Ekonomi 60 Ribu Kepala Keluarga Terguncang

Tim Gugus Cepat Penanganan Covid-19 menerima bantuan alat rapid test. Alat tersebut skrining awal untuk mendeteksi antibodi yaitu IgM dan IgG, yang diproduksi oleh tubuh untuk melawan virus korona. (Sy Ridwan-Padang Ekspres)

Sebanyak 60 ribu kepala keluarga (KK) dari 120.930 KK di Kabupaten Pessel terdampak ekonominya oleh wabah virus korona (Covid-19). ”Mereka ini berasal dari keluarga petani, nelayan, tukang ojek, bahkan juga para pedagang makanan dan lainya. Mereka sekarang tidak lagi memiliki penghasilan sebagaimana sebelumnya. Sebab mereka takut keluar rumah, kalaupun ada yang beraktivitas sesuai profesinya, tidak ada pelanggan yang datang, terutama sekali bagi tukang ojek dan pedagang makanan,” papar Bupati Pessel Hendrajoni, kemarin (2/4).

Saat ini pihaknya melakukan kajian terhadap kebijakan penggratisan tagihan rekening Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). ”Karena PDAM merupakan perusahaan milik daerah, sehingga kita juga berencana akan melakukan pengratisan tagihan rekening selama tiga bulan bagi keluarga miskin yang terkena dampak wabah virus korona. Tapi rencana ini sedang kita lakukan kajian,” ujarnya.

Di sisi lain, alat kesehatan (alkes) untuk pemeriksaan orang dalam pemantauan
(ODP) dan notifikasi yang berpotensi bisa menularkan virus korona (Covid-19) masih minim. Keterbatasan tersebut menjadi kendala bagi petugas medis untuk melakukan pemeriksaan di lapangan.

Kondisi itu dirasakan oleh petugas medis yang ditugaskan di lapangan maupun posko-posko pemantauan di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel). Hendrajoni, mengatakan di daerah itu jumlah orang yang notifikasi sebanyak 2.515, ODP 220 orang, dan PDP sebanyak 3 orang.

”Mereka yang masuk pada notifikasi dan ODP ini, seharusnya bisa dilakukan pengecekan apakah diantaranya ada yang seharusnya bisa dilakukan pengecekan apakah di antaranya ada yang positif Covid-19 atau tidak. Sebab dengan terindentifikasinya mereka, kita bisa dengan cepat melakukan tindakan sesuai dengan hasil pemeriksaan,” ungkapnya.

Berdasar penyampaian dari dokter ahli, pemeriksaan ODP dan notifikasi dengan menggunakan rapid test belum bisa dijadikan sebagai jaminan seseorang itu positif atau negatif. ”Walaupun tidak bisa dijadikan jaminan, namun keberadaan alat itu saja kita masih minim di daerah. Maka itu saya berharap agar kendala yang dihadapi oleh daerah, terutama oleh Pessel ini, bisa mendapat perhatian provinsi maupun pusat,” harap Handrajoni.

Selain itu pihaknya sudah melakukan upaya masksimal dalam memberikan kenyamanan dan keamanan kepada masyarakat terkait ancaman penularan virus korona. ”Upaya yang dilakukan tidak saja melalui pemeriksaan terhadap suhu orang yang melintas di tapal batas provinsi tetangga karena diberlakukanya pembatasan selektif. Tapi juga melalui penyediaan anggaran Rp 50 miliar melalui APBD. Dana ini bertujuan untuk menunjang kebutuhan medis, serta juga untuk masyarakat miskin yang terkena dampak Covid-19,” ungkapnya.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Pessel, Satria Wibawa menjelaskan secara nasional orang yang positif terinfeksi virus korona (Covid-19) masih terus bertambah. ”Agar bisa dilakukan antisipasi, sehingga perlu dilakukan deteksi dini melalui rapid test,” katanya.
Rapid test adalah metode skrining awal untuk mendeteksi antibodi, yaitu IgM dan IgG, yang diproduksi oleh tubuh untuk melawan virus korona. Antibodi ini akan dibentuk oleh tubuh bila ada paparan virus korona.

Dengan kata lain, bila antibodi ini terdeteksi di dalam tubuh seseorang, artinya tubuh orang tersebut pernah terpapar atau dimasuki oleh virus korona. ”Namun perlu diketahui, pembentukan antibodi ini memerlukan waktu, bahkan bisa sampai beberapa minggu. Jadi, rapid test hanyalah sebagai pemeriksaan skrining atau pemeriksaan penyaring, bukan pemeriksaan untuk mendiagnosa infeksi virus korona,” jelasnya.

Siagakan Petugas di Perbatasan
Sementara itu, pengawasan ketat dilakukan di daerah perbatasan. Setiap orang masuk ke Kabupaten Pesisir Selatan melewati perbatasan baik dari arah Utara Pesisir Selatan-Padang atau bagian Selatan Pesisir Selatan-Bengkulu dan Jambi petugas bakal memeriksa setiap orang dan kendaraan yang melintas. Selain itu pemerintah juga telah menyiapkan lokasi karantina.

Kepala Bagian Humas dan Protokoler Rinaldi Dasar mengatakan lokasi karantina disiapkan di SDN 04 Sako, Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan dan SMK Negeri 1 Kecamatan Silaut.
Dijelaskannya pemerintah provinsi bersama tim Gugus Tugas Covid-19 Pesisir Selatan dan TNI-Polri telah menyiagakan petugas di tiap tapal batas. Sedikitnya, ada 24 orang yang bersiaga dibagi dalam tiga shift.

Masing-masing shif bekerja selama 8 jama. Petugas dilengkapi peralatan yang memadai seperti desinfektan dan juga thermo scanner untuk pengecekkan suhu tubuh. ”Jika ditemukan warga dan pengendara dengan suhu tubuh di atas batas normal, petugas medis langsung memberikan penanganan dan rekomendasi untuk mendapatkan pengobatan lebih lanjut,” ujarnya

Selain memperketat wilayah perbatasan, Gugus Tugas Covid-19 Pesisir Selatan juga telah menyurati seluruh camat, wali nagari (kepala desa) untuk memantau warganya yang baru datang dari zona merah. Kemudian, bekerja sama dengan TNI/Polri melakukan penyemprotan di setiap fasilitas umum seperti sekolah-sekolah, tempat ibadah, rumah sakit, taman kota dan pasar-pasar tradisional. (yon/uni)