Dampak Virus Korona, Harga Komoditi Ekspor Anjlok

Gambir.

Harga sejumlah komoditi ekspor terpantau anjlok, sejak satu minggu terakhir di sejumlah daerah di Sumbar. Hal ini diduga pengaruh penyebaran virus korona di Sumbar.

Seperti petani di Kabupaten Pesisir Selatan mengeluhkan anjloknya harga sejumlah komoditi di daerah tersebut. Seperti getah gambir dengan kadar air 18, sebelumnya Rp17 ribu, kini turun Rp10 ribu per kilogram. Pinang kering mengalami penurunan harga yang sebelumnya Rp 14 ribu per kilogram, kini turun ke Rp 10 ribu. Sementara harga karet, sebelumnya masih Rp 8 ribu, kini hanya bergeming di bawah Rp 6 ribu per kilogram.

Sabarudin, 45, warga Duku Kecamatan Koto XI Tarusan mengungkapkan, turunnya harga sejumlah komoditi ini mengakibatkan lemahnya penghasilan petani. Apalagi, bagi petani yang menjadikan komoditi ini sebagai penghasilan pokok.

Senada dengan Anton, 28, petani gambir di Kecamatan Sutera berharap kepada pemerintah untuk segera memperhatikan ini. Sebab, di tengah wabah korona harga komoditi turun akan membuat petani menjadi lebih sulit.

Sementara, Ujang, 43, pengumpul getah gambir mengaku, rata-rata beberapa komoditi mengalami turun harga karena akibat sebagian perusahaan tutup. Karena tingginya harga jual petani, sebagian tauke terpaksa membeli dengan harga murah. “Kalau tidak dibeli kita kasihan sama petani. Karena di Padang sendiri sedang tutup. Jadi saat ada yang masih menjual, kami hanya bisa mengambil dengan harga kondisi itu,” ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian, Holtikultura dan tanaman Pangan Pesisir Selatan Nuzirwan menjelaskan semenjak virus korona melanda, harga komoditi pertanian di Pessel juga ikut berdampak. Baik tanaman pangan, komoditi perkebunan dan lainnya. Karena petani harus bijak dalam mengelola hasil pertaniannya.

“Kita belum mengetahui apa langkah yang bisa lakukan sekarang. Semoga virus korona bisa segera hilang dan ekonomi masyarakat kembali mengeliat,” ujarnya.

Harga Pinang Anjlok

Harga komoditi pinang kering di Solok Selatan (Solsel) menalami penurunan drastis, biasanya Rp10 ribu sekilo sekarang hanya dihargai Rp4 ribu per kilogram. Terjadinya penurunan harga tersebut, semenjak wabah korona terjadi di Indonesia. Sehingga daya tampung menipis yang membuat harga anjlok di kalangan tauke.

“Biasanya kami jual Rp 10 ribu per kilogram, tapi sekarang sudah Rp 4 ribu. Nah, kalau korona terus memapar bisa-bisa turun lagi,” kata Desi Suriani kepada Padang Ekspres, Jumat (3/4).

Ia mengatakan, dengan terjadinya peurunan harga pinang kering tentu saja pendapatan petani berkurang. Belum lagi upah panjat, kemudian melalui proses pembelahan, pencongkelan isi dan mengeringkan. Apalagi dengan kondisi ekonomi yang sudah terimbas virus korona, sehingga buah pinang sering dicuri orang.

Afri, tauke pinang mengatakan, penurunan harga pinang di Solsel akibat pasokan pinang belum bisa diekspor atau dijual pemasok ke luar Sumbar. Hal ini pengaruh wabah korona yang tengah menghantui masyarakat.

Harga Karet Terus Jatuh

Sedangkan harga getah karet yang selama ini menjadi komoditi utama di Sijunjung, merosot hingga menyentuh Rp 4.000 per kilogram. Sebagaimana diketahui, virus korona saat ini tengah menjadi wabah nasional, tidak terkecuali di Provinsi Sumatera Barat.
Jumlah korban terus bertambah, dan sebarannya berpotensi merambah hingga pelosok-pelosok daerah. “Harga karet turun drastis menjadi Rp 4.000 per kilogram,” ujar Edi Katik, warga Muaro Sijunjung, kemarin.

Bahkan, getah karet yang diproduksi warga dari kebunnya tidak pula terjamin bisa dijual ke tauke, malah para tauke banyak menolak membeli. Dengan alasan pihak perusahaan karet di Kota Padang menutup usahanya, maka dengan hati kecewa tauke-tauke Sijunjung terpaksa kembali pulang membawa barang dagangannya.

Hal senada juga diungkapkan Pono ,65, petani penyadap karet di Jorong Tangah, Nagari Muaro, Kecamatan Sijunjung. Harga karet anjlok, sehingga pihaknya semenjak sepekan terakhir terpaksa memutuskan berhenti menyadap karet. Guna memenuhi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari ia banting stir menjadi buruh harian (kuli bangunan). (*)