Usulan Ganti Nama Puncak Paku jadi Puncak Jokowi Tuai Penolakan

941

Masyarakat Mandeh, khususnya yang tinggal di Sungai Nyalo Mudiak Aia, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) menolak rencana Bupati Pesisir Selatan Rusma Yul Anwar yang akan mengubah nama “Puncak Paku” di kawasan wisata Mandeh dengan nama “Puncak Jokowi”.

“Penamaan suatu jalan atau kawasan di Mandeh ini memiliki cerita dan nilai sejarah tersendiri. Jadi, masyarakat sangat terkejut ketika ada rencana Bupati mengubah nama “Puncak Paku” menjadi “Puncak Jokowi,” ujar salah seorang tokoh pemuda di kawasan Mandeh Alesandro Satri, Jumat (23/4/2021).

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sei Nyalo Mudiak Aia itu mengatakan bahwa “Puncak Paku” selama ini sudah menjadi Ikon bagi wisatawan ketika ke Mandeh. Pemberian nama Puncak Paku itu juga ada sejarahnya sehingga diceritakan masyarakat kepada wisatawan yang berkunjung,” katanya.

Diceritakannya, penamaan Puncak Paku karena dulunya di daerah itu banyak ditanami tumbuhan paku liar. Begitu pula penamaan kawasan lain di Kawasan Mandeh seperti Kapo-Kapo karena di lokasi itu dulu banyak ditanami pohon Kapo.

“Kita berharap rencana bupati mengubah nama “Puncak Paku” menjadi “Puncak Jokowi” dibatalkan karena merusak tantanan sejarah yang telah ada. Kalau ingin bikin nama di tempat lain saja yang punya landasan sejarahnya,” tegas pegiat wisata yang akrab disapa Satri ini.

Terpisah, Sejarawan dari Universitas Negeri Padang (UNP) Dr Siti Fatimah memahami penolakan dari masyarakat terhadap usulan perubahan nama itu.

Menurutnya usulan mengubah nama itu keputusan yang kacau dan tidak mengacu pada sejarah. Bahkan, kata Siti Fatimah, penamaan di lokasi tersebut justru bisa merendahkan nama Jokowi.

Nama “Puncak Paku” diberikan ketika itu berdasarkan sejarah. “Dulu di sepanjang jalan Mandeh dekat puncak itu, tidak bisa dilewati karena penuh dengan paku ransam. Tempat yang banyak paku ransam ya ada di puncak itu. Makanya diberi nama “Puncak Paku”,” jelas Siti Fatimah.

Dekan FIS UNP yang sudah lima tahun meneliti di kawasan wisata Mandeh ini menjelaskan bahwa paku rancam adalah sejenis paku liar. Banyak tumbuh di sana karena sesuai dengan alam dan tekstur tanahnya. “Hanya itu (paku rancam) yang bisa tumbuh di sekitar puncak itu,” imbuhnya.

Meski demikian, kalau memang pemerintah kabupaten Pesisir Selatan ingin memberikan nama Jokowi juga, lebih tepatnya di sekitar pantai dekat Jokowi meresmikan Kawasan Wisata Terpadu Bahari (KWBT) Mandeh.

Baca Juga:  Tinjau Pos Penyekatan Batas Bengkulu, Bupati Serahkan Paket Makanan

“Kalau saya lebih cocok di pantai, tempat Pak Jokowi meresmikan KWBT Mandeh dulu. Bisa dibikin Pantai Jokowi, keren. Sekarang sudah ada amphiteater dan rencananya Komandan Lantamal II Padang juga akan membuat pusat olahraga bahari di sana. Ada sejarahnya Jokowi ke sana,” kata Siti Fatimah yang akrab disapa para pegiat pariwisata Bundo Fat ini.

Ke depan, diharapkan dalam mengambil keputusan berkaitan dengan penamaan suatu tempat agar dibahas atau didiskusikan dengan orang yang ahlinya, seperti mengerti sejarah sehingga nantinya ada literasi atau cerita bagi para pengunjungnya.

“Makanya bertanya ke ahlinya dalam mengambil kebijakan. Saat ini saja, beberapa mahasiswa S3 saya membuat disertasi tentang Mandeh,” ujarnya.

Jenis batu di Mandeh itu saja, kata Siti Fatimah, telah diteliti oleh dosen S3 Ilmu Lingkungan. “Begitu juga dengan persoalan sosial dan budaya di sana. Banyak. Jadi, semua tempat itu ada sejarahnya. Begitu juga dengan kenapa kawasan itu diberi nama Mandeh, Pulau Setan, dan lainnya termasuk Puncak Paku,” papar Siti Fatimah.

Pegiat Pariwisata Mandeh, M Zuhrizul mengatakan sebaiknya pemerintah daerah lebih memikirkan hal substansi yang dihadapi sektor pariwisata di Sumbar hari ini, dibandingkan mengubah nama yang sudah ada dan punya sejarah.

“Kita ini sukanya mengusutkan yang sudah selesai. Habis energi kita. Sementara pariwisata seperti ini juga. Bagaimana bisa maju-maju. Sampah, sanitasi, kasar dan kesemrawutan adalah wajah pariwisata kita hari ini. Seharusnya ini fokus diselesaikan bersama,” kata Zuhrizul.

Pegiat Wisata Mandeh lainnya, Mabruri Tanjung juga sependapat. Menurutnya, seharusnya fokus menyelesaikan hal-hal substansial, persoalan dasar yang dihadapi pariwisata.

Sebelumnya, seperti diberitakan media, ide Bupati Pessel Rusma Yul Anwar mengubah nama “Puncak Paku” jadi “Puncak Jokowi” disampaikan saat menerima kunjungan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno ke Pessel, Jumat (23/4/2021). Alasannya, tidak lepas dari kepeduliaan Presiden Jokowi pada tahun 2015 lalu yang mencanangkan KWBT Mandeh.

Rusma Yul Anwar mengatakan, tidak ada maksud lain, kecuali untuk mendongrak kunjungan wisata dan kepentingan daerah.(elf/esg)

Previous articlePeringati Hari Buku Sedunia, Mahasiswa Dituntut Aktif Menulis-Membaca
Next articleIni Usulan Penamaan Jokowi di Mandeh yang Dinilai Warga Tepat & Keren