IKM Randang pada awal 2018,” kata Erwin Yunaz.

Hal ini, menurut Erwin Yunaz, merupakan bentuk keseriusan Kota Payakumbuh menjadi kota rendang. Bahkan, Pemko Payakumbuh menargetkan pada tahun 2024 mendatang, sentra IKM rendang di kota ini bisa tembus pasar global. “Target tersebut, bukan target yang muluk-muluk. Sesuatu yang bisa dilihat apabila dikelola dengan baik dengan pemikiran terbuka,” kata Erwin Yunaz. (frv)