Daging Impor Beredar, Pedagang Lokal Bertindak

8
ilustrasi daging impor. (JawaPos.com)

Daging impor asalIndia beredar lagi di Payakumbuh. Entah dari mana pintu masuknya, peredaran daging impor lebih dikenal masyarakat sebagai daging box ini, membuat pedagang daging lokal yang tergabung dalam keluarga besar los daging Pasar Ibuh dan Asosiasi Pedagang Daging Segar Payakumbuh, resah.

Puncak dari keresahan tersebut, para pedagang daging lokal di Pasar Ibuh, Payakumbuh, Selasa siang (20/4), menyita 27 bungkus daging impor berikut frezzer yang digunakan untuk menjualnya. Aksi ini, menurut para pedagang daging lokal, mereka lakukan setelah berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait.

Menurut Dedi Hendri, seorang tokoh pedagang daging lokal di Pasar Ibuh,, efek dari kran impor daging yang terbuka, sudah bertahun-tahun mereka rasakan. Bahkan mereka tidak berdaya menghadapi masuknya daging impor. Apalagi pedagang daging juga sudah menjalar ke warung-warung nasi, warung sate, dan restoran di kota ini.

”Kami tak berdaya dengan masuknya daging (impor) ini, karena seakan mentok segala laporan tentang daging ini. Kami tahu, ini daging resmi dari pemerintah dan kita tak akan mampu untuk menghambatnya,” kata Asenk, panggilan akrab Dedi Hendri.

Meski tidak mampu menghalangi masuknya daging impor ke Payakumbuh, namun pedagang daging lokal di Pasar Ibuh tetap berharap agar daging impor tidak dijual di sekitar tempat mereka berjualan. Sebab itu pula, sekitar sebulan lalu, saat mengetahui ada daging impor yang dijual di Pasar Ibuh Timur, para pedagang daging lokal mencoba menegur pedagang daging impor.

”Kira-kira, sebulan lalu, mereka (pedagang daging impor, red) buka di Pasar Ibuah Timur. Kami layangkan teguran pertama, mereka tutup tokonya selama dua hari. Tapi, tidak berapa lama, mereka buka lagi dan kami kembali menegur. Setelah itu mereka tutup lagi. Namun, beberapa hari ini mereka kembali buka,” kata Dedi Hendri bersama Man Pono, Ketua Asosiasi Pedagang Daging Payakumbuh.

Lantaran sudah tiga kali ditegur dan masih beroperasi, pengurus Asosiasi Pedagang Daging Payakumbuh bersama anggota, memutuskan untuk menyita daging impor yang dijual di Pasar Ibuah Timur. “Kami bertindak dan menyita daging itu (daging impor), karena mereka seakan tidak mengindahkan teguran kami, bahwa jangan buka usaha di wilayah Pasar Payakumbuh. Silahkan jual, tapi jangan dalam wilayah Pasar Ibuh,” sebut Dedi Hendri.

Dedi mewakili keluarga besar los daging Pasar Ibuh dan Asosiasi Pedagang Daging Payakumbuh menyebut, aksi penyitaan yang mereka lakukan, bukan tindakan arogan. “Kami tahu dengan aturan dan undang-undang. Maka kami pun, juga koordinasi dengan pihak Polres Payakumbuh, Dinas Koperindag dan Dinas Peternakan,” ujarnya.

Di sisi lain, Kepala Bidang Pengelolaan Pasar pada Dinas Koperasi dan UKM Payakumbuh, Arnel, mengaku, telah mendapat informasi tentang aksi penyitaan daging impor oleh pedagang los daging Pasar Ibuh. Arnel dapat informasi ini dari Kasi Sarana dan Kasi Trantib Pasar.

“Untuk tindak lanjutnya, semua barang yang disita tersebut disimpan di bidang pasar. Rencana, besok (hari ini, red), kami akan memanggil pemiliknya sekaligus membicarakan penyelesaiaannya,” kata Arnel kepada anggota Balai Wartawan Luak Limopuluah.

Arnel menyebut, dari awal berjualan di dalam Pasar Ibuh, dinas sudah melarang dan sudah beberapa kali menutup kios penjual daging beku tersebut, sekaligus mengingatkan untuk tidak berjualan di kawasan pasar. Sebab akan memicu kecemburuan pedagang daging lainnya di pasar, karena harga daging yang jauh berbeda.

“Dinas tetap tidak mengizinkan siapapun berjualan daging beku di pasar. Kita akan tetap melakukan pantauan di seluruh kawasan pasar agar hal serupa tidak terulang kembali. Boleh jual daging beku, tapi harus di luar kawasan pasar, terutama Pasar Ibuh yang menjual bahan pokok,” kata Arnel.

Dikeluhkan Pedagang Ternak
Jauh sebelum para pedagang daging di Pasar Ibuh mengeluhkan masuknya daging impor ke kota ini, para pedagang sapi dan kerbau di Pasar Ternak Payakumbuh, juga sudah lama mengeluhkan fenomena ini. Bahkan, pada awal tahun 2020 lalu, Padang Ekspres pernah menurunkan berita tentang keresahan toke ternak atau pedagang ternak, terhadap masuknya daging impor ke Sumbar.

Menurut Armen Datuk Bandaro Kayo, seorang pedagang di Pasar Ternak Payakumbuh, lesunya aktifitas di Pasar Ternak Payakumbuh dan juga pasar-pasar ternak lainnya di Sumbar dalam beberapa waktu terakhir, tidak hanya disebabkan oleh lesunya ekonomi secara umum. Namun kuat dugaan, juga dipengaruhi oleh masuknya daging box atau daging impor yang dikemas dalam kotak ke pasar Sumbar.

“Sejak daging box atau daging impor masuk, itu pengaruhnya terhadap pasar ternak, sangat luar biasa. Sebab, harga daging box ini, jauh lebih murah dari harga daging lokal kita. Jikapun toke-toke (tauke-tauke) daging di Sumbar masih mau untuk membantai (menyembelih) sapi atau kerbau lokal, tapi konsumen mereka, seperti pemilik rumah makan atau yang punya usaha membuat bakso dan sate, itu lebih memilih memakai daging box karena harganya lebih murah,” kata Datuak Bandaro Kayo.

Para pedagang ternak di Sumbar, khususnya di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota berharap kepada pemerintah ataupubn otoritas terkait, untuk lebih melakukan pengawasan dan pembatasan terhadap peredaran daging box atau daging impor ini. Sebab, tanpa adanya pengawasan dan pembatasan terhadap peredaran daging box, ekonomi lokal bisa koyak-koyak.

“Daging box ini jika tidak diawasi, pengaruhnya sangat besar sekali. Tidak hanya terhadap kami pedagang ternak. Tapi juga terhadap peternak lokal yang umumnya memelihara sapi. Sebab, jika pasar ternak sudah sepi, maka harga sapi yang dipelihara peternak lokal atau masyarakat di kampung-kampung, itu juga ikut anjlok. Padahal, umumnya mereka ini memelihara sapi dengan sistem seduaan atau bagi hasil dengan pemilik modal,” kata Datuak Bandaro Kayo.

Pemerhati ekonomi kerakyatan di Luak Limopuluah, Yulfian Azrial, juga pernah mendorong pemerintah dan otoritas terkait, untuk melakukan pengawasan dan pembatasan terhadap distribusi daging box atau daging impor di Kabupaten Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh. (frv)

Previous articleWarga Puhun Pintu Kabun Tewas Tergantung
Next article22 Jaringan Irigasi di Solsel Rusak