Diterjang Banjir-Longsor, Padang-Painan Lumpuh

36
Ruas Jalan Nagari Kotorawang menuju Salido Ketek di Kecamatan IV Jurai, Pessel, terban akibat hujan lebat yang melanda kawasan itu, kemarin (23/9). Tak ada korban jiwa dalam musibah ini. (IST)

Arus kendaraan Painan-Padang maupun sebaliknya, lumpuh total. Menyusul, terjadinya banjir di ruas Jalan Painan-Padang, tepatnya di Sigunturmudo, Kecamatan Koto XI Tarusan, Pesisir Selatan (Pessel). Banjir yang dipicu hujan lebat ini, juga memicu terjadinya longsor dan jalan terban di sejumlah titik di Pessel.

”Arus kendaraan dari Padang menuju Painan lumpuh total, demikian juga sebaliknya. Hingga saat ini banjir belum mereda,” ujar Kasi Kedaruratan BPBD Pessel, Hasnul Karim kepada Padang Ekspres, di Painan, kemarin (23/9).

Hasnul menyarankan kepada masyarakat yang hendak menuju Padang agar tidak terjebak longsor, untuk sementara diundur dulu perjalanannya. Sebab, beberapa titik antara perbatasan Pessel dengan Padang juga rawan longsor.

”Hujan deras juga membuat beberapa titik ruas jalan di Kampung Kotoranah di Kecamatan Bayang Utara tertimbun longsor setinggi dua meter. Kendati tak menimbulkan jatuhnya korban jiwa, namun akses jalan menuju Pancuangtaba pusat pemerintahan nagari kampuang itu menjadi terisolasi,” katanya.

Menurut dia, pihaknya bersama petugas Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) sudah berkoordinasi terkait upaya perbaikan dan penanganan terhadap beberapa titik jalan yang tertimbun longsor tersebut.

”Sebab selain di Kotoranah, sebagian ruas jalan juga terban ke sungai di Nagari Kotorawang, Kecamatan IV Jurai. Hal ini membuat akses jalan menuju Kampung Salido Ketek tidak bisa dilalui kendaraan roda empat, kecuali sepeda motor. Namun, kita khawatir bila sungai masih terus meluap akibat hujan deras yang masih terus mengguyur, semua badan jalan akan benar-benar bisa terban ke dalam sungai,” ungkapnya.

Banjir, tambah Hasnul, juga terjadi di Kampung Jalamu, Kecamatan Batangkapas dan beberapa nagari lainnya di daerah itu. “Terkait berapa kerugian materi yang diakibatkan banjir, longsor, dan jalan terban ini, belum bisa saya jelaskan. Yang pasti, hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa akibat bencana ini,” jelasnya.

Sejumlah titik permukiman warga di Kota Painan juga terkepung banjir. “Kami warga Rawang Painan, Nagari Painan, juga kebanjiran,” ungkap Mario, 36, kepada Padang Ekspres. Di sini, genangan air mencapai lutut orang dewasa.

Baca Juga:  Keterbukaan Informasi Pessel Tertinggi, Nofal: Bumikan Hak untuk Tahu

”Khusus di Jalan Pagaruyung, tepatnya di belakang RSUD dr M Zein Painan, genangan air sudah setinggi paha orang dewasa. Semua barang-barang elektronik dan perabotan lainnya, terpaksa kami tinggikan,” jelas Mario lagi.

Banjir yang juga dirasakan warga Kampung Muaro, Nagari Painan Selatan. “Walau banjir sudah mencapai tinggi 50 cm masuk rumah warga, namun belum terlihat ada tanda-tanda akan surut. Walau begitu, kami kami masih bertahan dalam rumah,” kata Wardi, 45, warga Kampung Muaro Painan.

Sejumlah Titik Rawan Bencana
Tingginya curah hujan juga terjadi di wilayah Sijunjung, juga memicu terjadinya pohon tumbang. Masyarakat diminta untuk meningkatkan kewaspadaannya. Seperti terjadi pada Senin (22/9) lalu, pohon tumbang terjadi di Tanahbadantung, Kecamatan Sijunjung, sebuah sepeda motor milik warga ikut tertimpa sehingga mengalami rusak berat. Mujur, tidak ada korban jiwa dalam musibah ini.

Sebelumnya, tanah longsor terjadi di pinggir jalan utama Sumpurkudus. Akibatnya, akses jalan kecamatan yang menghubungkan empat nagari itu sempat terputus selama lebih empat jam. Untuk dapat kembali dilewati kendaraan, tim gabungan TNI, Polri, dan BPBD turun ke lapangan melakukan proses pembersihan.

”Hingga kini curah hujan masih tinggi di wilayah Sijunjung, maka masyarakat harus selalu waspada. Terutama, bagi yang bermukim di dekat tebing, pinggir sungai, serta pekarangan banyak permohonan,” ujar Kepala BPBD Sijunjung, Henri Chaniago, Selasa (23/9).

Di antara kawasan rawan bencana adalah, Nagari Silokek, Sumpurkudus, Paru, Duriangadang, Tanjunggadang, Muarotakung, serta Kamangbaru. Disusul, sebagian titik di Nagari Muaro yang tak lain ibu Sijunjung sendiri.

Sejumlah aliran sungai di beberapa nagari berpotensi meluap jika curah hujan terus tinggi di wilayah itu. Seperti beberapa waktu lalu, luapan air sungai di kawasan Koto VII melanyau areal pertanian, dan merusak sebuah fasilitas jembatan.

Sementara, ruas Jalan Muaro-Silokek, setiap musim hujan selalu langganan longsor, plus aliran Batang Kuantan sewaktu-waktu turut meluap. “Karena faktor alam dan topografi berlembah, berbukit-bukit, titik rawan bencana di wilayah Sijunjung cukup banyak. Makanya warga masyarakat perlu untuk selalu waspada,” tegas Hendri. (yon/atn)