PDP Korona asal Napar Meninggal

Prosesi pemakaman secara protap Covid-19 warga di Napar, Kecamatan Payakumbuh Utara, Selasa (21/4). (Fajar Rillah Vesky-Padang Ekspres)

Jumlah warga Kota Payakumbuh yang dimakamkan sesuai dengan prosedur tetap (protap) pemakaman korban terinfeksi virus korona (Covid-19) terus bertambah. Setelah dua kali di lingkungan Nankodok, Kelurahan Tigo Koto Dibaruah, pemakaman dengan protap Covid-19 itu juga berlangsung di Kelurahan Napar, Kecamatan Payakumbuh Utara, Selasa (21/4).

Warga Napar yang dimakamkan sesuai dengan protap pemakaman korban terinfeksi korona itu berinisial D, 53. Sebelum meninggal dunia, D diduga sempat mengalami demam dan sesak napas sepulang melakukan perjalanan dari Bukittinggi. Setelah itu, D masuk Instalasi Gawat Darurat (IGD), Rumah Sakit Islam (RSI) Ibnu Sina Payakumbuh pada Senin (20/4) pukul 03.00 WIB.

Sembilan jam kemudian atau pada Senin siang (20/4) pukul 12.00 WIB, D dirujuk pihak RSI Ibnu Sina Payakumbuh ke Rumah Sakit Achmad Mochtar (RSAM) Bukittinggi, dengan status Pasien Dalam Pengawasan (PDP) terkait dengan korona. “Iya, dirujuk dari RSI Ibnu Sina ke RSAM Bukittingggi dengan status PDP,” kata Kepala Dinas Kesehatan Payakumbuh, dr Bakhrizal yang dikonfirmasi Padang Ekspres, Selasa malam (21/4).

Baru sekitar enam jam berada di RSAM Bukittinggi, D dinyatakan meninggal dunia pada Senin malam (20/4) pukul 19.00 WIB. Karena hasil pemeriksaan labor atau hasil pemeriksaan swab tenggorokan dan hidung atas sampel yang diambil dari D belum keluar, penyelenggaraan jenazah D dilaksanakan oleh petugas forensik RSAM Bukittinggi, dengan protokol standar pemakaman pasien Covid-19.

Petugas yang mengebumikan jenazah D menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). Informasi yang diperoleh Padang Ekspres, petugas yang ikut mengantar D ke peristirahatan terakhirnya adalah gabungan TNI, Polri, Satpol PP, dan Dinas Kesehatan.  “Biasanya (dalam dua pemakaman sebelumnya di Nan Kodok, red), saya juga hadir dalam pemakaman dengan protap Covid-19 ini. Namun, hari tadi (kemarin atau untuk pemakaman warga Napar, red), saya tak hadir karena ikut vidkon (video conference) dengan Kemendagri. Tapi, kawan-kawan dari Dinas Kesehatan ada yang ikut,” kata dr Bakhrizal.

Kepala Dinas Kesehatan Payakumbuh yang cukup mudah diakses awak media itu menyebutkan, hasil pemeriksaan swab terhadap D masih belum keluar hingga Selasa malam (21/4). Sedangkan untuk hasil pemeriksaan swab, warga Nankodok berinisial N yang dimakamankan dengan protap pemakaman korban terinfeksi korona pada Minggu (19/4) lalu, disampaikan pada Selasa (21/4). “Saya belum bisa sampaikan hasil pemeriksaan swab warga Nankodok karena besok (hari ini-red), baru akan diumumkan secara resmi melalui konfrensi pers yang digelar Humas (Bidang Kehumasan Diskominfo). Tunggu besok saja ya,” kata dr Bakhrizal kepada Padang Ekspres, tadi malam.

Menurut dr Bakhrizal, hasil pemeriksaan swab ini, biasanya keluar 2 hingga 3 hari usai dikirim ke Labor Unand. “Jadi kita menunggu sampai nanti diumumkan secara resmi dari ketua tim gugus tugas yaitu wali kota. Kita minta warga jangan cari-cari sumber informasi lain, nanti salah-salah informasi bisa menyebar hoaks,” terang Bakhrizal.

Wali Kota Payakumbuh, Riza Falepi selaku Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Payakumbuh menyebutkan, kendati sampai Selasa (21/4), masih belum ada warga yang Payakumbuh positif terinfeksi korona. Tapi, sudah saatnya masyarakat Payakumbuh jangan menganggap enteng dengan ancaman wabah pendemik corona virus.

Apalagi, katanya, jumlah masyarakat Sumatera Barat yang positif Covid-19 tiap hari terus bertambah secara signifikan. “Mari kita patuhi seluruh imbauan pemerintah terkait Covid-19. Dengan mematuhi sosial dan physical distancing, selalu memakai masker kemana saja, sering cuci tangan dengan sabun, serta hindari kerumunan. Banyak tinggal atau beraktifitas dalam rumah,” kata Riza Falepi.

Wali kota dua periode itu juga menyebut, Rabu (22/4) akan diterapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Payakumbuh. Artinya masyarakat diminta untuk lebih banyak di rumah, tidak banyak beraktivitas di luar kalau tidak perlu. “Kita Pemko dan aparat TNI-Polri akan memantau aktifitas warga kami dua minggu ke depan. Kami berharap masyarakat bisa kooperatif, termasuk aktivitas-aktivitas keramaian, jangan digelar,” kata Riza Falepi.(frv)