Branding Kota Rendang jadi Pro-Kontra

108
Penggunan branding Payakumbuh Kota Batiah dalam proyek pembangunan pedestrian di kawasan Pasar Payakumbuh ini, dipastikan Pemko Payakumbuh bukan bentuk inkonsistensi. Branding lain, seperti Payakumbuh Kota Rendang dan Payakumbuh Kota Galamai tetap dipakai. (net)

Branding Payakumbuh sebagai Kota Randang yang massif digencarkan Pemko Payakumbuh menuai pro dan kontra di tengah masyarakat. Pro dan kontra ini makin meluas, manakala dalam salah satu titik proyek pembangunan kawasan pedestrian di kawasan Pasar Payakumbuh, Pemko Payakumbuh mendadak memakai kembali brand Payakumbuh sebagai Kota Batiah yang populer pada zaman kepemimpinan Wali Kota Muchtiar Muchtar.

Pemakaian kembali branding Payakumbuh sebagai Kota Batiah dalam salah satu titik proyek pembangunan kawasan pedestrian di kawasan Pasar Payakumbuh ini, memunculkan anggapan Pemko Payakumbuh seolah inkonsisten. Sebab, di tengah gencarnya branding Kota Randang, muncul pula branding Kota Batiah. Sementara branding Kota Galamai yang menandai peresmian Kotamadya Payakumbuh pada 17 Desember 1970, kini seakan hilang begitu saja.

Pro dan kontra yang muncul ini mendapat tanggapan serius dari Wali Kota Payakumbuh Riza Falepi Datuak Rajo Ka Ampek Suku. Menurut mantan ”senator” Sumbar di DPD RI ini, branding Kota Rendang yang gencar dimassalkan oleh Pemko Payakumbuh sejak beberapa tahun belakangan, bukan wujud sikap inkonsistensi pemko terhadap branding kota, tapi upaya untuk makin menggaungkan randang sebagai kuliner khas Payakumbuh.

Riza Falepi menyebut, sejumlah branding yang selama ini melekat, seperti Payakumbuh Kota Gelamai dan Payakumbuh Kota Batiah masih tetap dipakai. Sebutan Kota Batiah dan Kota Gelamai yang sudah lama mengakar di Payakumbuh, secara sosial budaya tidak bisa hilang begitu saja. Karena, kedua makanan itu sudah melekat di hati warga kota dan di masyarakat Sumbar lainnya.

”Gelamai dan batiah, serta bareh randang, hanya ada di Payakumbuh. Makanya, bagaimanapun juga branding Payakumbuh kota gelamai dan kota batiah tidak akan pernah hilang di kota ini. Meski sebutan kota randang suatu saat nanti akan mendunia. Makin banyak, sebutan kota ini, kian banyak penduduk dunia kenal dengan Kota Payakumbuh,” kata Riza Falepi dalam siaran pers yang Diskominfo Payakumbuh, Selasa (24/11).

Riza juga menjelaslkan alasannya kenapa belakangan ini, Pemko Payakumbuh terkesan jor-joran memasalkan branding Payakumbuh Kota Randang. Tujuannya tidak lain, mengejar sejumlah nilai tambah yang ingin diraih dengan memassalkan randang. Riza Falepi  menampik tudingan sementara pihak yang menyebut pemassifan branding Payakumbuh Kota Randang wujud tidak konsistennya para pemangku kepentingan di kota ini terhadap branding kotanya.

”Dugaan semacam itu bisa saja muncul dari pihak-pihak yang tidak mengerti dengan maksud yang hendak dicapai, hanya terkesan mencari titik-titik lemah saja,” tambah Riza.
Branding Payakumbuh Kota Randang yang akan ditetapkan melalui SK (surat keputusan) Wali Kota Payakumbuh itu, menurut Riza, mengandung maksud sangat besar.

Yaitu, agar kuliner khas Minang itu semakin mendapat penerimaan  luas, baik di pasar regional, nasional, dan internasional. Sehingga, kelak diharapkan memberi dampak yang besar pula untuk pendapatan kota dan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Wako Riza mengakui, randang merupakan makanan khas masyarakat adat Minangkabau yang bisa ditemui di 19 kabupaten/kota di Sumbar. Tapi Wako Riza mengingatkan, randang Payakumbuh memiliki spesifikasi tersendiri yang hampir tidak ditemui di sejumlah kabupaten/kota lainnya di Sumbar. Misalnya, randang talua, randang jaguang, randang ubi dan sejumlah varian lainnya yang merupakan produk khas Payakumbuh.

Fakta yang tak kalah membuat miris, menurut Wako Riza, ada negara yang mulai mengklaim randang sebagai kuliner khasnya. Padahal dari informasi yang diterima, randang yang diklaim negara tertentu itu bukan produk yang dihasilkan oleh masyarakatnya, melainkan masyarakat Minangkabau yang merantau ke negara dimaksud, lalu memproduksi randang.

Dikatakan Riza Falepi, randang khas Payakumbuh terus mendapat pangsa pasar luas, termasuk ke luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Jeddah dan lainnya. Imbasnya, UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) dengan produk khas randang di Payakumbuh terus mengalami perkembangan signifikan. ”Hal-hal seperti ini kan besar artinya untuk mengejar sumber-sumber pendapatan kota, selain juga upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” pungkas Riza. (frv)