Masjid Al Imam Kotobaru Kambang, Jadi Lambang Kesatuan Agama dan Adat

224
Masjid Al Imam Koto Baru, Nagari Kambang, Kecamatan Lengayang, Pesisir Selatan. (IST)

Sebagai masjid tertua di Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Masjid Al Imam Koto Baru yang terdapat di Pasar Kamis Nagari Kambang hingga saat ini masih berdiri kokoh.

Walau telah beberapa kali melakukan renovasi, namun keaslian bangunan dan ornamen Masjid Al Imam Koto Baru tetap dijaga dan dipertahankan. Kehadiran masjid ini di masa lalu, juga tidak hanya sekadar tempat untuk melaksanakan ibadah.

Namun, juga difungsikan sebagai tempat bermusyawarah bagi masyarakat Nagari Kambang dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang terjadi, termasuk juga persoalan-persoalan ekonomi.

Masjid yang dibangun pada tahun 1926 itu, informasinya dirancang insinyur asal Belanda dan Tiongkok dengan perpaduan gaya Timur Tengah dan Eropa. Karena tidak pernah dirombak sejak mulai berdiri, sehingga Dinas Kepurbakalaan menjadikan masjid itu sebagai cagar budaya.

“Jika secara umum masjid hanya digunakan atau difungsikan sebagai tempat ibadah, namun di Koto Baru Nagari Kambang, Masjid Al Imam ini juga menjadi lambang kesatuan agama dan adat,” ungkap Saswin SPd MM, ketua Masjid Al Imam Koto Baru kepada Padang Ekspres saat berkunjung, kemarin (15/4).

Hal itu dijelaskannya seperti tertuang dalam tambo adat nagari setempat yang hingga saat ini masih tetap terwarisi dengan sebutan “Masajik limo, koto sambilan, imamnyo di Koto Baru.”

Dia juga menjelaskan bahwa penanganan Masjid Al Imam secara fisik memang berbeda dengan masjid lainnya di nagari itu. Tujuannya agar keaslian bangunan tetap terjaga karena masuk sebagai cagar budaya.

“Selama bulan Ramadhan ini banyak kegiatan keagamaan yang dilakukan di masjid ini. Saya katakan demikian, sebab setelah Shalat Tarawih, murid TPA dan TPSA di kampung ini seperti biasa melaksanakan kegiatan tadarus,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa Masjid Al Imam juga sudah jauh lebih unggul dibanding masjid-masjid lainya di nagari itu. Hal itu dikatakannya, sejak berdiri 1926 masjid itu telah memiliki sejumlah fasilitas utama. Di antaranya, ruang shalat yang nyaman, perpustakaan, termasuk juga TPA/TPSA, di samping juga tempat wudhu, parkir dan lainnya.

Baca Juga:  Raih Keberkahan, BNI Sungai Penuh Berbagi Sembako

Wali Nagari Kambang Irmawardi ketika dihubungi Padang Ekspres menjelaskan bahwa hal tersebut memang memiliki peranan sangat strategis di masa lalu. Dikatakan demikian, sebab selain sebagai tempat ibadah dan syiar agama, juga sebagai tempat untuk memecahkan berbagai persoalan ekonomi warga Nagari Kambang. “Karena peran yang strategis itu, sehingga masjid ini selalu ramai dikunjungi setiap hari, termasuk juga di bulan Ramadhan ini,” ujarnya.

Diungkapkannya juga bahwa di masjid itu sekarang masih tersimpan kitab-kitab kuning lama, kitab-kitab al-Umm, al-Mujmu’Syarah Muhazzab, Irsadus Sari Syarah Shahih Bukhari, Syara Ihya (Itihaf Sadatil Muttaqin), Tuhfutul Muhtaj, dan lain-lainnya. Beberapa kitab itu, jelas Irmawardi, cuma dipesan atau dibaca oleh peminat-peminat khusus seperti santri pondok pesantren, dan para guru-guru agama dan lainnya.

Dia menambahkan bahwa masjid yang memiliki bentuk bangunan yang unik dan sangat menarik itu, menurut ceritanya dirancang oleh insinyur Belanda dan China dengan perpaduan gaya Timur Tengah dan Khas Eropa.

Karena keasliannya masih tetap terjaga, sehingga bila kita berkunjung dan memasuki ruang masjid seakan kita berada di masa lalu. Kubahnya antik dan menarik berupa payung besar, memiliki arti tigo payuang sakaki. “Tigo payuang sakaki adalah struktur adat yang tidak lekang hingga kini dan lekat dengan bangunan itu. Kemudian reliefnya juga sangat menarik perhatian yang menggambarkan jika masyarakat Kambang sangat menjaga seni dan keindahan,” tutupnya. (yon)

Previous articleTindak Tegas Pelaku Penistaan Agama
Next articleVaksinasi April-Mei Aman, Vaksin Nusantara Dinilai Berisiko