Petani Masih Terbiasa Bakar Jerami, Sebabkan Polusi Udara

76
ilustrasi seorang petani tengah membakar jerami usai panen.(NET)

Pencemaran lingkungan dan polusi udara tidak saja bisa disebabkan oleh limbah dan asap pabrik. Tapi juga oleh ulah masyarakat karena kebiasaan membakar jerami setelah musim panen.

Ancaman pencemaran udara melalui pembakaran jerami itu berpotensi bisa terjadi di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel). Sebab Pessel merupakan salah satu daerah di Sumbar yang memiliki lahan pertanian yang cukup luas.

“Agar kekhawatiran itu tidak sampai terjadi, maka kepada petani diminta untuk menghilangkan kebiasaan membakar jerami tersebut setelah musim panen,” ungkap

Kepala Plt Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pessel, Beny Rizwan, Selasa (20/1).
Dijelaskannya, sebagai daerah pertanian, kesadaran masyarakat petani Pessel untuk menjaga lingkungan agar terhindar dari pencemaran udara juga perlu terus ditingkatkan.

“Sebab jika kebiasaan membakar jerami setelah panen tidak ditinggalkan, pencemaran udara akan masih tetap terjadi di daerah ini. Dari itu lakukanlah penanganan jerami dengan baik dan tidak dibakar,” katanya.

Dia mengakui, pihaknya melalui petugas akan terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar terus meningkatkan kesadaran menjaga lingkungan supaya terhindar dari pencemaran.

Baca Juga:  Sekjen Bawaslu RI Lantik Rinaldi Jadi Kepala Sekretariat Bawaslu Pessel

“Karena potensi pencemaran udara akibat perilaku pembakaran jerami cukup tinggi. Sehingga sosialisasi kita tingkatkan. Sebab sangat disayangkan rasanya udara sejuk dan bersih yang kita banggakan di perdesaan, tercemar akibat pembakaran,” ungkapnya. (yon)