Masalah Pembagian BLT, Kantor Walnag Dirusak dan Disegel 

Sejumlah fasilitas kantor wali nagari Tanah Bakali terlihat rusak parah.

Aksi protes terhadap penyaluran bantuan sosial bagi warga terdampak Covid-19 terus terjadi di Kabupaten Pesisir Selatan. Setelah aksi dan pengrusakan terjadi di kantor wali nagari Kambang Utara, Lengayang beberapa waktu lalu.

Aksi serupa terjadi kembali di dua nagari lainnya. Kejadian pertama terjadi di Nagari Tanah Bakali Kecamatan Airpura, kemarin. Puluhan warga yang namanya tidak masuk dalam daftar penerima bantuan langsung tunai (BLT) melakukan aksi protes di kantor wali nagari setempat sekitar pukul 10.30.

Aksi protes yang awalnya berjalan tertib itu kemudian berujung pengrusakan terhadap kantor nagari tersebut. Puluhan warga yang sebagian besar berasal dari kalangan emak-emak itu menerobos masuk kantor.

“Sebagian besar warga yang datang terlihat tersulut emosi, sebab namanya tidak tercantum sebagai penerima BLT Covid-19. Dan mereka mengaku juga merasa berhak,” ungkap Ujang Fadhil, 45, salah seorang warga yang ada di lokasi, kemarin (15/5).

Katanya, saat berada di dalam kantor wali nagari, warga mengacak-acak meja dan lemari sambil mengeluarkan berbagai dokumen yang tersimpan. “Mereka itu terlihat mencari kartu keluarga (KK) yang sebelumnya sudah diberikan kepada perangkat nagari. Sebab percuma memberikan KK bila tidak ada hasilnya,” kata Ujang.

Sementara itu, Wali Nagari Banda Bakali, Junaidi, dihubungi membenarkan peristiwa itu. Ia menjelaskan pembagian BLT yang dilakukan Jumat (15/5) adalah bantuan dari Pemkab Pessel.

“Karena situasi yang tidak memungkinkan, sehingga pembagian BLT yang bersumber dari APBD itu dihentikan penyalurannya untuk sementara waktu sambil mencari solusi. Penghentian itu sudah diketahui oleh bapak camat. Pasalnya, beliau cepat datang ketika aksi warga masih berlangsung,” ungkapnya.

Camat Airpura, Muktar Is, menyampaikan, penghentian penyaluran sementara itu merupakan upaya yang tepat dilakukan. Sebab situasi terlihat sudah tidak kondusif lagi. “Aksi protes itu terjadi kerena diduga ada oknum yang mengompori mengatakan kalau yang menerima BLT dampak Covid-19 ketika itu ada yang dari PNS, orang kaya yang memiliki mobil dan rumah bagus. Padahal setelah ditelusuri tidak ditemukan kondisi seperti itu,” tuturnya.

Ia jugamenyayangkan puluhan warga yang memasuki wali nagari merusak meja, kursi dan lemari, serta mengacak-acak semua dokumen yang ada. “Beruntung situasi bisa ditenangkan karena ketika mereka yang tidak terdata sebagai penerima BLT, disuruh kembali mengumpulkan kartu keluarganya,” ujarnya.

Selanjutnya, pihak nagari dan kecamatan akan melakukan koordinasi dengan Pemkab Pessel. Sebab dari 800 KK yang ada di nagari itu, yang tercatat sebagai penerima BLT Covid-19 hanya sebanyak 350 KK. Dari jumlah itu, sebanyak 93 KK adalah penerima BLT kabupaten. Dari sepuluh nagari di kecamatan itu, sembilan nagari penyaluran BLT-nya sudah berjalan aman dan lancar.

Segel Kantor

Sementara itu aksi serupa juga terjadi kantor wali nagari Inderapura. Kantor tersebut dipalang atau disegel oleh warga kemarin. Aksi pemalangan kantor wali nagari itu dilakukan oleh oknum masyarakat di Nagari Inderapura Tengah Kecamatan Pancungsoal. Aksi itu dilakukan karena sebagian warga kecewa tidak tercatat sebagai penerima BLT terdampak Covid-19.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPMDP2KB) Pessel, Wendi membenarkan peristiwa itu. Ia mengatakan pihaknya melakukan rapat mencari solusi terhadap masalah tersebut.

“Saat ini kami melakukan rapat terkait aksi pemalangan yang dilakukan oleh oknum masyarakat di Nagari Inderapura Tengah Kecamatan Pancungsoal itu. Sebab aksi itu akan mengganggu kelancaran pelayanan pemerintahan di tingkat nagari,” katanya.

Berdasar laporan yang diterima, aksi itu juga diduga dipicu oleh persoalan bantuan BLT Covid-19. “Sebab diduga ada warga yang patut mendapatkan, tapi tidak tercatat sebagai penerima. Kita berharap masyarakat bisa menahan diri dengan tidak melakukan perbuatan yang bisa merugikan masyarakat itu sendiri. Sebab tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan bisa dihadapi dengan kepala dingin,” pungkasnya. (yon)