Masjid Terapung Samudera Ilahi Painan Viral Gara-gara Retribusi Wisata

194

Sebuah video beredar di faceebook yang mengungah ketika salat di Masjid Terapung Pantai Corocok dipunguti restribusi.

Sebuah video yang diunggah akun facebook Herdy Anto tersebut, mempertanyakan ketika harus membayar retribusi masuk Masjid Terapung Samudera Ilahi Painan, Pesisir Selatan. “Ketka sholat harus membayar, apakah mesjid tempat wisata?” tulisnya di beranda facebook-nya pada Kamis (13/5/2022).

Kemudian, ia menambahkan, sudah begitu banyak yang komplain karena membayar 5.000 rupiah untuk pergi salat di Masjid Terapung Pantai Carocok Painan itu.

Bahkan, ketika mau masuk kawasan masjid sudah dibilang mau salat, tetap saja dimintai uang, dengan alasan memasuki kawasan wisata.

Letak tenda pemungutan uang, lanjutnya, retribusi wisata yang kemarin di sebelah masjid sekarang jadi pindah ke depan masjid, sehingga setiap tamu yang masuk mesjid harus membayar.

“Penjelasan dari petugas, ini perintah dari Bupati Pesisir Selatan, silakan komplain ke bupati,” ujar Herdy menirukan kata petugas.

Tanggapan Kadispar PesselĀ 

Menanggapi hal tersebut, Kepada Dinas Pariwisata Pesisir Selatan Suhendri Zainal mengatakan, retribusi tersebut bukan retribusi masuk masjid, itu adalah retribusi masuk kawasan destinasi wisata.

“Kebetulan, lokasi yang memungkinkan, agar tidak ada kebocoran, yang tidak bisa orang bermain di sekitar situ (lokasi masjid),” kata Suhendri kepada awak media, Jumat (13/5/2022).

Baca Juga:  Pasangan Suami Istri Diamankan, Kedapatan Konsumsi Sabu

Ia menambahkan, pada jam tertentu waktu salat Zuhur, Asar dan salat Jumat, digratiskan untuk masuk. “Orang kan kadang-kadang datangnya jam 10 pagi, atau jam 3 sore dan bahkan ada yang bercelana pendek katanya mau salat?” ujarnya.

Ia menyebutkan, masjid ini dibangun sebagai salah satu daya tarik objek wisata di pantai Carocok. “Sekali lagi retribusi itu masuk kawasan wisata, yang diviralkan itu seolah masuk masjid bayar,” ujarnya.

Suhendri mengungkapkan alasan melakukan pemungutan retribusi di depan masjid. “Kenapa di sana posisinya, karena kita belum ada pagar untuk semua kawasan itu, untuk menghindari kebocoran pendapatan asli daerah (PAD), menghindari orang bisa menggendong melalui pintu-pintu tikus itu, di sana bisa kita tutup peluang sekalian bisa meningkatkan PAD,” kata dia.

“Kalau orang memang mau salat Asar misalnya, atau mau salat Zuhur, dia mau salat zuhur tetapi datang sudah jam setengah tiga kita akomodir juga, tidak semua yang seperti itu,” pungkasnya. (*)